Vote-komen jangan lupa!
BANYAK TYPO!!.
BANYAK KATA-KATA KASAR!
Enjoy:)
***
Boruto berdecak sebal sambil memaki dirinya sendiri, disaat sepeti ini malah hujan dan bodohnya lagi ia memakai motor karena terburu-buru.
Boruto menatap hpnya berusaha terus menghubungi sarada, namun nomer gadis itu tak bisa dihubungi.
"Bangsat!"kesalnya.
Drtt...
Drtt...
Boruto mengangkat telpon yang tertera nama 'shikadai' disana. Ah, padahal ia sudah berharap kalau itu telpon balasan dari sarada.
"Lo dimana, kata inojin lo buru-buru pergi karena sarada. Kenapa dia?"
"Gak usah telpon kalo gak penting!"
"Jangan goblok, tenang dulu. Lo kalo panik kenapa jadi orang goblok sih"
"Lo dimana sekarang? Kita cari bareng-bareng"
"Gue kirim alamatnya"
Boruto mematikan telponnya dan mengirim alamatnya saat ini ia berada.
"Boruto"
Lelaki itu menoleh melihat seorang gadis berlari mendekat kearah halte tempat ia berteduh.
"Kebetulan banget kita ketemu disini. Gue mau ngomong sesuatu sama lo"ucap gadis itu.
Boruto menatapnya tak minat, ia sedang tak minat berbasa-basi apalagi dengan seorang gadis.
"Ini tentang sumire sama kagura"ucap wasabi.
Boruto menoleh dengan wajah penasaran. Tiba-tiba saja nama sumire dan kagura disebut tentu saja membuatnya semakin penasaran.
"Apa?"
Wasabi menarik napas sebelum menjelaskan."pertama-tama, gue mau minta maaf karena sempat terlibat"
"Gue gak tau ini terlambat apa nggak, tapi kejadian video yang dulu itu suruhan sumire. Sumire udah rencanain ini semua, awalnya dia rasa ia berhasil bikin sarada dibully tapi nyatanya lo masih ada dipihak sarada waktu itu dan lo malah gak noleh ke dia sedikit pun"
"Lo inget, lo pernah bayarin hutang nya sumire? Dan lo tau gak kenapa hutangnya banyak banget? Sebenernya dia gunain buat beli barang-barang mewah buat dia kerja"
"Dia selalu bilang kan kalo dia kerja di caffe depan club, sebenarnya sumire kerja di club itu bukan di caffe depannya dan kerja di club malem seperti itu kan harus selalu punya baju bagus"
Wasabi menoleh menatap raut wajah kesal boruto, jujur saja ia takut untuk melanjutkan kata-katanya namun untuk sekarang ia harus karena ia tak ingin kembali terlibat dengan urusan sumire.
"Oh ya, tentang kagura. Dari dulu dia itu sebenernya emang ada dendam sama lo, awalnya emang dia biasa aja gak terlalu mau ribut tapi sumire ngajak kagura kerja sama setelah kagura ditolak sarada. Kagura tau kalo sarada itu suka sama lo dari sumire dan dari situ dia makin dendam sama lo, makannya dia mau terima tawaran itu. Kagura sempet ngajak araya, karena araya itu orang yang pernah ditolak sarada juga, tapi araya nolak ajakan kagura karena dia udah pernah ribut sama lo kan? Jadi dia gak mau ada urasan lagi, kagura sama araya sempet ribut juga kok karena waktu ketemu sumire, kagura mukanya banyak luka"
"Tapi jangan salah dulu, sumire gak segampang itu bikin kagura mau kerjasama. Sumire itu relain tubuhnya buat kagura, ya bisa dibilang perjuangan sumire buat dapetin lo itu udah gila-gilaan"ucap wasabi.
"Mungkin lo bingung gue tau dari mana info ini, tapi gue itu orang yang selalu sumire ajak-ajak setiap ketemu kagura. Ya dia ngajak gue bukan sekedar ngajak. ya, apa lagi kalo bukan buat dimanfaatin. Tapi gue udah muak sama ancaman dia dan gue juga udah gak perduli soal ancaman itu"
Boruto mengepalkan tangannya kesal. Jadi, selama ini ia dihasut oleh sumire?
