BAGIAN 1

1.2K 48 11
                                        

















•°•○

"Eren. Kesini."

Gluuk. Si pemilik nama memenuhi panggilan bernada intimidasi khas seorang jaeger. Takut-takut menempatkan diri di sofa empuk keluarga. Si pemanggil hanya tersenyum tipis.

Grisha Jaeger. Lebih tepatnya ayah dari pemuda tanggung Eren Jaeger.

Kini menatap putra pertama keluarga Jaeger tajam. Detik berikutnya mata hijau terang melembut. Terkekeh kecil menyadari rasa ketakutan menguar kuat dari pemuda di depannya. Sesekali ingin membuat bocah manja itu merinding disko.

Lucknut memang si bapak.

"Kuliah di jepang ya?"

"Huh?"

•°•○

Eren mengerang. Menyesali kebodohan yang ia lakukan. Gadis berambut ungu pendek menatap kakaknya sinis. Duduk di tepi kasur tempat Eren berbaring. Siap mengeluarkan kata-kata pedas.

"Dasar penakut! harusnya kau jujur pada ayah jika tidak mau kuliah di jepang! Apa harus aku yang mengatakannya pada ayah? ayolah kakak, jangan terlalu takut mengatakan isi hatimu. Kau tidak harus selalu menuruti semua kemauan ayah."

Eren menatap adiknya sengit, "terserah kau mau bilang apa Alicia. AKU. TIDAK. MUNGKIN. MENOLAK. PERMINTAAN. AYAH."

Alicia menghela nafas berat. Eren menekan setiap kata seolah ingin mengintimidasi dirinya. Ayolah, Eren. Adikmu sudah kebal dengan sikap keras kepalamu itu.

"Aku tahu. Tapi setidaknya kau mau jujur dan mengutarakan hal yang sebenarnya," Alicia meraih tangan Eren dan menggenggam erat "aku tidak mau kau memaksakan diri."

Eren mendengus. Adiknya ini selalu saja seperti ini. Yah.... sepertinya yang Alicia katakan itu fakta. Walaupun dari lubuk hati ingin berkata tidak, tapi yang keluar dari mulut menyetujui ide ayahnya. Ia sadar bahwa menolak permintaan Grisha adalah sebuah pantangan yang tak boleh ia langgar. Karena memang ia tidak mau sosok itu kecewa.

Kebahagiaan Grisha adalah kebahagiaan dirinya juga.

Terkadang Eren kesal juga pada sifat ini. Sangking takutnya membuat Grisha kecewa, Eren bahkan tidak berani meminta uang untuk membeli peralatan sekolah. Aneh? Jelas.

Alhasil Alicia yang menyampaikan itu pada Grisha. Terlanjur gemas melihat kakaknya mirip cacing kepanasan.

"Tidak apa, saat aku di Jepang nanti jangan lupa untuk rindu padaku ya, Alicia manis" ujar Eren mengerlingkan mata kanan. Pemuda coklat bangkit dan mengacak surai ungu muda gemas. Alicia menghambur dalam pelukan Eren. Memeluk sang kakak posesif. Eren mengulum senyum. Menepuk bahu gadis ungu lembut.

"Aku ingin ikut ke jepang. Mau sama kakak" kata Alicia lirih. Sang kakak terkekeh pelan. Sadar akan keberatan sang adik mengetahui keputusannya. Yang pasti, ia tidak akan mengijinkan  Alicia ikut ke jepang. Gadis itu terlalu belia untuk mengurus diri. Masih mengenyam bangku SMA. Bagaimana jika Eren lengah saat adik merasakan bahaya? Hoooo... itu terdengar sangat buruk di telinganya. 

Karena Grisha dan Alicia Jaeger adalah segalanya bagi pemuda bruneet itu.

Ia tidak mau mereka pergi seperti mendiang ibunya.

Disisi lain. Sang adik menatap kakaknya sendu. Gurat wajah Eren terlihat sedih. Alicia bisa menebak apa yang dipikirkan Eren.

Kakaknya memikirkan ia dan ayah mereka.

Ingin rasanya ia mengumpat sosok yang sedang dipeluk. Betapa bodoh memikirkan orang lain tanpa mengindahkan kebahagiaan diri sendiri. Terlalu penurut dan tak mau mengatakan keinginannya. Tak luput dari sifat keras kepala.

spät liebend [Riren/RivaEre]Stories to obsess over. Discover now