(ADA BAIKNYA FOLLOW AKUN AKU SEBELUM BACA)
🌠
Haechan itu seperti terbuat dari api. Emosinya dapat tersulut bahkan hanya karena percikan kecil.
Haechan kabur dari rumah dan menjadi karyawan minimarket. Lalu dia bertemu dengan Gia, si gadis kecil yan...
Check ombak dulu gaessss, soalnya aku itung tadi ada 3/4 orang gitu yang mau Haechan.. Hehehehe
Semoga sukaaaaa 💚
Happy Reading 💚
🔥
Memang benar ya ungkapan yang bilang kalau kalian jangan pernah membandingkan hidup kalian dengan milik orang lain. Karena entah gimana pun mungkin ada seseorang yang akan mendambakan kehidupan yang kalian punya sekarang.
Itulah yang selalu Haechan rasakan.
Selalu dibandingkan dengan sepupunya yang serba hebat dalam segala hal, maka Haechan jadi menginginkan kehidupan yang Jeno punya. Jika kalian merasa kasihan dengan hidup Jeno seperti yang sudah cowok itu ceritakan, tapi entah bagaimana Haehan bahkan bersedia menukarkan segala hal berharga dalam hidupnya agar bisa memiliki kehidupan seperti yang Jeno punya.
Entah siapa yang memulai. Dulu mereka berempat selalu bersama dan tertawa. Tidak pernah memikirkan embel-embel untuk menjadi yang terbaik sehingga mereka bersaing, tidak lagi serasa menjadi saudara.
"Gue benci jadi penurut, dan lo tau seberapa hebatnya gue jadi pembangkang!"
Lalu sebuah tinjuan keras menerjang wajahnya. Haechan dapat merasakan ada yang mengalir deras dari dalam hidungnya yang membuat cowok itu menyekanya dengan tangan. Haechan mendecih dan tersenyum miring saat melihat cairan merah itu ada ditangannya.
"Bawa dia masuk kekamarnya dan jangan biarkan dia keluar sebelum sadar akan kesalahan, Tam."
"Lo mau ngurung gue? Really? I'm 17th now!"
"If you realize that you are 17th, then you should be aware and obey me! I'm your father!"
"Cih!" Haechan malah meludah kelantai, didepan sang ayah yang rahangnya semakin mengeras melihat kelakuan sang anak. "Fuck! I don't need an abusive father like you! Pantas istri lo pergi ninggalin lo sendirian sekarang!"
"Rustam!"
Lelaki yang berdiri dibelakang sang ayah maju, lalu mulai menyeret Haechan hampir dengan seluruh tenaganya, karena anak ini berdiam diri laksana batu. Rustam berhasil menarik Haechan menuju tangga dan menaikinya. Sampai kepalanya tertoleh karena Ayahnya kembali bersuara.
"Jangan pernah keluar dari rumah sampai kamu setuju untuk masuk akademi!"
"Gua nggak mau!" teriak Haechan membalas seruan sang ayah meski masih ditarik Rustam. "Gue nggak mau berakhir kayak elo, sialan!"
Ayahnya yang bernama Hedar, langsung memijat kepalanya yang terasa sakit. Mengurus Haechan bahkan lebih sulit daripada melatih puluhan ribu tentara disaat dirinya muda dulu.
Haechan itu seperti terbuat dari api. Emosinya dapat tersulut bahkan hanya karena percikan kecil.
Keras kepalanya amat sangat sulit tertandingi oleh batu sekali pun. Kasar dan pemberontak, entah bagaimana bisa ia membesarkan Haechan menjadi semakin parah?
Hedar menghela napas kesal dan mencoba untuk sadar diri. Kalau Haechan itu bukan anak kandungnya, mungkin saja dia tidak hanya memberikan tinjuan diwajah itu.
Bagaimanapun, Hedar menyanyangi Haechan walau anaknya itu sangat membencinya.
🔥
Haechan duduk tenang diatas ranjangnya karena dia sedang menunggu. Ditengah malam Haechan mulai bergerak karena dia tau, disaat inilah rumahnya akan menjadi sepi. Tidak ada lagi siapapun disini kecuali satu penjaga yang menjaga di depan kluster yang cukup jauh dari rumahnya. Mengambil tas travel yang berisikan pakaian, Haechan keluar bukan dari pintu melainkan dari jendela yang sudah dia pecahkan kacanya.
Haechan melompat begitu saja dari kamarnya yang dilantai dua. Kakinya terasa sakit, akibat dari lompatan dan juga beberapa pecahan kaca yang menancap menembus ditelapak.
Menahan rasa sakit itu, Haechan berjalan menuju ruang tengah rumahnya masih dengan cara yang sama, dengan memecahkan jendela kaca besar itu. Haechan menatap ke segala penjuru ruang tengah rumahnya yang penuh dengan segala macam sertifikat, piala, piagam, serta ijazah yang dia dapatkan dari berbagai lomba yang dia ikuti sejak kecil. Ayahnya memang sengaja menaruhnya disana, untuk memamerkan pada siapapun yang datang untuk menantikan decakan kagum dari mereka.
Haechan bergerak lagi. Mengumpulkan semuanya dengan kaki pincang. Setelah menjadi satu, Haechan mulai menyalakan api dari korek yang diambilnya dari saku. Menatap kearah CCTV yang menyorot langsung padanya, lalu tersenyum miring menunjukkan betapa bengisnya dirinya saat ini.
Haechan lalu membiarkan api yang menyala itu jatuh dan membakar segala macam yang menunjukkan penghargaan itu. Lalu berlari pergi keluar dari rumahnya yang mirip istana.
🔥
Haechan Anshel Wijaya, cowok berusia 17 tahun itu bisa dikatakan sedang menantang maut setelah menolak mentah-mentah permintaan sang Papa yang memerintahnya untuk mengikuti tes Akademi Kepolisian dan membakar semua sertifikat-sertifikat kemenangannya dalam setiap lomba yang diikutinya.
Lalu kabur dari rumah dan mengambil langkah untuk putus hubungan dengan Ayahnya bukannya membuat Haechan terpuruk dan menyesali tindakannya malah membuat cowok itu semakin congkak dan merasa bahagia dengan keputusannya walau nantinya harus hidup menggembel karena dia sudah membuang sendok perak yang biasa ada dimulutnya sejak dirinya dilahirkan.
Haechan tertawa dijalan. Walau kakinya sakit dan jalannya pincang, namun dia merasa...
Bebas...
.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.