"Lo pernah dikirimin foto sarada sama kagura? Itu foto yang di edit, sumire pinjem duit ke gue buat bayar jasa edit makannya editannya keliatan bagus banget"
Boruto menarik kerah baju wasabi dan mematapnya tajam."BANGSAT! KENAPA?! KENAPA LO BARU KASIH TAU GUE SEKARANG??!!!"
bodoh, boruto memang bodoh. Ia lebih percaya foto editan itu dari pada sarada.
"DIMANA SARADA SEKARANG?!"teriak boruto.
"JAWAB GUE, BANGSAT??!"
Wasabi memukul pelan tangan boruto yang memegang bajunya, meminta dilepaskan. Boruto melepaskannya dengan kasar hingga gadis itu mundur beberapa langkah.
"Gue gak tau, gue tak tau sarada dimana. Gue udah gak kontakan sama sumire lagi, gue udah memutuskan gak mau kenal dia lagi"
"Sumire itu lebih bahaya, bahkan dulu dia pernah pacaran sama om-om yang ada di club, tapi di labrak sama istrinya. Sumire deketin lo cuma karena uang, selebihnya dia gak perduli"
"ARGHH! GAK GUNA, BANGSAT!"boruto menetralkan napasnya lalu mengusap rambutnya kasar. Perasaan bersalah, sedih, cemas menjadi satu sekarang.
"Kalian bangsat!"kesal boruto.
💚💚💚
Boruto mengendarai motornya dengan kencang, tak perduli hujan atau apapun. Ia hanya harus menemukan sarada, gadis itu pasti sedang bersama kagura sekarang.
Bodoh, ia tak dari tadi berpikir untuk melacak hp sarada. Untung saja wasabi memberinya saran, dan tentang shikadai? Biarkan saja lelaki itu mencarinya, ia tak perduli. Untuk sekarang adalah sarada terlebih dahulu.
Boruto menghentikan motornya saat melihat gadis yang sedang tergeletak dijalan dengan darah yang mengotori pakaianya.
Brak...
Lelaki itu membanting motornya, dan berjalan mendekat secara perlahan.
Lututnya terasa lemas tak percaya melihat hal didepannya. Sarada tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir.
Plak...
Boruto menampar dirinya sendiri berharap ini adalah mimpi. Ya, ini pasti mimpi. Sarada pasti sedang tidur nyenyak dirumah chochou. Gadis dengan banyak darah itu pasti bukan sarada.
Namun,
Didepannya adalah hal yang nyata. Sarada tergeletak dijalan dengan darah dan dibasahi air hujan.
"Sara...da"
Lelaki itu berlari dengan cepat dan memangku kepala sarada sambil menepuk pipi gadis itu yang terasa dingin.
"Sarada"
"Saradaa"
"Sarada, bangun. Hey, jangan ginii sarada"
"Gak, jangan tinggal gue, sar. Ayo bangun, gue belum minta maaf. Sarada, ayo bangun"
"Ayo bangun, sarada"boruto mengusap darah yang ada diwajah sarada dengan lembut.
Goblok, ini semua terjadi karena nya. Awal mula masalah adalah dirinya. Cemburu sialan!
"Boruto udah dateng, sarada. Jangan bikin boruto sedih, ayo bangun"
"Sarada..."
"Ayo bangun sarada, boruto sedih"
Lelaki itu meneteskan air matanya tanpa diminta. Ia menangis ketakutan, bagaimana kalau sarada pergi meninggalkannya?? Tidak-tidak itu tak mungkin terjadi.
Boruto mengusap wajahnya yang basah karena air hujan. Bodoh, ia tak membawa mobil. Lelaki itu menatap sekitarnya. Mengapa, mengapa gadis ini ada ditempat sepi seperti ini?
Tin...
Boruto menatap mobil yang menyorotnya dengan lampu.
"Tolong!"lirih boruto.
"Tolongin sarada"
Shikadai dan mitsuki menghampirinya menggunakan payung.
"GOBLOK, BAWA MASUK MOBIL CEPET!"kesal shikadai.
