Stars Can't Shine Without Dar...

By elsbthchiia

4.6K 238 114

Gloria Wiskasari. Gadis yang identik dengan kata "sendiri". Ia benar-benar menjauh dari kehidupan dunia luar... More

Prolog
1
2
3
4
5
7
Author Note
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
Epilog

6

179 10 0
By elsbthchiia

Setelah pembagian kamar, Glo memutuskan untuk beristirahat di kamar. Lelah, katanya. Alice lebih memilih untuk keluar dan menghirup udara sejenak.

Alice POV

Gue capek, sih, beberapa jam di perjalanan buat sampe ke villa ini. Tapi entah kenapa gue males aja gitu untuk istirahat. Aneh, ya? Gue mutusin buat duduk di lantai paling atas villa ini yang ternyata outdoor gitu. Indah banget.

Gue perlahan berjalan menuju kursi santai yang ada disana. Suasana malam yang teduh dan sejuk seakan-akan manggil gue buat duduk disana. Akhirnya gue ikutin kata hati gue. Gue duduk disitu, eh, nggak, gue baring. Gue memejamkan mata sejenak. Udaranya langka banget. Sejuk.

"Suka?" terdengar suara seseorang yang mengejutkan gue. Gue sontak menoleh ke kursi sebelah. Rejo.

"Sejak kapan lo disitu?" tanya gue.

"Yang jelas sih sebelum lo datang, lah," sanggahnya.

"Serius gue, mah. Kok gue nggak tau kalo ada lo?" tanya gue.

"Lah, ngapa nanya gue? Lo aja nggak tau, gimana gue mau tau, ya, nggak?"

"Iya, sih," gue jadinya menggumam.

"Jadi, lo ngapain disini?"

"Nyari angin doang."

"Nyari angin? Disini? Gimana kalo kita ke pondok dekat kebun teh?"

Gue mikir sejenak, "Ayo. Sebelum makan malam udah balik, ya. Gue nggak mau dicariin Radit."

"Siap, bos."

Rejo POV

Gue sengaja sih, ngajak Alice kesini. Disini anginnya lebih banyak. Gue cuma bantuin dia doang, sih. Dia kan lagi nyari angin. Agak ambigu, ya.

Saking banyaknya angin disini, gue bisa ngelihat angin-angin itu menyapu rambut panjang Alice yang tergerai indah. Dia cantik banget.

Dia pacarnya Radit. Iya, Radit sahabat gue. Lagian, kan, gue cuma bilang dia cantik banget. Ya, nggak?

"Pondoknya dimana sih, Jo?"

"Bentar lagi juga nyampe, elah. Sungut mulu, lo."

"Iya deh, iya."

Gue lihat dia menekuk mukanya. Itu lucu banget, serius.

Ketika kita sampai di pondok yang gue maksud, gue bisa ngelihat senyum mengembang di wajah Alice. Dia senyum. Lebar banget. Terus rentangin tangannya lebar-lebar. Dia muter-muter. Gue cuma ngelihatin sambil senyum. Setelah dia puas, dia menghentikan kegiatannya dan duduk di pondok.

"Lo ngapain berdiri disitu?" tanya Alice sambil nyengir kearah gue. Dia menepuk-nepuk tempat yang di dudukinya. "Duduk sini."

Gue berjalan dan duduk di sampingnya. "Lo udah bisa ngontrol diri lo, kan?"

"Ngontrol? Maksud lo?"

"Lo tau maksud gue."

Gue lihatin matanya dalam-dalam. Gue bantu dia nyari jawaban melalui tatapan mata gue.

Dia berdehem sejenak. Sepertinya dia udah sadar sama apa yang gue omongin. "Oh. Itu," Alice memutar bola matanya.

"Lo bisa? Atau perlu bantuan gue?"

Entah kenapa dia jadi diam gini.

Drrrrrtt.

"Eh, Jo. Radit nyariin gue. Kayaknya makan malamnya udah siap deh."

Secepat dia membaca pesan dari Radit, secepat itu juga dia berlari ninggalin gue. Gue berjalan perlahan ngikutin dia

Padahal niat gue cuma membantu. Ya udahlah.

Author POV

"Kamu dari mana aja, Lice?" tanya Radit begitu melihat Alice.

"Tadi aku keluar bentar bareng Rejo. Nyari angin," Alice tersenyum.

"Kamu nggak masuk angin, kan?"

"Nggak, Dit. Aku nggak apa-apa."

