Hargai karya saya dengan tidak menjadi Silent Reader, tidak sulit untuk memberikan Vote dan Coment nya kan.
Selamat Membaca
___________________________________________
Aku pernah terluka, dihempas duka lara.
Tergagu pilu, terbunuh oleh kenyataan.
Mencoba mengikhlaskan, tak berujung melupakan.
Sudah berupaya menjaga hati, agar kelak tak lagi mati.
Tapi takdir tak pernah berhenti, titah semesta kembali melukai.
Bibirku tersenyum, nafasku tercekat harapan semu.
Selalu saja gagal perihal meninggalkan.
Kamu memang candu yang tak bisa ku hindari.
Dan beginilah akhirnya, termenung sendu terjebak pusaran rindu.
-Sang Senja
___________________________________________
Lelaki itu tersenyum melihat sebuah kertas berisi kata kata yang menyayat hati. Dia selalu penasaran, siapa kah gadis yang selalu memasang kata kata yang berhasil menyayat hatinya dengan menggunakan kertas kuno yang ditempelkan nya dimading hingga berhasil membuatnya merasakan kesedihan yang dia alami? Dia selalu ingin tau itu. Sang Senja pemilik kata yang selalu membuat ia kagum dengan isi sajak yang selalu ia tulis.
"Langit!" Lelaki itu menoleh, mendengar namanya terpanggil.
"Kenapa?"
"Lo ngapain kesini? Gue nyariin lo daritadi, lo pasti liat sajak lagi kan?" ujar seorang laki-laki yang menggunakan topi terbalik
"Iya."
"Kebiasaan banget sih lo nongkrong di mading, ga ada tempat lain apa? gue sampe bosen nyari lo terus dan berujung nemuin lo dimading," sinis laki laki itu sambil melipat tangannya.
"Gue ga minta lo nyari gue Rey." ya, dia Rey sahabat nya.
"Gue nyari lo karena gue bosen, ga ada yang bisa gue ejek. Si Rian juga kemana si anjer ilang ilangan mulu kaya lo, punya dua curut kagak ada yang bener. selalu ngilang, lo pada demen banget gue cariin!"
Langit yang mendengar itu, hanya bisa mendengus sembari memasangkan Earphone di telinganya. Sahabat nya yang satu ini selalu begitu, cerewet.
"Si anjer, kebiasaan selalu masang Earphone kalo gue lagi ngoceh, kit ati tau ga,"
Langit hanya memberi tatapan malas kepada Rey, Ia langsung meninggalkan nya tanpa mau mendengarkan ocehannya lagi. Ia memasukkan tangannya ke kantung celananya sambil memakan permen karet tanpa perlu peduli dengan gadis gadis yang selalu menatapnya sepanjang ia berjalan.
Sosok langit pasti tidak asing di mata semua murid SMA Jaya, laki laki yang mempunyai garis wajah tampan dengan dihiasi lesung pipi yang akan terlihat saat ia sedang tersenyum serta pemenang kejuaraan Kimia tingkat Nasional, gadis mana yang tidak akan terpikat denganya?
***
"Langit!"
"Woi anjeng!"
"Langit anjeng!"
"Liat contekan woi!"
Langit melirik tajam ke orang yang memanggilnya dengan tidak sopan saat sedang Ulangan Harian Matematika. laki laki itu sangat berani meminta contekan di jam pelajaran Bu Ira, guru yang terkenal tegas dan juga galak.
YOU ARE READING
Dibawah Langit Senja
Teen FictionLangit seorang yang mempunyai garis wajah tampan dan populer di sekolahnya, ia tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang selama ini ia cari dan kagumi dengan setiap sajak yang ia buat. Namun Langit tidak mengetahui gadis itu menyimpan banyak...
