Prolog

83 15 2
                                        

Tiba di gerbang sekolah, aku berharap kehidupan masa mudaku berjalan dengan baik. Saat aku di lorong terdengar suara memanggilku

"Aoi, sudah kuduga itu kau". Aku tak menyangka, Jika dia adalah temanku waktu smp, Yuna.

Akupun terkejut kedatangan dirinya disekolah ini. Karena sudah lama tidak bertemu, kami pun berbincang bincang, sampai dia membicarakan hal yang membuatku penasaran

"Hati-hati ya aoi, jangan sampai deh pria yang kulihat tadi sekelas sama kita,". ujar Yuna

Akupun hanya biasa saja saat Yuna mengatakan itu karena aku tidak mengetahui siapa dia. Sebelum bel berbunyi, aku melihat daftar kelas dan tempat dudukku.

"Yah aoi kita ngga sekelas,". Yuna berkata dengan sedih. Bel pun berbunyi, aku pun bergegas ke kelas

Sesampainya, seperti melihat anjing hitam yang menunggu tuannya, aku melihat pria berambut hitam itu duduk dan melihat ke luar jendela dengan tatapan yang dalam, mata hitamnya yang memantulkan cahaya itu membuatku berpikir dia pria baik dan pendiam walau dengan wajah seperti preman jalanan.

Melihat orang lain berbincang dengan teman sebangku, suasana kami pun sangat canggung. Aku mencoba menyapa dan mengajaknya berkenalan

"Diamlah, jangan bicara padaku,". Pria itu bilang dengan melihat ke luar jendela, membuat diriku yang berpikir baik menjadi cuek dengannya.

Wali kelas kami pun masuk dan memperkenalkan dirinya
"Selamat pagi anak-anak, saya adalah wali kelas kalian, panggil saja Bu Morika. Salam kenal". Lalu guru menyuruh setiap murid memperkenalkan dirinya. Tiba giliranku, aku gemetaran karena jarang berinteraksi dengan orang. Rasa gemetarpun belum hilang sampai tidak sadar kalau aku tidak mendengarkan pria yang sebangku denganku memperkenalkan diri.

Bel Istirahat pun berbunyi, Yuna menghampiri kelasku dan mengajak untuk melihat-lihat ekstrakulikuler, kami melihat ekstrakulikuler olahraga yang ada namun tidak ada yang menarik, aku dan yuna mencoba melihat ekstrakulikuler kesenian

"Nyari ekstrakulikuler yang cocok ya?"kakak kelas yang ramah menyapa.

"Iya kak, saya Yuna dan teman saya ini Aoi". Yuna memperkenalkan diri kami

"Aku Ryo,Salken ya.mau aku tunjukin kegiatannya?"

"Iya kak Ryo". Bilang yuna

Ekstrakulikuler kesenian menarik perhatianku dan Yuna. Selain suasananya yang menyenangkan dan tenang, orang-orangnya pun sangat ramah. Kami memutuskan akan masuk di ekstrakulikuler seni jika lembarannya sudah dibagikan, karena msih ada waktu istirahat aku dan Yuna menuju ke kantin. Disini sangat ramai dan aku tidak melihat kursi yang tersisa,

" Aoi,ada tempat duduk yang tersisa disana". Kata Yuna sambil menunjukkan tempat duduk itu,namun ada pria yang sebangku denganku ketika dikelas.

"Aoi,itu orang yang aku maksud". Yuna berbisik padaku,ternyata orang yg dimaksud oleh yuna adalah pria itu,akupun memberitahu Yuna bahwa aku sekelas bahkan sebangku dengan dia.

"Apa?!!, kau sebangku dengannya?!" Yuna mengatakan dengan keras hingga menarik perhatian sekitar, karena tidak ada pilihan lain kami pun duduk di kursi kantin yang berhadapan dengan pria itu tanpa bicara dulu dengannya itu.

"Siapa bilang kalian boleh duduk sini?Sial mengganggu saja!". Pria itu pun berdiri dan meninggalkan tempat duduknya.aku heran, kenapa dia sendirian?, kenapa dia selalu menghindari orang orang?, hingga tak sadar bahwa Yuna kaget dan ketakutan.

"Serem banget Aoi, kenapa kamu biasa saja?". Yuna berkata dengan merinding. Pria itu seperti anjing hitam yang menggonggong ketika didekati oleh orang asing
     
Aku menuju ke kelas lagi karena bel sudah berbunyi. Karena aku memikirkan hal yang terjadi di kantin, aku menabrak orang dan terjatuh. Kertas-kertas yang dibawanya pun berantakan. Kacamataku juga jatuh tidak tahu dimana.

"ini kacamatamu". Dia memberikan kacamataku. Penglihatanku sudah jelas karena sudah memakai kacamata, kakak itu manis dan rapi. Entah kacamataku atau mataku membuatku melihat kakak itu tak berkedip

"Kamu gapapa kan?Halo?". Melambaikan tangannya didepan mataku

"O-oh,ga-gapapa kok kak". Aku bicara dengan gugup

"Maaf ya aku buru-buru,byee". Tiba tiba kakak itu berjalan dengan cepat. Akupun segera menuju ke kelas

Aku tiba di kelas dan langsung duduk ditempatku. Aku sedikit takut akibat kejadian tadi di kantin, ditambah lagi dia duduk sebangku denganku. Lalu dari pintu kelas,seseorang membuka dari luar masuk ke kelas, ternyata dia orang yang kutabrak tadi.

"Halo semuanya, saya Hirotaka biasa dipanggil Hiro. Saya ketua OSIS disekolah ini. Saya ingin membagikan kertas ikut serta ekstrakulikuler, nanti serahkan kepada orang tua jika kalian sudah memilih ekstrakulikuler itu dan kumpulkan besok di ruang OSIS". Ucap ketua OSIS dengan lantang. Kertas ikut serta ekstrakulikulerpun dibagikan dan kelas mulai ramai membicarakan ini.

Akhirnnya bel yang kunantikan berbunyi, menandakan bahwa istirahat dimulai. Aku menuju ke kelas yuna dan mengajaknya, namun dia sedang bersama teman barunya. Aku berpikir sepertinya aku juga harus mencari teman baru namun ku sangat gugup ketika memulai pembicaraan. Aku berkeliling sekolah karena aku belum melihat semua bangunan disini. Lalu aku menuju ke taman dan melihat sebuah pohon besar, aku menghampiri pohon itu dan singgah karena sangat menarik bagiku. Tiba-tiba saja aku mendengar suara nafas yang nyaring seperti sedang tidur. Suara itu berasal dari balik pohon, aku penasaran dan melihat ada apakah dibalik pohon.

"Kau lagi!apa nggak cukup menggangguku dari tadi?!" ternyata pria bermuka preman yang duduk sebangku denganku.

"A-aku minta m-maaf, aku akan pergi mencari tempat lain. Maaf ya" aku langsung lari terbirit birit karena tidak ingin berurusan dengannya

Akhirnya aku kembali ke kelas dan menunggu hingga istirahat berakhir. Istirahatpun usai tiba dan pria berwajah preman itu kembali ke kelas dan duduk di sebelahku. Karena rasa takutku dengan dia aku tidak fokus mengikuti pelajaran Bahasa Inggris. Sampai bel pulang sekolah, aku bergegas mengemas dan pulang. Kuharap besok hari akan lebih baik lagi

EvolutionWhere stories live. Discover now