Apa ini yang dimaksud sayang?! Apa ini yang di maksud khawatir?! Bahkan anda sendiri menyakiti saya!
°MLA°
•••••
Cuaca sore ini bisa dikatakan cukup sejuk. Angin sepoi-sepoi mengiringi disore kala ini.
Seorang gadis sedang berdiri di tepi balkon sambil membawa cangkir berisi kopi.
Rambutnya berterbangan karena terkena angin sore. Ia menghembuskan nafasnya pelan.
Sampai kapan akan terus seperti ini? Kapan ia akan mendapatkan sesuatu yang ia ingini? Dan kenapa rasanya sangat sulit?
Ia benar-benar harus bersabar dengan keadaan ini.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuat gadis itu menoleh kearah sumber suara. Terlihat ART yang sedang diambang pintu.
"Non Icha dipanggil tuan dibawah." ucap ART tersebut dengan sopan.
"Kenapa tuan manggil Icha bi?" tanya Icha penasaran dengan wajah datar, karena jarang sekali papanya memanggil Icha. Dan satu hal Icha tidak pernah memanggilnya papa lagi ia akan memanggilnya tuan.
"Nggak tau non. Barangkali penting mending non kebawah temuin tuan." ucap ART tersebut. Icha menghembuskan nafasnya pelan.
Apa yang akan papanya lakukan untuknya? Ia mengangguk sebagai jawaban. Sebelum ART tersebut berbalik badan Icha menghentikannya.
"Bilang pada tuan sebentar lagi Icha turun." ucap Icha datar sambil berjalan menuju ke meja yang biasa dia gunakan untuk menaruh makanan dikamarnya.
ART tersebut mengangguk sebagai jawaban. Lalu ART tersebut berbalik badan dan turun untuk menyampaikan yang dikatakan Icha.
Icha keluar dari kamarnya dan turun untuk menemui papanya. Mendapati papanya yang sedang membaca koran. Icha menghampirinya dengan kahkah gontai.
"Ada perlu apa anda memanggil saya?" tanya Icha datar menggunakan bahasa formal dengan tangannya sambil bersedekap didepan dada. Memang tidak sopan tapi itu lah Icha.
"Dimana sopan santunmu itu!" ucap Dani ~ papa Icha sambil menaruh koran di meja dan menatap Icha tajam karena kelakuannya.
"Bukankah anda yang tidak mengajarkan sopan santun kepada saya?" tanya Icha dengan wajah datar dan jangan lupakan dingin harus diikut sertakan.
"Anak tak tahu diuntung!" ucap Dani keras sambil menggertakkan giginya marah. Icha memutar bola matanya dengan malas.
"Cepatlah katakan apa yang akan anda katakan kepada saya! Saya tidak punya banyak waktu jika berbicara denganmu!" desis Icha dengan nada tak kalah keras.
"Papa akan pergi keluar negara. Jaga diri baik-baik." ucap Dani lembut menahan emosi ia tidak ingin berdebat dengan putrinya.
Icha mengangkat alisnya sebelah, heran saja kenapa papanya memberi tahu kepadanya bahwa ia akan pergi keluar negara. Biasanya saja ia tidak akan memberi tahu. Ada apa dengan papanya?
"Kenapa anda memberi tahu saya jika anda akan pergi keluar negara?" tanya Icha datar.
Dani menghembuskan nafasnya kasar. "Bukankah ini yang kau inginkan?" tanya Dani dengan nada menahan emosi.
"Cih! Saya tidak perlu diberi tahu! Lakukanlah seperti yang anda lakukan kenapa jadi berubah!" desis Icha emosi. Karena ucapan Icha, emosi Dani langsung meletup dan meluap. Kenapa putrinya jadi seperti ini?
"Icha! Papa sayang kepada sama kamu! Papa khawatir kamu kenapa-napa! Kenapa kamu jadi berubah?!" marah Dani, dadanya naik-turun nafasnya memburu.
"Sejak kapan anda sayang kepada saya? Sejak kapan anda khawatir kepada saya? Dan saya berubah karna anda!" desis Icha nafasnya juga memburu dadanya sesak karna ucapan papanya.
Bukannya ia senang tetapi ia merasa sesak, karena ucapan yang di ucapkan papanya bukanlah ketulusan melainkan keterpaksaan agar Icha tidak seperti sekarang.
Plakk!!!
Tamparan yang sangat keras mendarat di pipi kanan Icha. Ia memegang pipinya dengan tangan bergetar. Rasa sakit kembali lagi dihatinya. Ia mendongak dan menatap wajah papanya yang sedang marah dengan wajah mata yang berlinang air mata.
Tes
Air mata turun dengan deras di pipi Icha. Pipi kanannya terasa perih ketika terkena air mata.
"Apa ini yang dimaksud sayang?! Apa ini yang dimaksud khawatir?! Padahal anda sendiri yang menyakiti saya!" isak Icha marah dengan menggebu-gebu.
"Diamlah dan naiklah keatas! Buat pusing saya saja!" ucap Dani dengan kasar tanpa melihat Icha sambil menunjukkan lantai atas menggunakan jari telunjuknya.
Icha langsung berlari keatas dengan air mata yang sudah turun dengan deras. Ia tak kuat lagi harus membendung air matanya.
Brakk!!
Menutup pintu kamarnya dengan kasar terdengar sampai ke lantai bawah. Icha terduduk sambil bersender dipintu.
"Hiks hiks hiks hiks. Mah Icha kangen mamah, kenapa mamah pergi tanpa nungguin Icha?" isak Icha.
Rambutnya acak-acakan, matanya sembab karena terus-terusan menangis. Ia sudah berhenti karena ia lelah ingin tidur.
Tetapi sebelum tidur. Ia akan membasuh mukanya dahulu. Yaaa walaupun nanti waktu bangun masih tetap dengan mata sembap setidaknya ia membersihkan wajahnya.
Setelah selesai membasuh muka. Ia beranjak kearah kasur untuk tidur. Menarik selimutnya sampai dada dan memeluk guling dengan posisi miring. Setelah itu ia terlelap dan sudah dialam bawah sadarnya.
HAI! GIMANA? BAGUS NGGAK CERITA AUTHOR? YA INI BARU PERMULAAN DAN MASIH ADA KELANJUTANNYA YANG BIKIN KALIAN KETAWA, GREGET, NANGIS (mungkin sih:v)
OH YA JANGAN LUPA VOTE AND COMENT-NYA AUTHOR TUNGGU. DAN SATU LAGI SHARE KE TEMAN-TEMAN DEKAT KALIAN! AGAR BISA MEMBANGUN CERITA INI!
SAMPAI JUMPA DIPART SELANJUTNYA BUBAYYY👋👋
STAI LEGGENDO
ICHARIAN
Casuale[Sebelum Kalian Baca Cerita Ini mending Follow Akun Ini Dulu.] [Judul Sebelumnya 'Ice Girl'] Cerita ini menceritakan seorang gadis dingin. Cantik, body goals, pandai, semua paket lengkap melekat pada dirinya. Apalagi yang kurang? ah iya kasih sayang...