"Kalo gitu kita ke ruang makan, yuk. Kevin sama Glo udah nungguin dari tadi."

***

Mereka sepakat untuk mencuci piring sehabis makan secara bergantian. Hari ini Glo yang bertugas. Selesai makan, secara tau diri, Glo mengangkat piring-piring bekas makannya dan teman-temannya dan membawa mereka -piring-piring itu- ke dapur.

"Butuh bantuan?" tanya Kevin sambil menggulung lengan bajunya.

"Besok kan giliran kamu. Aku nggak mau bantu kamu besok," Glo memeletkan lidahnya.

"Yakin, nggak mau?" Kevin memainkan alisnya.

"Iya. Aku bisa kok."

Kevin hanya mengangkat bahu dan berjalan pergi. Setelah beberapa langkah, Kevin berbalik dan berjalan menuju Glo yang sedang sibuk mencuci piring dan memeluknya dari belakang.

"Hei, kamu ngapain?" Glo sepertinya sangat terkejut.

"Udah kamu nyuci aja. Aku kan nggak ganggu. Cuma mau kayak gini bentar doang, kok," Kevin membenamkan wajahnya ke bahu Glo.

"Eh, kupret. Lo berdua ngapain?" teriak Rejo.

"Tau nih, Kevin," ujar Glo membela diri.

"Ganggu aja lo, hush."

Setelah dihujat seperti itu, Rejo memutuskan untuk berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

"Yang ngajak liburan, gue. Yang nyediain villa, gue. Yang jomblo juga, gue. Lagian ini kan liburan, bukan honeymoon. Kenapa mereka malah berdua-berdua gini sih?" Rejo mendecak kesal.

"Hei. Yang lain mana?" tanya Kevin setengah berteriak sambil berjalan menuju Rejo dengan menggenggam tangan Glo.

"Tau, deh. Gelap," ujar Rejo kesal.

"Lo kenapa, Jo?" tanya Glo.

"Nggak apa-apa kok. Gue cuma lagi kesel aja."

"Kesel? Bukannya jomblo?" ejek Kevin.

Rejo mengerling. Melihat suasana jadi canggung, Glo mencubit lengan Kevin. Yang dicubit cuma bisa meng"aduh".

"Kamu apaan sih?" tanya Glo.

"Kenapa? Aku kan cuma becanda doang."

Glo menatap Kevin.

"Kamu marah ya, Jo?" tanya Glo hati-hati.

"Bukan marah juga, sih, Glo. Cuma kesel aja ngelihat kalian malah pacaran disaat gue maunya kita bareng-bareng. Oke ini kedengarannya gue jomblo yang butuh perhatian, tapi gue pengennya kita ke villa ini supaya kita bisa nikmati liburan bareng-bareng. Bukannya gini," jelas Rejo.

"Kita minta maaf, deh," terdengar suara dari belakang mereka. Alice dan Radit.

"Sumpah gue nggak maksud sama sekali buat manfaatin fasilitas yang lo sediain untuk pacaran doang. Tapi ada saat dimana gue lagi pengen berdua doang sama pacar gue," jelas Radit.

"Kita minta maaf banget, Jo, udah ngebuat lo kesel," Alice tertunduk.

"Lo mau maafin kita, kan?" tanya Glo.

"Elah lo pada. Ini anak nggak bisa ngambek lama-lama," Kevin menaik-turunkan alisnya sambil menatap Rejo. Seketika Rejo tergelak.

"Gue nggak nyangka respon kalian sampe segitunya," dan ia kembali tergelak.

Sontak, Radit memiting kepala Rejo.

"Eh ntar dulu, cluk. Tapi gue serius, please, lo pada jangan pacaran mulu, ya?" Rejo memelas.

"Sip lah," jawab semuanya.

"Eh, besok kita ke pantai, yuk?" ajak Rejo.

Mereka semua memberi tatapan ini-yang-gue-sukadari-lo dan kenapa-nggak-dari-tadi-sih pada Rejo.

***

"Siap?" tanya Rejo, setengah berteriak.

"Jalan, bro!" seru Radit.

Hari ini pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat ke pantai. Entah apa yang mau mereka lihat di pantai sepagi itu.

Sesampainya mereka disana...

"Oke. Karena semalam lo pada udah bilang nggak bakalan berduaan, hari ini gue tukar. Saat kita di pantai, Radit bareng Glo, Kevin bareng Alice," ujar Rejo.

