Between Us

By xaliilyx

4.2M 198K 1.3K

"We're bestfriend, aren't we? We shouldn't more than that." "Why?" "I'm afraid. Afraid that someday, I migh... More

Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44 - The Proposal [Last Chapter]
Next Project - Kamu dan Aku
Special Part: The Wedding [Revisi]
Special Part: Pregnant [Bagian 2]
Special Part: Pregnant [Bagian 3]
Glad To Have You In My Life
Epilog
Everlasting Love
The Fairytale Story: Fallin'

Special Part: Pregnant

81K 3.2K 31
By xaliilyx

2 Years Later...

Prilly melirik jam dindingnya, pukul 2 dini hari. Tiba-tiba, ia membayangkan satu mangkuk mie ayam super panas, dengan sambal yang banyak - meskipun Prilly tahu, ia dilarang keras untuk makan pedas - dengan sawi hijau yang menutupi permukaan mie ayamnya.

Prilly meneguk ludahnya dengan susah payah. Menahan rasa inginnya yang tiba-tiba muncul begitu saja. Tapi, semakin kuat Prilly menahan, semakin kuat juga rasa inginnya pada mie ayam tersebut.

Ia melirik Ali yang sedang tidur dengan pulas di sebelahnya. Tidak tega membangunkan Ali yang baru pulang dari kantor pukul sebelas malam. Mengingat posisi pentingnya sebagai penerus perusahaan Papa mertuanya yang baru beberapa bulan ini pensiun.

Tidak tahan dengan godaan untuk segera menyantap mie ayam yang diinginkannya, dengan terpaksa Prilly membangunkan Ali.

"Honey..." panggil Prilly sambil mengguncang badan Ali. Ali hanya bergumam, malah memeluk tubuh mungil Prilly.

"Honey bangun..." Prilly bersikukuh untuk tetap membangunkan pria tersebut. Ali mengalah, mengerjapkan kedua matanya yang berat untuk dibuka.

"Hmmm?" Gumam Ali. Prilly menggigit bibir bawahnya, ia menatap Ali gelisah.

"Aku.... mau mie ayam," kata Prilly pelan. Tangannya lebih memilih untuk memlintir baju Ali.

"Iya, nanti siang kita makan mie ayam. Sekarang, tidur aja. Aku ngantuk." Ali kembali memejamkan matanya. Melihat Ali yang kembali tidur, Prilly merengut.

"Maunya sekarang honeeeeyy!"

Ali tersentak, dengan cepat membuka kedua kelopak matanya. Menatap Prilly tidak percaya. "Hah? Apa? Sekarang?" Tanya Ali cepat. Prilly mengangguk sembari menatap Ali dengan puppy eyes nya.

"Astagaaa ini tengah malem, sayang. Mana ada yang jualan mie ayam tengah malem gini. Nanti siang ya? Kamu mau berapa? Semangkuk? Dua mangkuk? Atau se gerobak-gerobaknya aku beli deh! Tapi nanti siang," Ali mencoba untuk membujuk Prilly.

Nihil. Prilly tetap menggeleng. "Gamau. Maunya sekarang! Titik, gapake koma." Tegas Prilly. Membalikkan badannya sehingga memunggungi Ali. Melancarkan aksi ngambeknya.

"Gabaik loh munggungin suami sendiri.." Ali mencoba untuk membujuk Prilly. Biasanya di sindir seperti ini, akan mempengaruhi Prilly.

"Abis, kamu nakal sama aku. Gamau beliin aku mie ayam. Bodo, aku ngambek." Prilly tetap memunggungi Ali.

Ali menghela napas, bertahun-tahun bersama Prilly tidak membuat sikap manja Prilly hilang. Justru semakin bertambah, saat ia mulai sibuk dengan urusan kantornya.

Ali mendekat kearah Prilly, memiringkan badannya dan menyangga bobot tubuhnya dengan siku kanannya sehingga posisinya sekarang sedikit diatas Prilly. Ali menunduk, mencium pundak Prilly yang terekspos itu.

"Iya, aku beliin. Tapi janji, jangan ngambek lagi sama aku?" Ali mengalah. Prilly tersenyum, lalu membalikkan badannya kearah Ali.

