THE GERONTOPHILE GIRL
PART 1
Bel jam pelajaran pertama telah berbunyi lima menit yang lalu. Semua siswa-siswi SMA Arunika telah masuk ke kelasnya masing-masing, kecuali Tita. Siswi yang mengenakan sepatu pantofel Paskibra itu terlihat masih berjalan santai menuju ruang kelasnya. Ia tahu, pagi ini semua guru tidak akan masuk kelas karena sedang mengadakan rapat. Namun ia yakin teman-teman sekelasnya belum mengetahui hal itu.
Saat mendekati pintu kelasnya yang bertuliskan "XI-MIPA", tiba-tiba sebuah ide muncul di otak cerdasnya. Ia menyeringai sejenak lalu secara tiba-tiba ....
Brakkk
Tita membuka pintu kelas dengan sangat keras dan terkesan terburu-buru. Ia berlari menuju tempat duduknya sambil berteriak. "Ibu biologi datang woy!"
Sontak seluruh siswa di kelas itu berlarian menuju kursinya masing-masing dengan wajah panik. Semua wajah-wajah panik itu seketika tergantikan dengan wajah kesal kala mendengar tawa dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Tita?
"Kupu-kupu gajah-gajah." Tita berbicara dengan nada pantun seraya berusaha menghentikan tawanya. "Ditipu mau ajah. Hahaha." Tita kembali tertawa terbahak-bahak di depan seluruh teman sekelasnya. Semuanya menggerutu kesal dengan tingkah absurd Tita. Namun tak sedikit di antara mereka tertawa karena terlalu menikmati kepanikannya.
"Semua guru hari ini rapat, jadi sekarang jamkos¹, gaes." Tita mengatakannya dengan nada bersemangat. Namun ada yang aneh, tiba-tiba suasana kelas menjadi hening. Tidak ada lagi yang tertawa ataupun memarahi Tita karena tindakannya barusan. Tita mulai curiga. Tubuhnya membeku ketika melihat kode tatapan mata yang diberikan teman sebangkunya. Ia menoleh ke arah objek tatapan sahabatnya dan terkejut mendapati guru biologi berdiri di belakangnya.
Bukan Tita namanya jika tidak bisa mengendalikan suasana. Ia segera menampilkan senyum sopan andalannya dan mencium tangan Bu Niken, sang guru Biologi. Setelah itu ia segera duduk menempati kursi kosong di sebelah sahabatnya, Kayla. Kayla menahan senyumnya dan berkata, "Absurd, as always." Tita hanya membalas dengan seringai konyolnya.
"Hari ini ibu hanya akan memberikan tugas untuk kalian kerjakan karena jam 08.00 nanti semua guru akan mengikuti rapat." Semua siswa tidak bisa menyembunyikan senyum senangnya, termasuk Tita. Kemudian siswi berwajah hitam manis itu bergumam, "Nah, kan rapat. Pada gak percaya, sih."
"Tapi karena rapatnya belum dimulai, ibu akan membentuk kelompok belajar terlebih dahulu untuk memudahkan kalian dalam mengerjakan tugas kali ini. Kelompok ini juga berlaku untuk tugas-tugas selanjutnya selama satu semester." sambung Bu Niken. Semua ekspresi senang itu pudar ketika mendengar ucapan Bu Niken.
***
Siang itu Tita duduk termenung menatap jendela kelasnya di lantai dua yang menunjukkan pemandangan jalan raya. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan baju Pramuka lengkap. Sambil menunggu waktu latihan Pramuka dimulai, ia asyik memandangi para siswa SMA juga warga yang baru pulang shalat jum'at. Tiba-tiba matanya berbinar menatap sebuah objek yang menarik perhatiannya. Kemudian ia berteriak penuh semangat memanggil temannya. "Kay, Pus, sini! Buruan, penting!"
Kayla dan Puspa pun menghampiri Tita dengan tergesa-gesa. "Apaan, Ta?" tanya Puspa dengan wajah penasarannya. Ia mulai curiga melihat senyum mengerikan di wajah sahabatnya itu. Terlebih saat telunjuk Tita mengarah pada seorang pria yang memakai baju koko berwarna tosca di bawah sana.
"Itu siapa? Kalian tau gak?" tanya Tita penuh semangat. Kayla dan Puspa kompak memutar bola matanya. Meski begitu, Kayla tetap menjawabnya."Itu Pak RT di sini, namanya Pak Endang."
"Wih, ganteng. Udah nik---" Ucapan Tita terpotong oleh Puspa yang lebih dulu menyelanya.
"Udah punya anak, umurnya juga udah 50 taun." ujarnya dengan malas.
"Kenapa? Suka? Hadeeeh ... sadar, Ta! Itu om-om udah tua, udah punya anak. Lagian kenapa sih suka banget sama yang tua kayak gitu? Cowok di sekolah ini juga banyak yang ganteng tau." ujar Kayla dengan omelan khas emak-emak.
Kayla mendengus kesal dengan sahabatnya yang aneh ini. Entah apa yang menyumbat otaknya, sehingga ia selalu menyukai pria yang selisih usianya sangat jauh dengannya. Banyak siswa tampan yang menyukainya tapi selalu ia tolak dengan alasan usia mereka tidak cocok dengannya. Ia hanya menyukai pria yang menurut Kayla lebih cocok disebut lansia. Bahkan Tita pernah mengatakan bahwa tidak ada siswa di sekolahnya yang tampan karena standar tampan menurutnya adalah ketampanan pria yang sudah memiliki keriput di wajahnya.
Tita memutar bola matanya malas. "Cowok di sini mana ada yang ganteng. Apalagi seganteng pak Endang. Lagian, Pak Endang itu bukan tua, tapi de-wa-sa." ujarnya dengan menekankan kata 'dewasa'. Matanya berbinar kembali ketika menyebutkan nama pria paruh baya itu. Namun tak lama setelah itu, ekspresinya berubah menjadi sedih yang dibuat-buat. "Tapi sayang, udah nikah. Patah hati adek, bang." ujarnya yang langsung direspon dengan ekspresi jijik teman-temannya.
"Dasar pecinta om-om!" ujar Puspa sembari menyentil jidat Tita.
***
T.B.C
Note :
¹ Jam Kosong
Ini cerita pertamaku di wattpad. Semoga suka.
Jangan lupa follow, vote dan komen ya. Biar aku seneng.
See you next part.
YOU ARE READING
THE GERONTOPHILE GIRL
Romance"Tita gak peduli Om anggap aku gerontofil atau gila sekalipun. Tapi satu hal yang harus Om tau ....." Tita menarik napas sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. Ia tersenyum manis menatap pria paruh baya di hadapannya. "Ini cinta, bukan obsesi." ***...