"Lah emang lo sapa, nyuruh-nyuruh kita?" Kevin memicingkan matanya.

"Hari ini doang, kok. Lagian kan barengnya juga nggak gimana-gimana," jelas Rejo.

"Weits, kalo gue sama Glo, Kevin sama Alice, lo sama siapa?" tanya Radit.

"Masih nyari," jawab Rejo santai

Hening.

"Oke, jadi apa yang pertama-tama harus kita lakuin?"

Gloria POV

Lama-lama Rejo jadi nggak lucu, nih. Masa iya, kita harus tukeran gini? Gue kan lagi pengen bareng-bareng Kevin.

"Kamu jangan macam-macam, ya," Kevin mencubit pipi gue. Manis banget ini orang.

"Macem-macem gimana? Radit doang, kali, Vin. Nggak mungkin aneh-aneh," gue menepuk jidatnya.

"Ya, kan, bisa aja," Kevin menekuk wajahnya.

"Nggak, Vin, tenang aja," Glo tersenyum.

Akhirnya gue disini, bareng Radit. Duduk di pesisir pantai. Kami berdua sama-sama bungkam mengingat nggak ada yang bisa kami bahas.

"Jadi lo sama Kevin gimana?" tanya Radit membuka pembicaraan. Hufh, akhirnya.

"Gimana apanya?" gue nyengir. "Ya, gitu-gitu aja, sih. Kenapa emangnya?"

"Nanya doang."

"Lo sendiri sama Alice gimana?" gue balik nanya.

"Semakin hari semakin baik," Radit tersenyum.

"Menurut lo, Rejo itu gimana orangnya?" akhirnya gue memutuskan untuk bertanya.

"Rejo? Hmm, dia itu orangnya kekanak-kanakan. Paling nggak suka dicuekin. Susah sayang sama orang. Suka aja susah banget. Kalo kagum mah terlalu gampang. Dia baik banget. Gampang diboongin. Nggak deng, dibodohi tepatnya. Terlalu polos, sih," Radit jadi senyum-senyum sendiri.

Radit nggak homo, kan?

"Kenapa emangnya?" tanya Radit.

"Nanya doang, kok."

Alice POV

Rejo apaan banget, coba? Nggak apa-apa sih, kalo di pisahin gini, tapi masa iya, gue harus bareng Kevin?

"Jo?" gue mencoba panggil Rejo.

"Apaan?" dia lagi sibuk sama hpnya ternyata.

"Gue sama lo aja, dong," gue memohon --ralat, memaksa--.

"Terus Kevin gimana?" tanya Rejo.

"Gue lagi nggak enak badan kayaknya. Kalian berdua aja," ujar Kevin.

"Lo nggak marah, kan?" gue takut ini anak tersinggung, serius.

"Kan gue lagi nggak enak badan, gue butuh istirahat dong. Kalian berdua aja, nggak apa-apa," ujar Kevin.

Setelah ngomong demikian, itu anak pergi. Nggak tau deh kemana, tapi dia sempat pinjam mobil omnya Rejo. Menurut gue sih dia nyari makan. Sepagi ini? Sarapan mungkin. Udahlah, lupain. Yang penting gue bareng Rejo sekarang. Eh?

"Lo kenapa mau sama gue?" tanya Rejo.

Ambigu.

"Apaan? Gue cuma pengen jalan bareng lo aja. Banyak hal yang pengen gue omongin sama lo, gue butuh pendapat lo juga," jelas gue.

Rejo manggut-manggut. "Oke, sekarang utarain isi hati lo. Cepet omongin banyak hal yang tadi lo bilang itu."

"Sebenernya nggak gimana-gimana juga sih, Jo. Cuma gue masih belum bisa lepas sepenuhnya dari..." gue tertunduk sejenak. Oke, gue ngerasa nggak bisa ngelanjutin kata-kata gue. Jujur, untuk ngomong kata narkoba aja gue berat banget.

Melihat gue yang tertunduk, Rejo ngerangkul gue.

Ini nih, kenapa gue maunya sama lo. Cuma lo yang ngertiin gue, Rejo.

"Berat, ya?" Rejo tersenyum.

Gue cuma bisa ngangguk doang sih. Sumpah, ini gue nggak tau harus ngomong apaan.

"Ada gue ini," hei, dia masih dengan senyuman yang tadi. "Gue bakalan bantuin lo, Lice. Jangan takut, jangan ragu. Kalo lo udah mutusin buat berhenti, lo harus sepenuhnya berhenti. Gue bakalan selalu ada buat lo..."