"Beneran mau beliin?" Tanya Prilly. Ali mengangguk. "Tapi janji jangan ngambek?"

"Siap, honey! Yuk beli." Setelah mencium bibir suaminya cepat, Prilly menyingkap selimut tebalnya dan berdiri. Diikuti dengan Ali.

Ali mengernyit melihat Prilly yang mengenakan gaun tidurnya yang hanya disangga dengan tali model spaghetti itu.

"What?"

"Kamu mau beli mie ayam pake baju kayak gitu?"

Prilly menunduk memperhatikan pakaiannya. Merona malu saat sadar ia hanya menggunakan gaun tidur yang menggantung di atas lututnya. Prilly meringis. "Hehe enggak."

Ali terkekeh pelan dengan sifat istrinya yang tidak banyak berubah. Selalu malu jika ia goda, periang, manja, dan selalu apa adanya. Prilly menghampiri Ali yang sedang mengenakan hoodie nya di depan lemari baju. Ia berjinjit untuk meraih salah satu kemeja milik Ali.

"Loh, kok pake kemeja aku?" Tanya Ali heran saat Prilly membuka kancing kemeja tersebut, dan mengenakannya. Melapisi gaun tidurnya dengan kemeja biru laut milik Ali.

"Aku pengen pake kemeja kamu. Gaboleh?" Prilly balas bertanya.

"Nggak.... nggak papa. Tapi tumben aja..." guman Ali. Merasa aneh dengan sikap Prilly akhir-akhir ini.

"Yuk!" Prilly menarik Ali keluar setelah menyambar kunci mobil yang ada di atas nakas.

Beputar-putar mengitari Jakarta hanya demi mencari satu mangkuk mie ayam keinginan Prilly. Ali sesekali menguap menahan rasa kantuknya yang luar biasa.

"Pulang aja ya? Mie ayamnya ga ada yang buka sayang..." bujuk Ali untuk kesekian kalinya.

Prilly menggeleng tegas. "Gamau. Pulang kalo mie ayamnya udah ketemu!"

"Ini udah mau subuh sayang..." Ali berkata dengan sedikit penekanan. Matanya memerah, tanda benar-benar butuh tidur.

"Hmm... yaudah deh, kita pulang aja." Ali bernapas lega, segera ia memutar balik dan pulang ke rumah dengan sisa-sisa kesadarannya.

Semakin hari, Ali semakin merasa aneh dengan sikap Prilly yang mendadak berbeda. Cepat lelah, makan malam jam sembilan malam padahal ia tahu Istrinya paling anti makan diatas jam enam sore, yang nggak doyan asam tapi minta mangga muda, morning sickness, lebih sensitif, dan semakin manja. Tidak mau di tinggal sendiri.

Ali menghampiri Vionna yang sedang duduk sambil membaca majalan di ruang tamu. Pagi-pagi, Prilly minta diantar untuk ke rumah mertuanya. Entah alasannya apa, yang jelas ia minta di antar jam itu juga. Jam empat subuh.

"Mah..." panggil Ali dengan suara paraunya. Vionna mendongakkan kepalanya, dan menatap Ali. "Ya?"

"Aku pusing sama kelakuannya Prilly, mendadak aneh banget belakangan ini..." Ali memijat pangkal hidungnya. Vionna meletakkan majalahnya pada pangkuannya, dan ikut memijat kepala Ali.

"Pusing kenapa?" Tanya Vionna heran. Ali menghela napas berat.

"Masa jam dua pagi minta mie ayam? Minta mangga muda padahal dia sama sekali ga suka asem, terus dia tiba-tiba nyuruh aku ganti parfum. Padahal kan ini parfum yang aku pake lama, dia gamasalah. Malahan kemaren aku disuruh tidur di luar gara-gara aku bau. Padahal abis mandi, Ma! Nah tadi------------------AW!" Ali meringis saat merasakan kepalanya dipukul dengan majalah.

"Maaaaa kok aku di pukul sih!" Protes Ali sambil mengusap kepalanya.

