Eps 1. Awal Jumpa

645 42 14
                                        

Jarum pendek jam telah menunjuk kearah angka 7, artinya harus segera kukemas tas ku untuk segera berangkat.
Namaku Thomas Wagner, aku adalah remaja 16 tahun yang tak memiliki teman.

Ya, Boston adalah kota yang menjadi pelarianku bersama ibuku semenjak perceraianya dengan ayahku beberapa pekan yang lalu. Tempat yang benar - benar berbeda, suasana yang baru, dan sesegera mungkin aku harus beradaptasi dengan semua orang.

"Kau siap nak?" kata ibuku sambil mengusap rambutku.

"Astaga ibu, aku bukan anak umur 5 tahun lagi sekarang." kesalku menerima perlakuannya.

"Aku ibumu Tomy. Tetap jadi anak ibu yang baik ya!. Nah, kau bisa berangkat sekarang!" ucapnya sambil merapikan bajuku dan mencium pipiku.

"Baik bu, Thomas berangkat." sambil berbalik dan menenteng tas.

"Hati - hati nak, semoga kau segera dapat teman dekatmu." teriaknya padaku yang sudah menaiki sepeda diluar.

Akupun berangkat. Dengan penuh kecanggungan, kukayuh sepeda menuju sekolah baruku.

Beberapa menit berselang diperjalanan, akhirnya sekolah baruku terlihat dari jauh, akupun lantas mengambil tempat untuk memarkirkan sepeda dan menarik nafas dalam - dalam sambil menggenggam erat tali tas untuk meyakinkan diri.

Aku bingung harus kearah mana, karena disini aku seperti rusa yang kehilangan kawanannya, tak tahu arah dan bisa saja aku hilang.

Saat berjalan entah kemana arahnya, tiba - tiba suara feminim memanggilku jelas dari belakang.

"Hey!" sahutnya.

"Eh, iya." jawabku sambil membalikan badan kemudian mengayunkan tangan ragu.

Ia pun segera menghampiriku.

"Anak baru?" katanya lagi.

"Iya, ini hari pertamaku," ucapku yang mulai nyaman.

"Oh hai, aku Lisa, aku kelas 10," katanya sambil menyodorkan tangannya padaku.

"Hai Lisa, aku Thomas, aku juga kelas 10, tapi aku tak tahu dimana kelasku." jawabku, namun tak kujawab jabatan tangannya.

"Aku bisa menunjukanmu jalan. Mari kuantarkan kau ke kantor guru, kau bisa bertanya - tanya disana." ujarnya.

"Oh, terima kasih Lisa, kau sangat membantu." jawabku.

"Mari!"

Kamipun segera beranjak. Mau tak mau aku harus mengikutinya karena ia adalah satu - satunya petunjuk arah bagiku. Ia mengantarku menuju kantor guru. Setelah tepat didepan pintu kantor, ia pun meninggalkanku.

"Senang bertemu denganmu Thomas, sampai nanti." pamitnya sambil melambaikan tangan lalu pergi dari hadapanku.

Namun, ada suatu keanehan terjadi, tadi ia berkata akan mengantarku ke kantor guru, namun kenapa dipintu ini tertulis, "Ruang Kepala Sekolah".

"Astaga, katanya ia mau mengantarku ke kantor guru, kenapa disini tertulis kepala sekolah?" pikirku dengan sedikit ragu.

Tapi, sebagai anak baru, apapun pasti dilakukan saat tak tahu harus kemana arah kaki ini melangkah. Akupun melawan raguku dengan mulai mengetuk pintu ruang kepala sekolah perlahan.

"Permisi," salamku

"Iya masuk," jawab seseorang dari balik pintu dengan suara yang menunjukan pria berumur 40 tahunan keatas.

Akupun membuka pintu itu perlahan dan mulai masuk keruangan kepala sekolah dengan sedikit gugup.

"Selamat pagi pak," salamku

"Selamat pagi nak, kau pasti Thomas, murid baru itu ya?, kemarin saya sudah bertemu dengan ibumu, katanya kau anak yang baik." tanyanya sambil tersenyum ramah padaku.

"Em, iya pak," jawabku pelan.

"Baiklah, apakah ada yang bisa saya bantu?" imbuhnya.