Gue ngangkat muka gue yang sedari tadi tertunduk dan menatap matanya Rejo. Nyari maksud dari kata-kata dia barusan.

"...setelah Radit," tambahnya.

Gue tersenyum. Entah kenapa gue ngerasa Rejo selalu ngejagain gue. Bahkan lebih dari Radit.

Rejo bener-bener teman yang baik.

"Makasih banget ya, Jo. Sumpah, kalo nggak ada lo, gue nggak tau harus gimana lagi,"

Rejo tersenyum. Masih merangkul gue. Kita mutusin buat jalan-jalan disitu. Cuma sekedar jalan.

Author POV

Glo dan Radit sekarang sedang bermain volley. Hei, Glo jago main volly.

"Main berdua doang nggak segampang yang gue kira," ujar Glo sambil memukul bola ke arah Radit.

"Main berenam aja nggak gampang," balas Radit sambil memukul bola yang mengarah padanya.

Mereka terus bermain dan tertawa. Sementara itu, Alice dan Rejo berjalan nggak jauh dari situ. Dan Alice melihat mereka.

"Hei, gabung dong!" teriak Alice sambil berlari ke arah Glo dan Radit.

Teriakan Alice sontak menghentikan sementara permainan mereka.

"Sini, Lice, Jo. Kita kekurangan orang," teriak Glo.

"Dan tenaga," sambung Radit.

"Eh, tapi Kevin mana?" tanya Glo.

"Dia nggak enak badan, katanya. Dia pinjem mobil om gue tadi. Nyari makan kayaknya," jelas Rejo.

"Hah? Kayaknya gue harus ke dia deh," ujar Glo sambil berusaha berlari.

Radit menahan tangan Glo. "Lo mau pergi kemana? Nggak denger kalo dia pergi naik mobil? Gue nggak ada temen main ini."

Glo menatap ketiga temannya. Yang ditatap hanya memberikan tatapan memelas.

"Ya udah, ayo main," ujar Glo yang langsung disambut oleh senyuman teman-temannya.

Akhirnya mereka bermain volly. Glo dan Radit satu tim, Alice dan Rejo satu tim. Mereka bermain dengan seru dan penuh gelak tawa.

Putaran pertama dimenangkan oleh Glo dan Radit. Putaran kedua dimenangkan oleh Alice dan Rejo.

"Gue udah nggak sanggup nih," ujar Rejo.

"Apaan lo, banci. Segini doang nggak sanggup?" cecar Glo.

"Tau, nih, Rejo," tambah Radit.

"Iya deh, iya. Lanjut aja," ujar Rejo.

Mereka bermain dengan santai. Kelihatannya mereka sudah terbiasa dengan bola itu. Bagaimana mereka memukulnya, bagaimana mempertahankan bola agar tidak lepas dari kontrol mereka. Semua baik-baik saja sampai...

BUG!

Alice terjatuh

Teman-temannya sontak berlari ke arahnya. Rejo yang terdekat langsung merangkulnya.

"Lice, lo kenapa?" Rejo menggoyangkan pipi Alice.

"Kita pulang aja dulu," usul Glo.

Rejo hendak menggendong Alice namun tangannya ditepis oleh Radit yang langsung mengangkat Alice dengan bridal style.

Rejo mundur dan menatap kepergian mereka.

"Lo suka sama Alice?" tanya Glo.

"Heh? Kata siapa? Nggak lagi," ujar Rejo.

"Lo bisa boong sih, Jo, tapi tatapan lo, nggak," Glo tersenyum. "Lo suka kan sama dia?"

Rejo terdiam untuk beberapa detik. "Lo nggak nyariin Kevin?"

Glo tersenyum. "Kayaknya sekarang gue harus nyari Kevin," Glo menepuk pundak Rejo. "Semangat, bro."

***

"Kamu dari mana aja, Vin?" tanya Glo begitu melihat Kevin.

"Kenapa? Kangen, ya?" Kevin tersenyum.

"Apaan sih. Katanya Rejo kamu nggak enak badan, ya? Kamu udah nggak apa-apa? Udah minum obat? Tadi kamu sarapan, kan?" Glo bertanya tanpa menjeda sedikitpun.

Kevin mengecup kening Glo.

Glo terdiam secara tiba-tiba dan menatap mata Kevin.