"Kamu itu manager Ali! Masa hal kecil kaya gini aja gatau?" Keluh Vionna. Ali berdecak.

"Mama ngomong apaan sih? Aku ga ngerti," cibir Ali.

"Udah berapa bulan?" Tanya Vionna.

"Hah?!" Pekik Ali saat mendengar pertanyaan Vionna.

"YaAllah Li.... Istri kamu udah berapa bulan hamilnya?" Vionna mengulangi pertanyaannya. Ali menganga.

"Apa? Ha... hamil?"

Vionna mengangguk. "Iya, hamil. Kenapa?"

"Tapi Prilly nggak hamil...." gumam Ali. Pikirannya melayang pada sikap Prilly yang aneh belakangan ini. Morning sickness, dan..... tamu bulanannya terlambat padahal sudah lebih dari dua minggu dari yang di jadwalkan.

Ali pucat pasi. Baru sadar akan keanehan sikap Prilly akhir-akhir ini. "Hamil? Prilly hamil?" Gumam Ali, menatap Vionna tidak percaya.

Prilly turun dari atas dengan penampilan yang lebih segar. Hanya dengan kaus dan celana pendek, dan tanpa make up, Prilly tetap cantik dan menawan.

"Hei, sayang." Ali menyunggingkan senyumnya. Prilly tersenyum manis, dan duduk diantara Ali dan Vionna.

"Ma... nanti malem pengen tidur sama Mama..." pinta Prilly dengan sedikit merengek. Vionna terkekeh.

Ia sangat yakin, menantunya ini sedang mengandung cucu pertamanya. Vionna meng-iyakan keinginan Prilly. "Iya, nanti Mama yang usap-usap punggungnya juga,"

"Ah beneran? iihhh makasih Maaaa!" pekik Prilly kemudian memeluk Vionna.

"Nggak bisa sayang." celetuk Ali. Prilly reflek melepaskan pelukannya pada Vionna.

"Kenapa gabisa?" tanya Prilly ketus.

"Papa mau tidur dimana? kamu ini aneh-aneh aja sih," ujar Ali sambil mengambil cangkir yang berisikan kopi dan menyesapnya.

"Papa kan bisa tidur sama kamu. Pokoknya malem ini aku mau tidur sama Mama!" kata Prilly tegas.

Diam. Prilly tiba-tiba merasakan perutnya mual - lagi - dengan cepat, Prilly berdiri dan berlari menuju kamar mandi. Ali buru-buru meletakkan cangkirnya, berlari menyusul Prilly diikuti dengan Vionna.

"Kamu sakit? kita ke dokter ya," kata Ali khawatir sambil memijat tengkuk Prilly.

Prilly membungkuk di wastafel, ia terus memuntahkan isi perutnya. Berupa lendir putih, bukan muntahan makanan atau apapun itu.

Prilly menyalakan kran, dan membersihkan wastafel tersebut. Vionna datang dengan membawa satu gelas air putih hangat.

"Minum dulu, cantik." Prilly menenggak dengan pelan air putih tersebut.

"Kita ke dokter ya?" Ali panik begitu melihat wajah Prilly yang menjadi pucat pasi.

"Nggak usah, paling masuk angin aja." Kata Prilly pelan.

Begitu, setelahnya Prilly pingsan. Ali menahan tubuh Prilly agar tidak jatuh menyentuh lantai.

"MAAA PANGGILIN PAK UDIN SIAPIN MOBIL!" Ali berteriak dengan panik, Vionna meletakkan gelas tersebut diatas kloset dan berlari dengan terburu-buru memanggil Pak Udin.

Ali langsung menggendong Prilly, turun ke bawah. Masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan Pak Udin dengan Pak Udin yang menyetir, Vionna duduk di depan.

"Sayang? hei bangun," Ali mengusap-usap pipi Prilly. Nihil, Prilly tetap pingsan.

"Pak cepetan dikit!"

"Ali udah ah tenang.. Yakin Prilly ga papa." Vionna menoleh kebelakang. Ali menghela napas kasar. Rasa khawatirnya pada Prilly melebihi apapun.