Shikadai mengetahui boruto disini karena bertemu wasabi saat di halte tadi dan wasabi bilang boruto langsung menuju tempat sarada setelah melacaknya.
"Sarada, gak kenapa-napa kan dai?"tanya boruto.
"BAWA MASUK!"kesal shikadai.
Mitsuki mengambil alih sarada dengan cepat dan membawa masuk kedalam mobil shikadai.
"Dai, sarada...,"
"Gara-gara gue, dai. Sarada berdarah, dai. Dia kesakitan"ucap boruto, berbicara tak jelas dengan panik.
Shikadai membuang payungnya sembarang.
Bugh...
Lelaki nara itu memukul pipi boruto."SADAR SIALAN! YA, EMANG GARA-GARA LO. GOBLOK!"
"MASUK MOBIL SEKARANG ATAU GUE TINGGAL!"kesal shikadai. Boruto memang harus dipukul dulu agar cepat sadar.
Boruto memegang pipinya. Tidak, seharusnya ia dapat lebih dari ini.
"Terserah!"kesal shikadai, lalu masuk kedalam mobilnya. Boruto tersadar dan berlari masuk kedalam mobil shikadai dengan cepat. Lelaki itu duduk dibelakang sambil memangku kepala sarada.
Selama perjalanan lelaki uzumaki itu terus mengusap rambut sarada sambil berbicara tak jelas.
"Sarada gapapa kan, dai?"lirih boruto.
"Sarada, pasti pingsan doang. Dikit lagi bangun kan dai?"
"Dai, sarada suka coklat, kalo dia bangun nanti gue mau beliin dia coklat yang banyak. Wah, dia pasti seneng, terus matanya lucu banget kalo liat coklat yang banyak"
"Dai, jawab. Sarada cuma pingsan kan??"tanya boruto yang terus diabaikan oleh shikadai.
"Shikadai!!"kesal boruto.
Shikadai yang sedang menyetir mobil, menajamkan matanya kesal."LO DIEM!"
boruto menundukan kepalanya menatap sarada yang ada dipangkuannya, tetesan air matanya mengenai wajah gadis dipangkuannya.
💚💚💚
Himawari berjalan dengan cepat dilorong rumah sakit diikuti hinata dan inojin. Shikadai mengabari mereka kalau sarada sedang berada dirumah sakit.
Panik, adalah hal yang mengagambarkan mereka semua. Terutama hinata dan himawari. Sakura tak bisa dihubungi, pasti sedang jadwal operasinya, sasuke sudah diberi tahu dan segera memesan tiket pulang.
Sasuke sempat marah-marah saat di telpon tadi, bagaimana tak marah. Sudah lelah dengan pekerjaan tiba-tiba mendengar putri kesayangannya masuk rumah sakit.
"Boruto"hinata memanggil putranya yang sedang duduk sambil menundukan kepalanya. Mereka semua tampak basah karena air hujan.
"Kenapa bisa gini, sarada kenapa, boruto?"tanya hinata khawatir.
"Maaf"ucap boruto.
"Ibu gak butuh itu, ibu butuh penjelasan kenapa sarada bisa kaya gitu?"hinata menatap pakaian boruto yang terdapat bercak darah, juga pipi putranya yang terlihat memar.
"Tante, tenang dulu, oke?"ucap shikadai.
Hinata menghembuskan napasnya dan duduk, disampingnya ada putrinya yang terus menangis.
Boruto menoleh kesamping menatap ibunya dan adiknya dengan tatapan kosong.
"Boruto bilang, sarada nyusahin boruto. Boruto bilang, boruto muak sama sarada"
"Boruto udah nyakitin sarada lebih dari itu, sarada kesakitan karena boruto"
Plak...
Hinata menampar putranya kencang, mendengar ucapan boruto barusan. Yang benar saja, apa ia tak salah dengar putranya bicara seperti itu.
Boruto hanya menatap kosong, ia seperti tak merasakan sakit. Bahkan hanya tamparan dan pukulan tak cukup untuk menghukumnya.
