Noir

55 8 11
                                        

Noir selalu merasa menderita setiap kali dia menatap dirinya di masa lalu. Kenangan masa lalunya begitu memilukan sehingga terkadang dia meneteskan air mata setiap kali mengingat adegan ketika ibu dan adik perempuannya dibunuh oleh seseorang yang tidak dikenalnya di depan kedua matanya. Kenapa orang gila itu harus membunuh ibu dan adiknya begitu saja tanpa membawa apa-apa? Noir pernah memikirkan hal itu.

Tentu saja orang itu tidak akan membawa apa-apa, Noir menjawab pertanyaannya sendiri. Di dalam gubuk kecil yang gelap meski diterangi oleh lilin kecil itu—tidak ada satupun barang berharga yang dapat dibawa kemudian ditukar dengan uang atau barang lainnya. Perabotan rumah pun hanyalah barang-barang bekas yang sudah tak layak pakai. Sebenarnya ada satu barang yang Noir anggap berharga. Yaitu selembar foto kusam berwarna hitam-putih yang di dalamnya terdapat potret dirinya, adik perempuannya, ibunya, dan seorang lelaki yang Noir yakin lelaki itu adalah ayahnya. Tetapi wajah lelaki yang ada di dalam foto itu berwarna putih. Seakan tinta di dalam gambar itu dihapus dengan paksa oleh seseorang. Dan Noir—sudah lupa dengan wajah lelaki yang ada di dalam foto. Bahkan namanya pun mulai memudar dalam ingatan Noir. Sepuluh tahun yang lalu.

BLANCStories to obsess over. Discover now