Sesampainya di rumah sakit, Prilly langsung ditangani oleh dokter keluarganya. Selama Prilly diperiksa, Ali mondar-mandir ga jelas di depan pintu. Vionna dalam hati sedikit geli dengan tingkah anaknya. Ia yakin, bahwa Prilly tengah mengandung cucu-nya, anak pertama Ali.

"Ah, Dok. Gimana Prilly?" Tanya Ali langsung saat Dokter Hendra keluar dari ruangan. Beliau melirik Vionna yang tengah mengangkat satu alisnya, seakan mengerti tatapan Vionna Dokter Hendra menahan tawanya.

"Prilly tidak apa-apa. Dia sehat-sehat saja," jawab Dokter Hendra sambil melepaskan maskernya.

"Sehat gimana? Dia tadi pingsan!" Sergah Ali.

"Dia tidak apa-apa, hanya saja.... Prilly sedang mengandung buah hati kalian. 3 minggu. " Dokter Hendra tersenyum. Ali menganga, seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dokter Hendra.

"Hamil? Prilly.... hamil? Ya Tuhannnnn," Ali sumringah. Demi apapun, tidak ada yang bisa mengalahkan rasa bahagianya saat ini. Istrinya tengah mengandung buah hatinya, anak pertamanya.

"Kamu Mama bilangin nggak percaya," kata Vionna kesal. Ali tersenyum lebar, sedikit merasa bersalah tidak mempercayai ucapan Mamanya.

"Setelah Prilly siuman, boleh pulang. Ehm, Bu Sidharta ikut saya sebentar," Dokter Hendra menepuk bahu Ali, kemudian berlalu bersama Vionna menuju ruangannya.

Ali segera masuk ke dalam ruang periksa Prilly.

"Honey..." panggil Prilly parau. Baru saja siuman rupanya. Ali menghampiri Prilly dengan perasaan yang luar biasa bahagianya.

"Ya... sayang?" Ali berkata lembut sembari menggenggam tangan kanan Prilly.

"Aku kenapa?" Tanya Prilly serak.

"Nggak, kamu ga papa." Kata Ali. Tidak mampu menahan luapan rasa bahagianya sekarang.

"Terus kok aku bisa disini?"

"Kamu hamil sayang, 3 minggu." Prilly menutup mulutnya tidak percaya. Ia hamil, diperutnya ada kehidupan.

"Hamil?" Prilly tidak mampu menahan laju air matanya. Ali mengangguk semangat, refleks Prilly mengalungkan tangannya pada leher Ali, memeluknya erat.

"Terimakasih sayang... terimakasih. Sembilan bulan lagi, keluarga kecil kita akan lengkap," bisik Ali penuh sayang. Di kecupnya kepala Prilly dan memeluknya.

***

Dibagi menjadi 2 bagian lagi. Hehhe belum end kok yg ini, enaknya anaknya mau cowok, cewek, apa kembar? Mehew ;p jangan bosen bosen yaaa sama ceritaku ini! ❤❤❤❤

Aku sempet2in untuk buat nih hehe padahal lagi uts. Tapi gapapa deh demi kalian (?)

Yang part nikah, aku unpublish dulu yaaa mau di revisi. Buat aku pribadi, kurang sreg sama ceritanya jadi mau di revisi dulu, gapapa?

-K

Continue Reading

You'll Also Like

2.1M 28.8K 11
"Brengsek! jadi ini tujuanmu membawaku kesini? menawarkanku kepada lelaki lelaki hidung belang yang menjijikan seperti mereka!?" sedetik kemudian api...
1.4M 67.5K 62
" gue mundur by, gue mundur perjuangin lu. gue nyerah untuk masuk labirin hati lo. gue sadar by, gue bukan orang yang selama ini lu harapin dtg di ke...
367K 17.5K 9
Ini semua tentang cinta. Disatu sisi ada yang sering melukai karna merasa diri sempurna, sementara disisi lain pernah dilukai dan merasa diri tak se...
416K 29.5K 32
'Sejak pertama ku melihatmu aku sangat menginginkan mu dan apapun yg terjadi kau harus jadi milikku. ku tak peduli kita berbeda yg kuinginkan hanya d...
Wattpad App - Unlock exclusive features