Chapter 1

42 7 2
                                        

Prang ... prang ... Huh! lagi-lagi aku memecahkan piring, semoga saja tidak ada yang mendengar suara ini, ah tapi harapan hanya sekedar harapan. Nyatanya aku mendengar langkah kaki yang sepertinya mengarah ke sini. Dari sudut mata, kulihat Mas Bintang memasuki dapur ini.

"Lu tuh bisa gak sih kalo ngelakuin sesuatu yang bener, ceroboh banget jadi orang!" Bentaknya sambil mencengkram pergelangan tanganku, membuatku tersentak berdiri.

"Aww sakit Mas, Mala minta maaf, Mala janji gak akan ngulangin lagi." Ucapku meringis menahan sakit dan tangis yang hampir luruh.

"Awas ya kalo," Ucapnya terpotong. Karena seseorang menarikku dari cengkramannya.

"Udahlah Tang, lagiankan Mala gak sengaja mecahin piringnya." Balas Mas Lintang kesal. Kini dia menarikku pergi meninggalkan Mas Bintang yang menatapku penuh kebencian.

Aku remaja perempuan berumur 18 tahun yang kini sedang berada dikelas 12 SMA, harus dihadapi dengan takdir yang begitu kejam menurutku. Karena atas ambisi ibu dahulu yang ingin memiliki sesorang yang dia cintai, kini aku harus menanggung segala kebencian dan rasa bersalah seumur hidup yang diakbitkan olehnya.

"La ... La ... Mala!" Sentakan Mas Lintang di pundakku menyadarkanku dari lamunan.

"Eh ah iya, kenapa Mas?" Balasku gugup karena ketahuan sedang melamun di hadapannya.

"Mana tanganmu yang tadi dicengkram sama Bintang, sinikan biar Mas obatin!" Ucapnya lembut menatapku.

Tau-tau aku sudah duduk dipinggir kasunya dan di hadapanku Mas Lintang sedang memegang kotak obat sambil menatapku lembut membuatku terhanyut untuk mendalami matanya.

"Gw tau sekarang kenapa lu selalu bersikap kayak gitu sama jalang kecil itu." Hingga suara sinis dan penuh kebencian itu lagi-lagi terdengar di telingaku, membuat aku dan Mas Lintang memutuskan kontak mata kami.

"Maksud lu apa Tang?"

Aku dan Mas Lintang sama-sama menatap kearahnya. Aku benar-benar terkejut dengan keberadaan Mas Bintang yang kini sedang berdiri bersandar di dekat pintu sambil bersedekap dada dan menatap kami, atau lebih tepatnya diriku dengan sorot kebencian dan rasa jijik.

"Lu suka sama dia. Iyakan," Mas Bintang berdecih. "Gara-gara dia sekarang kita sering berantem Lin, dan gara-gara lu suka sama dia gw ngerasa jijik punya wajah yang mirip sama lu." Lanjutnya menekan suara dikalimat terakhir.

"Gw gk ngerti lu ngomong apa Tang, mending lu istirahat sana!" ujar Mas Lintang datar.

Tanpa kusangka Mas Lintang mengambil tanganku yang kini terlihat memar akibat cengkraman Mas Bintang dan mengobatinya denga telaten tanpa menghiraukan Mas Bintang yang sedang menatapnya dengan sarat akan permusuhan dan kekecewaan.

"Apa lu lupa sama Bunda hah?"

Ucapan Mas Bintang membuat seluruh tubuhku menegang.

"Cukup Tang!"

"Kenapa hah? lu takut cewe jalang kecil lu itu nangis. Halah sadarlah Lin, dia sama Ibu nya yang pelacur itu yang bikin keluarga kita kayak sekarang! Mereka itu yang bikin Bunda kita sakit lalu meninggal, mereka juga yang bikin Ayah kita ninggalin kita, lu harusnya inget sama itu Lin!!" Teriaknya mengorek masa lalu yang sungguh ingin kuhapus dari ingatanku itu, sungguh aku sebenarnya juga tak ingin berada dikeadaan ini, akupun merasa sakit. Tanpa terasa air mataku mengalir, karena terbayang semua luka itu.

Mas Lintang tiba-tiba berdiri dan berjalan kearah Mas Bintang, lalu memberikan pukulan diwajahnya. Membuat Mas Bintang jatuh telak ke lantai tanpa ada persiapan. Mas Lintang mencengkram bajunya.

"Maksud lu apa ngomong gitu hah? tanpa lu ingetin gw pun tau itu semua, dan jangan sekali-kali lu sakitin Mala lagi, di sini itu harusnya yang sadar itu lu, apa yang terjadi sama kita itu takdir! Ini semua bukan salahnya Mala, kalo emang lu benci sama Tante Tia, benci aja dia, gak usah lu sangkut-pautin sama Mala, Tang!" Ucap Mas Lintang tenang tapi menusuk.

