.
.
.
Di dalam sebuah ruangan mewah dengan kursi kebanggannya itu, CEO perusahaan Laksamana Corp merasa cemas luar biasa. Ini adalah situasi yang paling mengkhawatirkan dalam 45 tahun hidupnya.
Sesuatu yang sulit ia hadapi, hingga tak bisa tidur dua hari dua dalam.
"Apa yang harus aku lakukan dengan putriku? Siapa yang akan menjaganya jika aku pergi nanti?"
CEO Laksamana Corp itu memang sedang gundah hatinya. Ia akan mengurusi perusahaan cabangnya yang berada di Jerman selama 3 bulan lamanya. Dan itu artinya ia akan meninggalkan sang putri tercinta sendirian.
"Anda memiliki banyak bodyguard Tuan, kenapa harus merasa khawatir lagi?" Ucap karyawannya yang bernama Teguh.
Entah kenapa tadi Teguh dipanggil ke ruangan CEO, hanya sendirian.
Tumben sekali, dan itu membuat Teguh bertanya-tanya tanpa bisa mengungkapkan penasarannya.
"Tapi aku tak percaya pada mereka!"
Teguh terdiam, jika tidak percaya kenapa mempekerjakan mereka? Bosnya ini aneh sekali.
"Teguh! kau harus mendapat hukuman dariku karena kau... perusahaanku mengalami kerugian." Ucap sang CEO tiba-tiba dengan nada menggebu-gebu.
Tiada angin dan hujan, pernyataan itu hampir membuat Teguh terkena asam lambung mendadak.
Pria bernama Teguh Rayadana itu kaget dan meneguk ludahnya kasar. Memang sudah diduga, jika ia dipanggil ke ruangan CEO hanya untuk diminta pertanggungjawaban dan dugaannya itu benar. Dia tau, jika ia salah dan memang seharusnya ia mendapat konsekuensinya. Termasuk dipecat sekalipun.
Sebenarnya bukan tindakan penggelapan uang atau semacamnya, hanya saja Teguh salah mengira dalam menyesuaikan harga pasar dengan produk makanan yang akan dipasarkan oleh Laksamana Corp. Maka dari itu Laksamana Corp mengalami kerugian. Padahal Teguh adalah salah satu karyawan kepercayaan Jonny Laksamana, sang CEO.
"Apa pun hukuman yang anda berikan pada saya, akan saya terima dengan lapang dada Tuan. Termasuk dipecat sekalipun." Ucap Teguh yang pasrah akan nasibnya jika memang ia akan dipecat.
"Tidak, kau tidak akan aku pecat. Bagaimana mungkin aku memecat orang kepercayaanku?"
Baiklah, kali ini Teguh akan sangat berterimakasih pada bosnya ini.
"Terima kasih Tuan! Terima kasih banyak!" Teguh menjabat tangan Jonny dengan bahagia.
"Eitts! Tapi, bukan berarti kau lari dari hukumanmu." Ingatnya sedikit melucu.
Teguh kembali terdiam, tubuhnya jadi patung seketika.
"Tenang saja, hukuman yang akan aku berikan sama sekali tidak berat."
Teguh manggut-manggut, menunggu kalimat selanjutnya dari Jonny. Was-was sekali rasanya. Bagaimana jika ia disuruh mengepel seluruh kantor? Atau malah disuruh menjadi tukang fotokopi di kantor?
"Aku akan menitipkan putri kesayanganku Labriya Laksamana padamu."
Tiba-tiba petir terasa menyambar Teguh saat itu juga. Bukannya apa, tapi Teguh tahu betul anak gadis dari bosnya ini seperti apa. Bahkan Teguh pernah disuruh untuk mengerjakan tugas sekolah dari setan kecil itu, eh maksudnya putri kesayangan Jonny... Labriya Laksamana.
Dengan sangat amat terpaksa, Teguh harus menerimanya. Labriya Laksamana tidak seburuk itu bukan?
.
.
.
Malam harinya, Teguh pulang ke rumah dengan lemas dan lesu. Ia disambut sang istri tercinta dan kedua anak laki-lakinya.
Keluarga yang harmonis dan hangat.
"Sayang, aku sudah memasak makanan kesukaanmu~ pasti kau suka!" Ucap istrinya, Yola.
Teguh hanya menanggapinya dengan senyum lemah. Ia senang tentu saja, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bersemangat. Pasti kalian tahu apa yang membuat bapak dua anak itu jadi seperti ini.
"Hei.. kenapa tidak bersemangat seperti itu? Biasanya kau sangat bersemangat memakan semua makanan ini." Yola terheran melihat suaminya yang terlihat tidak bersemangat dan seperti tidak bernyawa.
"Tak apa, aku hanya..."
"Hanya apa? Coba katakan pada kami." Desak Yola kepada Teguh yang ragu mengatakannya.
"Huh... Ayah mendapat hukuman dari bos besar Ayah." Jawab Teguh lemas, lalu meminum satu gelas penuh air putih hingga tandas.
"Memangnya kau melakukan apa sampai-sampai terkena hukuman?" Tanya Yola sembari mengambilkan nasi dan lauk untuk Teguh.
"Aku melakukan kesalahan dalam mengira harga pasar, intinya aku memang salah dan membuat kerugian."
"Hukuman bagaimana Ayah? Ayah dipecat? Lalu kita akan menjadi gelandangan?" Tiba-tiba si bungsu menyaut, Angkasa Rayadana.
"Tidak. Bukan begitu." Elak Teguh berusaha memberi penjelasan kepada Angkasa.
"Lalu? Hukuman apa yang Ayah maksud?" Kini giliran putra sulungnya yang menyaut, Cakrawala Rayadana.
"Bos besar Ayah akan menitipkan putrinya pada kita." Jawab Teguh dengan lemah, lemas, pasrah, dan ingin menangis rasanya.
"APA?!!" Istri dan kedua anaknya tentu saja kaget.
Bagaimana nantinya jika tiba-tiba ada orang asing yang masuk ke dalam keluarga mereka yang damai dan tentram.
"Ya. Bos Ayah akan menitipkan putrinya pada kita selama 3 bulan, karena ia akan pergi ke Jerman."
Ketiganya yang mendengar itu hanya terdiam. Ini adalah hukuman yang tentunya memang harus dilaksanakan. Dan Yola berharap semua baik-baik saja. Berbeda dengan kedua anaknya yang memberi respon berbeda.
"Aku berharap putri bos Ayah itu seorang gadis yang cantik." Gumam Angkasa memohon sambil menautkan kedua tangannya di depan dada.
Angkasa ingin sosok itu adalah sosok yang sangat indah, agar Angkasa lebih betah di rumah dan tidak keluyuran main layang-layang terus bersama temannya.
Sementara Cakra...
"Aku tidak akan peduli siapa dia." Tegas putra sulung itu dengan datar.
Terlihat dari wajahnya, sebenarnya ia sama sekali tidak peduli. Tapi karena orang asing itu akan tinggal di rumah, tentu membuat Cakra sedikit terusik. Dia yang anak rumahan pastinya tidak akan nyaman dengan datangnya orang asing.
.
.
.
TBC
Yuhuuuu~ sudah diupdate cerita lamanyaaaa😙
Ada yang masih inget ini gakk???
CZYTASZ
My Spoiled Girl✓
Fanfiction[END] "Bos besar Ayah akan menitipkan putrinya pada kita." "APA?!!" . . . "Kau ini merepotkan, banyak maunya dan terlalu manja. Bisakah kau menyesuaikan diri pada duniaku?" YooParkbaek