"APA MAKSUD KAMU, BORUTO?"hinata berdiri sambil menatap putranya yang hanya diam.
Teman-temannya bahkan menatapnya tak percaya. Mereka juga baru mengetahui hal tersebut. Pantas saja, boruto dan sarada sudah tak terlihat bersama.
Walau pernah mendengarnya dari chochou namun kini boruto sendiri yang bilang. Ya, boruto yang terlihat pendiam ternyata seperti itu.
Himawari menutup wajahnya yang sedang menangis. Selama ini, ia kira hanya dirinya yang menyakiti sarada.
"Apa yang harus ibu bilang ke sasuke dan sakura, boruto?"lirih hinata.
Boruto terdiam dengan tatapan kosong, bibirnya tampak pucat karena kedinginan.
Benar juga, apa yang akan ia jelaskan pada kedua orangtua sarada nanti? Ia menyakiti sarada karena sarada berduaan dengan lelaki lain selain dirinya? Wah, ia benar-benar seperti orang bodoh.
Plak...
Plak...
Plak...
Boruto menampar dirinya sendiri yang masih menatap kosong kedepan. Pikirannya sangat kacau sekarang, cemas, sedih, takut tiba-tiba saja menjadi satu.
Plak...
Plak...
"BODOH! JANGAN GILA, BORUTO!"kesal shikadai, mencoba menahan tangan boruto yang menyakiti diri sendiri.
Boruto menarik tangannya dengan kuat dan kembali menampar dirinya sendiri.
Plak...
Plak...
Darah segar bahkan keluar dari sudut bibirnya. Shikadai menarik baju boruto kesal, hingga lelaki uzumaki itu berdiri menghadapnya.
"LO MAU RIBUT SAMA GUE ,HAH?!"kesal shikadai.
"Gak usah sok paling tersakiti, dan stop bersikap dramatis!"ucap shikadai.
"LEPAS! BANGSAT. GAK USAH IKUT CAMPUR, LO GAK TAU PERASAAN GUE!"boruto mendorong shikadai dengan kencang membuat lelaki nara itu mundur beberapa langkah.
Inojin menarik bahu boruto agar menghadapnya.
Bugh...
"Bangsat! Jangan goblok, lo bukan nyakitin diri sendiri. Tapi liat, ibu sama adik lo ikutan nangis, ikutan sakit liat lo kaya orang gila gitu, lo gak kasian sama mereka, hah?!! Sarada juga lagi ditangain dokter, lo bisa diem gak sih?!!"kesal inojin, setelah memukul pipi boruto.
Boruto mengusap darah yang ada disudut bibirnya dan juga hidungnya, lalu menatap ibu dan adiknya yang menangis.
Semua kacau, karena dirinya.
💚💚💚
Boruto menundukan kepalanya dengan tangannya sebagai tumpuan, sudah setengah jam namun dokter belum juga keluar.
"Pulang dulu, ganti baju. Biar ibu sama hima yang nunggu disini, ada inojin juga"ucap hinata. Shikadai dan mitsuki sudah pulang untuk mengganti pakaian mereka yang basah.
Boruto melirik jam tangannya, sudah jam 11 malam.
"Dengerin kata ibu lo, kalo lo juga ikut sakit kasian ibu lo"ucap inojin, melihat boruto yang hanya diam.
Boruto memainkan jarinya, wajahnya tampak pucat saat ini dengan darah kering yang belum dibersihkan.
Lelaki itu beranjak dari duduknya dan berjalan pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Inojin menatap boruto yang berjalan menjauh, lelaki itu menggelengkan kepalanya.
Boruto berjalan sambil mengepalkan tangannya. Motornya sudah ia tinggal ditempat menemukan sarada, lagipula itu bukan hal yang penting. Lelaki itu mengeluarkan hpnya, untung saja hpnya tak rusak terkena hujan.
"Hallo boruto, tumben kamu nelpon aku duluan"
"Dimana?"
"Hah? Sumpah kamu kesambet apa deh, ini jarang banget kamu nanyain aku gini."
"Dimana?"
"Aku baru aja sampe rumah, pulang kerja. Kenapa emangnya?"
