Pulang ke Indonesia dengan mimpi yang patah adalah mimpi buruk bagi Natha. Sang atlet kebanggaan timnas itu kini harus menjalani rehabilitasi, menjauh dari ingar-bingar liga Amerika. Namun, ketenangannya terusik saat Kelana-sahabat kakaknya yang san...
Sorak sorai itu masih terdengar jelas di kepala Natha. Gemuruh tribun, kilatan kamera. Suara komentator yang meneriakkan namanya seolah ia adalah masa depan olahraga Indonesia.
Dan mungkin dulu memang begitu.
Jaganatha Anagata Nawasena-golden boy kebanggaan timnas. Atlet muda yang terbang jauh ke Amerika dengan mimpi sebesar stadion tempatnya bertanding. Semua orang percaya ia akan berhasil, menjadi lebih besar, Lebih hebat.
Sampai satu cedera menghancurkan semuanya.
Kini, yang tersisa hanyalah langkah pincang, jadwal rehabilitasi yang melelahkan, dan berita-berita basi tentang 'karier yang mungkin berakhir lebih cepat.'
Dan Natha pun pulang, Indonesia menyambutnya dengan hujan.
Bandara malam itu terlalu ramai untuk seseorang yang ingin menghilang. Topi hitam menutupi wajahnya, hoodie menutupi tubuh tingginya, tetapi ia merasa tatapan orang-orang terasa menusuk.
Kasihan banget ya.
Sayang banget cedera.
Padahal dulu hebat.
Natha mempercepat langkah, Ia hanya ingin sampai rumah, tidur lalu Melupakan semuanya.
Namun semesta rupanya belum selesai mempermainkannya.
Karena saat hari pertama dirinya selesai fisioterapi di rumah sakit dan pergi ke apartemen kakanya, orang yang ia lihat justru seseorang yang paling ingin ia hindari.
Kelana
Perempuan berambut hitam yang panjang sedang duduk santai di sofa dengan kaos putih pendek dan wajah menyebalkan yang masih sama seperti dulu.
Seolah waktu tidak pernah berjalan untuk laki-laki itu.
Dan sialnya, jantung Natha masih bereaksi dengan cara yang sama.
"Ngapain di sini?" suara Natha dingin.
Kelana menoleh perlahan. Tatapannya turun ke kaki Natha yang masih dibalut penyangga sebelum kembali naik menatap wajahnya.
Lalu perempuan itu tersenyum kecil, senyum yang dulu selalu berakhir buruk bagi Natha.
"Welcome home, Nat."
Dan sejak detik itu, Natha tahu satu hal. Pulang ke Indonesia adalah mimpi buruk terbesarnya.
Karena,
Kelana.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.