"Jadi kak, rumusnya pake yang ini aja ya?"
Suara Nadin tiba-tiba memecahkan lamunanku.
"Eh apa? Rumus ya? Coba aku liat, ehm ya pake rumus yang ini, jangan pake rumus yang Hukum Newton 2 ya."
Seperti biasa, setiap hari Rabu malam aku harus berkutat dengan Fisika, padahal jurusan kuliah yang aku ambil adalah Ilmu Komunikasi. Huh...
"Kak aku bingung membedakan kapan kita pake rumus Hukum Newton 2 dan 3."
Untuk kesekian kalinya, Nadin Membuyarkan lamunanku. Yup, Nadin adalah murid ku, aku mengajar bimbel private di rumahnya, mata pelajaran Fisika. Untung saja aku punya kemampuan di bidang itu. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan pernah bisa membiayai kuliahku.
Drrrrrrrrrt ... Drrrrrrrrrrrrt ...
Alarmku berbunyi, sudah 1 jam aku berkutat dengan Fisika. Rasanya lega sekali bisa terbebas dengan rumus-rumus itu.
"Nadin, belajarnya kita lanjutkan minggu depan ya."
"Iya kak, siaaap." Jawab Nadin
Dengan perasaan bahagia, aku bergegas merapikan barang-barangku, dan ...
Drrrrt ... Drrrt....
Yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga,
Sayang, tunggu sebentar ya di sini masih hujan.
Tunggu reda ya, ntar kalo uda reda aku jemput.
SMS dari Wira pacarku. Terpaksa aku menunggu Wira di rumah Nadin, karena memang Surabaya malam ini diguyur hujan lebat dan lama. Sesekali aku melihat jam tanganku, satu jam sudah aku di sini, ditemani kopi dan cemilan manis dari Bu Dinda, mama Nadin.
Bu Dinda, orang nya sangat ramah, tapi membosankan. Sesekali aku merasa ngantuk mendengarkan cerita-ceritanya.
"Kapan aku bisa keluar dari rumah ini, OMG."
Pukul sepuluh malam, hujan mulai reda, namun Wira tak kunjung menghubungiku. Aku mulai tidak nyaman dengan kondisi ini. Aku ingin segera pulang, tapi pulang naik apa? Ini adalah komplek perumahan elit, tidak ada taxi lalu-lalang di sini apalagi angkot. Aku harus berjalan cukup jauh menuju gerbang komplek hanya untuk mendapatkan taxi atau angkot.
Sayang, uda berangkat kah? Di sini uda reda.
Di sana uda reda belum? Aku nggak enak nih lama-lama di rumahnya Bu Dinda.
15 Menit, SMS ku belum juga di balas. "Mungkin Wira di jalan, sudahlah aku pulang saja, nanti pasti ketemu Wira di jalan." Pikirku
Aku putuskan untuk pamit, dan pulang dengan jalan kaki. Jalanan di komplek perumahan ini masih asing bagiku, sepi dan cukup gelap. Aku mulai merasa ketakutan,
Uda sampe mana, aku ini uda jalan
Kamu uda masuk komplek belum? Di Gayungsari Tengah ya, aku ini jalan ke arah A. Yani
Kamu lewat Injoko aja ya biar bisa ketemu, jangan lewat jalan lain.
Drrrrt ... Drrrrt ....
Ada SMS masuk, aku mulai menepi, mencari tempat yang lebih terang.
Ya uda kamu jalan kaki aja ya pulangnya.
Aku terdiam seketika, aku baca berkali-kali isi SMS itu. Berkali-kali pula aku melihat nama pengirimnya, Wira pacarku. Aku menangis sesenggukan, nggak habis pikir orang yang paling aku sayang bisa setega ini membiarkanku sendirian, di kota yang baru bagiku, di jalanan yang asing bagiku, dan lagi-lagi SENDIRIAN.
Lemas tubuhku, rasanya tak sanggup lagi aku berjalan menuju jalan raya besar. Sesekali aku melihat jam tanganku, pukul 22.30 WIB. Rasanya, aku harus memaksakan diri untuk cepat bangkit. Wilayah ini tidak sepenuhnya aman, aku harus bergegas menuju jalan A.Yani sebelum semakin larut.
Ku hapus air mataku, dan aku mulai berjalan cepat. Sesekali handphone ku bergetar, sepertinya ada banyak SMS dan beberapa kali ada telpon masuk. Mungkin itu Wira, tapi aku nggak peduli. Sesekali aku berpikir mungkin dia bercanda, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda. Aku benar-benar membutuhkan pertolongan saat ini.
Kakiku mulai pegal, 15 menit aku berjalan. Sudah mulai terlihat hiruk-pikuk Kota Surabaya di ujung sana. Aku mulai mempercepat langkah kaki ku, tapi...
Ciiiiiiit ....
Ada motor yang tiba-tiba menghadangku.
"Apakah itu Wira?"
Aku terdiam, mulai berkeringat, rasa takutku semakin tak terbendung ketika dia membuka helmnya. Dan, dia benar-benar bukan Wira.
"Siapa cowok ini?"
YOU ARE READING
TOPENG
Science Fiction"Suara langkah kaki itu semakin mendekat, semakin ku percepat langkah kaki ku, dia semakin mendekat. Oh Tuhan siapa pria itu?" 2011, bukanlah tahun yang mudah bagiku. Aku harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup selama kuliah di Surabaya. Di...