"Ayo ketemu"
"Ketemu?? Kamu, kamu beneran kan? Ayo, aku ganti baju dulu ya"
"Gak usah"
"Eh? Tapi masih pake baju kerja"
"Ketemu sekarang"
"Hahaha, kamu kangen nih ceritanya?"
"Ya"
"Okee, mau ketemu dimana?"
"Gue jemput"
"Oke, aku tunggu ya. Kamu hati-hati dijalan"
Boruto menutup telponnya dan menghubungi supir rumah nya agar membawa mobilnya kesini.
Lelaki itu berjalan keluar area rumah sakit untuk menunggu didepan.
Setelah sekitar 15 menit akhirnya mobilnya sampai, boruto segera masuk kedalam tanpa mengeluarkan suaranya meninggalkan supir yang membawa mobilnya tadi. Lelaki itu segera bergegas menjemput sumire, banyak hal yang ingin ia bicarakan sekarang.
Sumire dan kagura, mereka benar-benar harus menanggung akibatnya atas semua ini.
Tin...
Sumire yang sedang menunggu didepan rumahnya segera menghampiri mobil boruto dengan senyuman lebarnya.
"Boruto, kamu beneran kangen sama aku? Tumben banget malem-malem gini ngajak ketemu"ucap sumire dengan senyuman lebarnya.
"Ikut gue"ucap boruto.
Sumire segera masuk kedalam mobil boruto."baju kamu kok basah semua gitu, dan pipi kamu jug—"
"Gak usah banyak tanya"boruto segera menjalankan mobilnya ketempat yang ia tuju.
Sumire sepanjang jalan hanya melirik boruto yang tampak serius mengendarai mobil. Jadi, boruto serius kangen padanya? Wah, hal yang langka.
💚💚💚
Sumire mengusap kulitnya sambil menatap sekeliling, mengapa boruto mengajak ketempat seperti ini.
"Boruto, ini kenapa kita ke bangunan tua gini sih? Kalo kangen kan bisa hotel"tanya sumire.
Boruto menghela napasnya dan menatap sekeliling."sengaja"
"Sengaja? Maksudnya?"
Boruto menatap sumire."biar bisa berduan aja"
Sumire membulatkan matanya, rona merah menghiasi pipinya mendengar ucapan boruto. Sial, boruto memang paling bisa membuatnya semakin jatuh cinta.
Sumire mendekat kearah boruto yang berdiri dihadapannya.
"Kamu beneran kangen sama ak—"
Plak...
Sumire memegang pipinya saat mendapat tamparan tiba-tiba dari boruto, matanya menatap boruto tak percaya.
"Boru...to?"
Bugh...
"BANGSAT!! LO BANGSAT"teriak boruto, setelah mendorong sumire terjatuh kebawah.
"GARA-GARA LO! GARA-GATA LO SARADA KESAKITAN. GARA-GARA LO SARADA MASUK RUMAH SAKIT, ANJING!"boruto menendang sumire berkali-kali. Ia sungguh tak perduli, mau lelaki atau perempuan. Sumire adalah perempuan yang sudah tak bisa dikasihani olehnya.
"Sakitt boruto cukup!"ucap sumire, sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Sial, jadi boruto tau soal kagura menabrak sarada?
Ya, pulang kerja tadi ia sempat bertemu kagura yang ketakutan dan bilang habis menabrak seseorang. Ia sempat ribut dengan kagura karena kagura tiba-tiba meminta perlindungannya tetapi sekarang ia sudah tak perduli dengan lelaki bodoh itu.
Boruto berjongkok didepan sumire, lelaki itu tersenyum menatap gadis dihadapannya yang sedang ketakutan.
"Sakit?"tanya boruto, sumire menganggukkan kepalanya dengan takut. pelipisnya berdarah terkena tendangan boruto.
Ia tak menyangka, boruto akan melakukan hal jahat ini padanya.
Boruto menghela napasnya dan berdiri. Lelaki itu menarik rambut sumire kearah pojok ruangan.
"boruto, ampun. lepas boruto, ini sakit hiks... boruto"
Raut wajah boruto benar-benar menyeramkan saat ini. Lelaki itu mengambil balok yang ada dipojok ruangan.