"Akhirnya diem juga," Kevin terkekeh. "Kamu itu nanya satu-satu. Gimana mau aku jawab kalo kamu nanya aja kayak gitu? Heh?"

Glo memukul lengan Kevin. "Kamu nyari kesempatan banget, ih."

"Aku nggak nyari kesempatan kok. Buktinya kamu blushing gitu," Kevin mencolek pipi Glo.

"Tau, ah," Glo menatap ke tempat lain. Menghindari tatapan Kevin. Menyembunyikan keblushingannya juga, sih.

Kevin menangkup wajah Glo sehingga mata mereka bertatapan.

"Tadi kamu ngapain aja sama Radit?" tanya Kevin.

"Cuma ngobrol doang, sama main volly. Itupun bareng Alice sama Rejo,"

Kevin memeluk Glo.

"Aku sayang kamu, Gloria."

Glo mematung. Sepersekian detik kemudian Glo membalas pelukan Kevin.

"Aku juga sayang sama kamu, Kevin."

"Woi! Lo berdua dipanggil sama Radit. Kita mau pulang," teriak Rejo yang otomatis merusak suasana.

***

Sudah setengah jam setelah mereka tiba di villa dan Alice tak kunjung bangun. Radit dengan setia masih mengompres kepala Alice dengan air hangat.

"Dit, lo makan dulu. Kita bertiga udah makan. Gue gantiin lo, tenang aja. Alice lagi sakit, lo nggak boleh sakit," tutur Glo.

"Bener tuh, yang dibilangin Glo. Lo makan aja, udah. Jangan bikin Alice khawatir kalo nanti dia bangun," tambah Rejo.

Akhirnya Radit mengalah dan pergi ke dapur untuk mengambil makan yang diikuti oleh Kevin --Glo menyuruhnya menemani Radit--. Sementara itu, Glo duduk disamping kepala Alice dan mengompres kepalanya.

Dan Alice terbangun.

"Lice, lo udah sadar?" tanya Glo.

"Lice, lo nggak apa-apa, kan?" tanya Rejo. "Alice lo kenal gue, kan? Lo tau kalo gue ganteng, kan?" Rejo sepertinya kelewatan khawatir. Rejo mengacungkan jari telunjuknya, "Ini angka berapa, Lice?"

Glo menoyor kepala Rejo.

"Lo mah, apa banget gitu," cecar Glo.

Alice hanya tersenyum.

Rejo masih mengusap kepalanya bekas toyoran Glo. "Glo, gue mau ngomong bentar sama Alice," Rejo terbatuk. "Bisa?"

Glo tersenyum, mengangguk, dan melangkah pergi.

"Lice, lo nggak apa-apa?" tanya Rejo, sekali lagi.

Alice mengangguk.

"Jangan sakit lagi. Gue sedih lihat lo sakit," Rejo tertunduk.

"Gue nggak apa-apa, nyet. Tadi mendadak down aja. Udah, nggak usah khawatir gitu, ah," ujar Alice.

"Jangan sakit lagi, ya. Gue nggak mau lo sakit. Gue sayang sama lo," ujar Rejo.

***

OKE! Jadi mari kita menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebenarnya mau banget update cepet. Tapi kalian taulah, stuck gimana gitu. Bingung pengen ngomong apa. Pokoknya makasih banget yang masih mau baca sampe disini. Semoga kalian suka. Sabar yaa tunggu kelanjutan cerita ini.

Sayang kalian.

Chia.

30 April 2015.

Continue Reading

You'll Also Like

Pain By ihyzzx

Teen Fiction

786 12 29
Ini kisah cinta. Kisah cinta seorang perempuan yang terjebak karna sudah jatuh cinta kepada lelaki yang notabenenya adalah sahabatnya sendiri. Sial...
295K 16.2K 30
Ketika teman masa kecil semakin menjauh dan menyisakan ruang hampa pada hati. Ketika cobaan lain dari Tuhan datang untuk membuat kita semakin kuat. ...
4.4K 253 12
Amelia adalah seorang gadis biasa. Dia pernah jatuh cinta namun dikecewakan, terakhir kali dia pacaran, hubungannya benar-benar tidak direstui oleh k...
39.1K 3.6K 62
Bisakah ia menentukan cintanya sendiri? Mengharapkan sang kekasih kembali dan hidup bahagia bersama. Memulai awal kisah yang bahagia bersama perempua...
Wattpad App - Unlock exclusive features