"Ma, Bian berangkat," Bian berlari melewati ruang tamu dengan terburu-buru, menuju pintu depan rumahnya dan dengan cepat memasang sepatu sneakers merah kesayangannya.
"Hati-hati dan jangan pulang terlalu malam," ucap Mamanya yang muncul dari arah dapur dengan mengelap kedua tangan yang basah sehabis mencuci piring.
"Siap,ma!" Bian mencium pipi Mamanya, lalu dengan segera membuka pintu rumahnya dengan semangat. Mamanya hanya bisa menggelengkan kepala dengan heran melihat tingkah laku putri satu-satunya itu yang terlalu bersemangat sejak pagi.
Pagi tadi ketika Bian baru saja menyelesaikan olahraga paginya, tiba-tiba saja Saga, pacarnya selama sebulan ini menelponnya. Suatu hal diluar kebiasaan yang membuat Bian benar-benar merasa senang dan gugup secara bersamaan karna ini adalah pertama kalinya Saga menelponya terlebih dulu, biasanya dirinyalah yang menghubungi laki-laki itu terlebih dulu.
Dengan tangan yang sedikit gemetar dan jantungnya yang berdebar dengan sangat kencang, Bian menjawab panggilan telpon itu.
"Halo?" suaranya terdengar sangat pelan dan sedikit bergetar.
"Bisa nemenin Gue nyari kado buat Tiara?" suara Saga yang selalu terdengar malas dan berat terdengar dari seberang sana.
"Bisa," tenggorokannya tiba-tiba saja terasa kering sekarang, ah dia memang belum menyentuh botol minumnya.
"Oke. Jam 11 di Grand Mall," lalu dengan begitu panggilan itupun berakhir.
Bian meletakkan kedua tangannya di dada, merasakan jantungnya yang masih belum berdetak dengan normal. rasanya ada sesuatu di dalam dirinya yang sedang meledak-ledak, dia ingin berteriak dengan sangat kencang. Membagi rasa senangnya ini pada orang lain. untuk pertama kalinya Saga mengajaknya bertemu terlebih dahulu!
***
Bian berlari menuju halte bus dengan lebih cepat. Bus bewarna biru yang akan dinaikinya telah berhenti tepat di depan halte, dia tentu tidak ingin melewatkan bus itu dan menunggu lagi selama lima belas menit untuk bus selajutnya.
"Bang, tungguin, Bang!" Bian berteriak,menahan bus yang hampir saja meninggalkannya. Pintu bis terbuka, membiarkan tubuh Bian yang terbalut jaket memasuki bis. Dia mengucapkan terimah kasih terlebi dulu pada supir dan kernet bis sebelum ahkirnya duduk di bangku dekat jendela. Bian memasang earphone di telinganya dan mulai memutar lagu dari playlist ponselnya.
***
"Woah," Bian melangkahkan kakinya lebih cepat ketika mendapati sebuah bukit ada di depannya. Dia naik ke atas bukit itu dengan sedikit susah payah, bersyukur dia memakai sepatu sneakers biasa hari ini. ketika sampai di atas sana dia semakin merasa takjub dengan bunga warna-warni yang sedang bermekaran. Belum pernah Bian melihat pemandangan seperti ini dimana ada banyak sekali bunga dengan berbagai warna bermekaran.
Setelah Bian dan Saga berkeliling untuk mencari kado ulang tahun untuk Tiara, adik Saga, selama dua jam akhirnya mereka menemukan kado yang pas untuk dibeli, sebuah boneka kelinci pink yang lucu. Dan karena Bian tidak ingin menyia-nyiakan momen langkah seperti ini, maka akhirnya Bian memutuskan untuk mengikuti Saga yang berencana akan hunting foto. Laki-laki itu memang hobi sekali memotret. Hasil jepretan gambarnya juga pernah memenangkan beberapa piala lomba. Membuat Bian semakin kagum dengan pacarnya ini. Astaga, menyebut Saga sebagai pacarnya seperti saat ini rasanya agak sulit dipercaya. Membuat Bian tidak bisa berhenti untuk tersenyum bahagia.
Bian kembali melangkahkan kakinya lebih jauh menuju ujung bukit. Dia melihat hamparan pemandangan kota juga di bawah sana. rumah-rumah terlihat kecil dan saling berdempetan. Kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya tampak seperti mainan yang sedang dimainkan dengan remote control. Bian tidak bisa berhenti tersenyum sekarang.
YOU ARE READING
Bad Romance
Teen FictionTentang hubungan Bian dan Saga yang sebenarnya didasari dengan cinta bertepuk sebelah tangan.