Tangannya memukul kaki sumire dengan balok tersebut.
Bugh...
Bugh...
"Arghh, borutooo ampun, sakit. Maaf"teriak sumire.
"Gue gak akan berhenti sebelum lo dirumah sakit kaya sarada!"ucap boruto,dengan tatapan tajamnya.
Suara jeritan sumire terdengar sangat kencang. Air matanya terus turun juga kaki yang terlihat mengeluarkan darah akibat pukulan dari balok tersebut. Sumire seperti sudah tak merasakan apapun dari kakinya selain sakit
"Sa...kit, boruto hiks..."
Boruto mengambil gunting kecil yang selalu ia bawa. Lelaki itu menggunting asal rambut sumire.
"BORUT—"
Plak...
Boruto menampar sumire membuat gadis itu terdiam dengan air mata yang bercucuran.
"Setiap lo jerit, satu tamparan dari gue"ucap boruto kesal.
"Gara-gara video yang lo sebar, Sarada jadi kena bully. Sarada gue yang cantik dengan rambut panjang...."ucap boruto, dengan senyum menakutkan.
Boruto menggelengkan kepalanya dan terkekeh kecil, tangannya terus mengunting rambut sumire."nggak-nggak, sarada tetap cantik apapun model rambutnya"
Sumire hanya bisa menangis melihat rambutnya yang sedikit demi sedikit terpotong, ia sungguh tak berani berteriak sekarang. Boruto yang ia lihat saat ini benar-benar menyeramkan, berbeda dengan boruto setiap harinya.
Boruto tersenyum melihat hasil karyanya, rambut sumire seperti potongan rambuat laki-laki yang dipotong asal.
"Bagus kan?"
"Gue gak tau apa-apa soal sarada, sialan!"kesal sumire.
Plak...
"STOP PURA-PURA GAK TAU, JALANG SIALAN!"kesal boruto.
sumire menundukan kepalanya saat kembali mendapat tamparan dari boruto."JAHAT, LO JAHAT BORUTO!"
"Gue cuma mau lo cinta sama gue! Gue lakuin itu karena gue cinta. Kenapa hiks..., kenapa gue selalu gagal dapetin hal yang gue mau?"
Boruto bertepuk tangan didepan sumire."hebat. Karena cinta atau...,"
"..., karena uang?"
Boruto mengeluarkan dompetnya dan membuang uangnya didepan muka sumire yang terduduk dibawah dengan banyak darah, ia yakin kalau gadis itu sudah tak bisa berdiri saat ini.
"Ambil uang gue"
"Tapi, jangan sekali-kali lo ganggu sarada lagi"
Sumire memegang kaki boruto yang berdiri dihadapannya. "Nggak, gue gak mau uang lo hiks... Gue mohon, jangan tinggalin gue"
Boruto menghentakan kaki nya, tangannya memegang balok yang tadi ia gunakan.
Bugh...
"Argh!"sumire berteriak sambil menatap tangannya yang terpukul balok dengan kencang.
Boruto jongkok didepan sumire. "Jangan sentuh gue pake tangan kotor lo!"
"Sakit hiks..."
Boruto melirik jam nya, sudah jam 1 malam. Lelaki itu berjalan keluar bangunan tua tersebut meninggalkan sumire.
"Boruto, jangan tinggalin gue. boruto! Boruto!!"
"BORUTO!!! BANGSAT JANGAN TINGGALIN GUE!BORUTOO"teriak sumire yang sama sekali tak mendapat respon dari boruto.
*
*
*
*
Maaf banget ya, banyak kata-kata kasar dan adegan yang mungkin kalian ga suka. Kalian bisa skip aja gapapa kalo emang gak mau dibaca.
Dan maaf banget aku update nya lama banget, soalnya aku setiap hari lembur terus jadi bener-bener gak ada waktu buat nulis.
Makasih udah mau nunggu cerita ini, jangan bosen-bosen ya:)
VOTE-KOMEN JANGAN LUPA!!
Sorry for typo.
Mau ngomong apa sama:
Sumire?
Boruto?
Sarada?
Lanjut???