Prolog

10 2 0
                                        

Kala Aksara, seorang playboy yang tidak pernah benar-benar percaya pada keseriusan cinta. Baginya, percintaan hanyalah permainan yang bisa dimulai dan diakhiri kapan saja tanpa perlu memikirkan perasaan seseorang terlalu dalam. Namun, siapa sangka, pertemuannya dengan seorang gadis justru perlahan mengubah pandangannya tentang cinta, bahkan tentang kehidupan yang selama ini ia jalani.

Gadis itu bernama Mesya Putri Fadillah. Seorang perempuan berparas cantik dengan sifat cuek dan tingkah laku manis yang tanpa disadarinya berhasil membuat Kala terus memikirkannya. Meski begitu, keduanya datang dari dunia yang berbeda. Mesya tidak menyukai sikap kasar, apalagi laki-laki dengan reputasi playboy seperti Kala. Ia juga memiliki seorang sahabat bernama Fania, yang sifatnya justru jauh berbeda dengannya. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa kisah Kala dan Mesya akan dimulai dari sebuah kejadian sederhana, yang kelak membawa mereka sejauh itu.

~

Hari itu berjalan seperti biasanya. Kala baru saja bangun dengan tubuh yang masih terasa lelah. Dengan nyawa yang rasanya belum terkumpul sepenuhnya, ia meraih handuk yang tergeletak begitu saja di atas sofa, lalu berjalan menuju kamar mandi dengan langkah malas.

"Kalaaa, cepetan mandinya! Kakak mau mandi juga!" teriak seorang perempuan bertubuh mungil dari luar kamar mandi. Handuk sudah tersampir di pundaknya, sementara wajahnya menunjukkan bahwa kesabarannya mulai menipis.

"Iya, iya. Sabar dong! Nggak tahu apa pangeran lagi mandi?" jawab Kala dari dalam kamar mandi, disusul tawa kecil yang terdengar menyebalkan.

"Idih, najis!"

Kala hanya terkekeh mendengar balasan itu.

Setelah selesai mandi, ia segera merapikan penampilannya dan bersiap pergi ke rumah salah satu temannya. Hari itu ia memang sudah berjanji untuk berkumpul bersama teman-temannya sekaligus menghabiskan waktu libur. Tak ingin berlama-lama di rumah, Kala mengambil kunci motor dan berangkat dengan penampilan yang menurutnya sudah cukup keren untuk memulai hari.

"Ke mana aja lu? Lama banget!" protes Ari, salah satu temannya yang bertubuh tegap, begitu Kala tiba.

"Biasa, anak perawan. Mandinya harus wangi dulu," sahut Yoma, disambut tawa kecil dari yang lain.

Kala menepuk punggung salah satu temannya sambil memasang wajah seolah tersinggung. "Sialan lu! Gue tuh sibuk, banyak kerjaan. Nggak kayak lu pada, bisanya ngabisin duit orang tua doang."

Teman-temannya hanya menggelengkan kepala. Mereka sudah terbiasa dengan sifat Kala yang terkenal malas dan susah diajak tepat waktu. Setiap kali mereka membuat janji untuk berkumpul, hampir selalu ada saja alasan yang keluar dari mulutnya. Meski begitu, mereka tetap mengajaknya karena sudah hafal betul dengan kelakuan satu sama lain.

Setelah menghabiskan waktu sebentar untuk berkumpul, Kala mulai kehilangan kesabaran. Ia melirik teman-temannya yang masih asyik menikmati kopi.

"Ayo, cepetan abisin kopinya! Mau berangkat jam berapa lu?" serunya dengan nada ketus.

"Oi, sialan! Kita telat juga gara-gara nungguin lu!" balas salah satu temannya.

Bukannya merasa bersalah, Kala malah tertawa kecil. Baginya, terlambat sedikit bukanlah masalah besar.

Hari itu, mereka berlima memang sudah merencanakan perjalanan ke Puncak Bogor untuk menikmati udara segar sekaligus melepas penat setelah melewati hari-hari yang membosankan. Setelah memastikan semuanya siap, mereka akhirnya berangkat, meskipun waktu keberangkatan mereka sedikit molor karena ulah Kala.