" Em pak, saya bingung mencari kelasku disebelah mana," tanyaku agak malu kepadanya.

"Hmm nak, jika kau butuh informasi, kau tidak harus langsung menghadap saya, kau hanya perlu temui dewan guru saja." celetuknya sambil tertawa - tawa renyah.

"Oh maaf pak, saya benar - benar tidak tahu," aku meminta maaf padanya.

"Astaga, kurang ajar sekali gadis itu, dia mengerjaiku bahkan saat kita baru pertama kali bertemu. Lihat saja kau nanti!" geramku dalam hati yang menanggung malu karena menerima semua kejahilan gadis tadi.

"Iya, tidak apa - apa nak, karena ini hari pertamamu, saya memakluminya. Dan karena kau sudah terlanjur disini, aku sendiri yang akan mengantarmu menuju kelasmu." ucapnya sambil berdiri.

"Benarkah, terima kasih pak." jawabku.

"Tak perlu berterima kasih, mari!" tambahnya dengan menunjuk kepintu keluar.

Akupun segera berdiri dan kemudian diantarnya menuju kelasku, kami sudah cukup berbincang - bincang diperjalanan saat menuju kelas, lalu pada akhirnya kamipun tiba didepan pintu kelasku. Pemandangan kegiatan belajar mengajar terlihat begitu seriusnya dari luar. Terlihat didalam kelas murid - murid yang lain tengah fokus mendengarkan penjelasan dari guru yang sedang mengajar.
Pak kepala sekolah pun mengetuk pintu kelas dan menyapa,

"Permisi buk, maaf mengganggu, ini siswa baru yang kemarin mendaftar, saya kira ini ruangannya."

"Oh, baiklah pak, terima kasih. Mari nak, silahkan masuk." jawab buk guru dengan ramahnya.

"Silahkan nak, kuharap kau betah sekolah disini ya." ucap pak kepala sekolah.

"Terima kasih sekali lagi pak." kataku berterima kasih untuk terakhir kalinya.

Pak kepala sekolah pun hanya memberikan senyuman dan segera pergi. Setelahnya, aku masuk kedalam ruangan kelasku yang kira - kira ada 30 an orang calon temanku dan terlihat salah satunya adalah Lisa.

"Selamat pagi nak, bagaimana kabarmu, sekarang saatnya kau memperkenalkan diri kepada teman - teman barumu!" buk guru itu memintaku.

Akupun diminta berdiri ditengah dan memperkenalkan diri.

"Em, selamat pagi semua, namaku Thomas Wagner, aku berasal dari Wisconsin, aku tinggal bersama ibuku, dan ..." paparku dengan sedikit kurang percaya diri.

"Oh hai Thomas, aku juga dari Wisconsin, ibuku mengusirku dari sana dan mengirimku ke tempat membosankan ini." kata salah satu murid botak dibelakang.

Kemudian semua murid tertawa mendengar celetukan anak itu, dan ia malah terlihat semakin bangga setelah ditertawakan.

"Hey, Eric, tidak boleh bicara seperti itu, kau mau ibu kirim ke toilet?." ketus buk guru.

Nada tertawa pun semakin menjadi - jadi, sementara anak yang bernama Eric itu tampak mulai malu sendiri.

"Sudah, sudah, sstt, harap diam semua. Anak - anak tolong diam!" teriak buk guru yang sedikit emosi.

Setelah semuanya terdiam, ibu guru pun menyuruhku duduk disalah satu bangku yang kosong.

"Nah, Thomas, kau bisa duduk disana, disebelah Lisa." pinta buk guru sambil menunjuk bangku kosong disebelah Lisa.

Ya, di sebelah Lisa, gadis yang telah mengerjaiku tadi. Akupun beranjak pergi dengan percaya diri menuju bangku kosong itu, dan kemudian menaruh tasku di meja, lalu duduk, siap untuk belajar.

"Hai Thomas, bagaimana rasanya kursi tamu ruang kepala sekolah?." bisik Lisa dari sampingku.

"Oh ya Lisa, kursi itu sangat nyaman, kau harus coba. Kau tahu?, mungkin suatu saat nanti kubuat kau mencobanya." tuntutku yang sama sekali tak melihat kearahnya.

THE LAST SHELTER (Dreame)Stories to obsess over. Discover now