Kulihat Mas Bintang menatap kosong kewajah Mas Lintang, lalu tersadar untuk melepaskan cengkramannya dari kerah baju. Mas Bintang segera berdiri untuk kembali menatap Mas Lintang dan seakan ingin melontarkan kata.

"Cukup Tang, gw gak ingin dengerin semua ocehan lu lagi, kita udah sama-sama dewasa harusnya lu ngerti. Dan satu lagi soal gw suka atau engga sama Mala itu bukan urusan lu!" ujar Mas Lintang tanpa ingin dibantah, dan pergi meninggalkan Mas Bintang menuju ke arahku atau tepatnya ke kamar dia yang aku tempati kini. Sekilas kulihat Mas Bintang melihatku dengan tatapan yang berbeda, bukan tatapan kebencian atau lainnya tapi tatapan yang belum kulihat sebelumnya. Tak bertahan lama tatapan kami terputus karena terhalang tubuh Mas Lintang.

Mas Lintang menutup pintunya. Hinga kini hanya tersisa kami berdua, membuatku merasa tak enak sekaligus sedih karena di sini aku merasa hanya sebagai beban untuk mereka terlebih setelah aku mengingat kembali apa yang ibuku lakukan dulu terhadap keluarga mereka.

Sekarang Mas Lintang duduk di hadapanku, menatap tepat iris mataku. Mengusap pipiku, membersihkan air mata yang masih tersisa di sana. Aku tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini darinya, secara reflek akupun menunduk. Menghentikan aksinya itu.

Keheningan mengisi ruang diantara kami, entahlah apa yang terjadi akupun tak mengerti dengan situasi ini. Beberapa saat keheningan mengisi, Mas Lintang kembali memegang tanganku yang belum selesai diobatinya itu lantas melanjutkannya mengobati hingga terbalut sempurna.

"Selesai. Masih sakit gk La?"

"Udah gak sakit kok Mas, makasih ya sudah ngobatin luka Mala padahal ini cuman luka kecil gk usah diobatin juga nanti lukanya ilang sendiri." ujarku lirih tanpa mau menatap kearahnya.

Kami sama-sama terdiam, entah apa yang ada dipikirannya atau entah apa yang sedang dilihatnya karena demi apapun aku tak ingin menatapnya sekarang, apalagi setelah pertengkarannya dengan mas Bintang tadi. Maka kuputuskan akan pergi dari situasi ini.

"Mas Lintang, Mala sudah ngantuk. Mala boleh ke kamar gak sekarang?" Tanyaku pelan

"Hmm iya La boleh kok. Good night Mala, mimpi indah ya." Jawabnya yang kurasa kini sedang tersenyum

"Iya, Mas Lintang juga."

Aku bangkit dari tempat tidur masih menunduk tanpa mau menatapnya, cepat-cepat berjalan keluar. Saat membuka pintu suara mas lintang menghentikan lajuku.

"La, besok bisa temani Mas gak?"

"Eh hmm temani ke mana Mas?" tanyaku sambil membalikkan badan dan menatapnya.

"Mas mau ke makam Bunda, udah lama gak kesana." Jawabnya menatapku sambil tersenyum lemah.

Aku dibuat mati kutu dengan jawabannya atau dengan senyumnya yang baru pertama kali kulihat itu, entah yang mana tapi itu sungguh membuat ku tak bisa bergerak walau hanya untuk berpaling dari tatapan mata sayunya itu.

"Sekalian kita beliin bunga buat Tante Tia juga, udah lama kamu gak nemuin dia kan La."

Setiap kata yang dilontarkan Mas Lintang benar-benar membuatku ingin menulikan pendengaran atau kalo bisa aku tak ingin mendengar kata-katanya itu. Sungguh aku belum siap untuk melakukan itu.

"La kamu mau kan?" ujarnya lagi menyadarkanku.

"Ah i iya mas, Mala mau kok." jawabku lirih.

"Ya udah gih sana kamu tidur, biar besok bangun pagi!"

"Iya mas"

Keluar dari kamar mas lintang dan tak lupa menutup pintunya bergegas aku menuju kamarku. Karena satu tujuanku saat ini yaitu kasur. Sampai di kamar tak lupa aku menutup pintunya dan langsung tidur meluapkan semua penat serta pikiran yang membuat kustress lalu terbang menuju alam mimpi, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi seandainya besok Mas Lintang benar-benar mengajakku.

TIGA DIMENSIWhere stories live. Discover now