Dua jam perjalanan berlalu hingga akhirnya mereka berlima tiba di Puncak Bogor. Udara dingin menyambut kedatangan mereka, ditemani kabut tipis dan embun pagi yang masih terasa menyegarkan. Suasana itu membuat mereka ingin berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Mereka memilih sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Sambil duduk menikmati udara pegunungan, Kala memesan minuman untuk mereka berlima.

"Mbak, kopi susunya empat, wedang jahenya satu, ya!" serunya kepada ibu penjual kopi.

"Iya, A. Sebentar, ya," jawab ibu itu ramah.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang dan memenuhi meja kecil di hadapan mereka. Uap hangat mengepul dari gelas-gelas minuman, menjadi teman yang pas di tengah udara dingin Puncak.

"Abis ini kita mau ke mana lagi?" tanya Alvares sambil memandang teman-temannya bergantian.

"Yaelah, baru juga sampai. Udah nanya mau ke mana aja," jawab Alvares , lalu menyeruput kopi susunya yang mulai kehilangan kehangatan.

Andy yang sedari tadi menikmati suasana kemudian angkat bicara. "Mending kita salat dulu, yuk. Mumpung masih bisa salat Duha."

"Yaudah, hayuk!" sahut mereka hampir bersamaan.

Mereka pun meninggalkan warung kopi dan berjalan menuju masjid terdekat. Setelah sampai, masing-masing bersiap mengambil air wudu sebelum menunaikan salat Duha.

Saat sedang berwudu, pandangan Kala tanpa sengaja tertuju pada seorang gadis yang berada tidak jauh darinya.

Untuk beberapa saat, gerakannya terhenti.

Gadis itu memiliki paras yang menarik perhatiannya. Ada sesuatu dari penampilannya yang membuat Kala ingin melihatnya lebih lama. Ia yang biasanya tidak pernah kehabisan bahan candaan mendadak terdiam, seolah lupa dengan apa yang sedang dilakukannya.

"Woi! Ngeliatin cewek aja. Buruan wudu, udah mau mulai salat!" tegur Ari sambil menepuk pundaknya.

Kala tersentak dan segera mengalihkan pandangan. "Eh, iya, iya!" jawabnya tergesa-gesa, berusaha bersikap biasa saja meskipun matanya sempat kembali melirik ke arah gadis itu.

Entah apa yang merasukinya hari itu. Setelah salat Duha selesai, Kala buru-buru mengenakan sepatunya, lalu berjalan cepat menuju tempat gadis tadi berada. Ia bahkan tidak sempat menanggapi teman-temannya yang masih sibuk merapikan barang.

Namun, begitu sampai di bawah pohon tempat ia melihat gadis itu sebelumnya, Kala justru mendapati tempat tersebut sudah kosong.

"Ah, anjir! Ke mana tadi tuh cewek?!" gumamnya sambil celingukan ke segala arah.

Yoma yang baru saja menyusul menatapnya heran. "Nyari apaan lu?"

"Tadi gue ngeliat cewek cakep parah di sini. Persis banget duduknya di bawah pohon ini!" jawab Kala dengan semangat, tangannya menunjuk tempat yang kini kosong.

Ari ikut mendekat, lalu memandang pohon rindang itu dengan wajah jahil. "Ngeliat kuntilanak kali lu. Mana ada cewek duduk sendirian di bawah pohon rindang begini!"

Seketika, teman-temannya tertawa terbahak-bahak.

Namun, Kala sama sekali tidak ikut tertawa. Pandangannya masih sibuk menyapu sekitar, berharap bisa menemukan sosok gadis yang baru saja menarik perhatiannya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang bahkan belum dikenalnya, tetapi sudah berhasil membuatnya penasaran.

Sayangnya, pagi itu ia hanya mendapatkan satu hal: pertemuan singkat yang meninggalkan begitu banyak pertanyaan.

Untold ChaptersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang