"Sakit ya, melihat keluarga bahagia tanpa ada kita di sana."
.
.
.
Happy reading
💔💔💔
Di tengah derasnya hujan yang turun membasahi bumi sore ini, Ana berjalan pelan tanpa menghiraukan seragamnya yang basah kuyup. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihatnya. Langkah demi langkah terus ia tapaki, sampai langkahnya terhenti di sebuah rumah mewah. Rumah yang menurutnya bagaikan sebuah neraka, bagaikan sebuah penjara, dan bagaikan sebuah tempat penyiksaan.
Ana menelan salivanya dengan susah payah, saat melihat mamanya sedang berdiri di depan pintu rumah mewah itu. Pasti dirinya berbuat kesalahan lagi.
Plak! Plak!
Ana meringis, ketika telapak tangan mamanya mendarat di kedua belah pipinya. Ia menahan perih dengan menggigit bibir bagian bawahnya.
Mira menjambak rambut Ana dengan kuat. "Kamu lihat ini!" Mira melempar sebuah kertas di depan muka Ana.
Ana tahu, itu surat panggilan untuk orang tua tuanya ke sekolah.
"Kamu itu selalu bikin ulah! Saya malu tiap hari ketemu wali kelas kamu!" bentak Mira.
"Jangan diam saja! Kamu nggak kasihan sama Mama?!" Mira menyentak rambut Ana dengan kasar, hingga membuat Ana tersungkur ke lantai.
"Auww!" pekik Ana. Kepalanya rasanya ingin pecah, rambutnya seakan-akan ingin terlepas. Belum lagi dengan pipinya yang memerah dan terasa panas.
Air mata Ana turun lebih deras, isakannya juga semakin kencang terdengar. "Maaf, Ma," ucapnya parau.
"Berdiri kamu!" perintah Mira.
Ana tidak bergeming. Mira menarik paksa lengan gadis itu, tak peduli rintihan Ana yang meminta dilepaskan. Tentu kalian sudah tahu ke mana Mira membawa Ana, itu gudang.
Mira mendorong tubuh Ana, hingga membuat kepala gadis malang itu membentur tembok. Itu dilakukannya berkali-kali.
Ana hanya bisa menangis dan menangis, ia membiarkan saja mamanya menyiksanya. Melawan hanya menambah kemarahan Mira.
Setelah puas, Mira menghentikan aksinya. "Ganti baju! Setelah itu bersihkan ruang tamu!" Setelah berkata demikian, Mira segera keluar dari kamar Ana.
Ana berjalan ke arah kamarnya. Ia duduk di atas kasur dengan baju basahnya, tangannya terulur mengambil cermin kecil dari laci. Ana melihat wajahnya, matanya memerah dan membengkak, begitu pula pipinya, keningnya sedikit mengeluarkan darah, dan rambutnya yang acak-acakan
Ana menangis dalam diam, kenapa ia selalu salah? Kenapa ia selalu disiksa? Tak bisakah Ana merasakan kebahagiaan walau sebentar saja?
Ana beranjak untuk mandi dan berganti pakaian. Ia keluar dari kamarnya menuju ruang tamu-mengambil sapu dan mulai membersihkan. Ana yakin rumahnya bakal kedatangan tamu, itu sebabnya mamanya meminta Ana berberes.
Akhirnya pekerjaan Ana selesai, ia melihat mamanya datang sambil membawa nampan berisi kue dan beberapa gelas minuman.
"Ngapain kamu masih di sini? Mau nunjukin keadaan kamu sama temen-temen Mama? Biar mereka kasian, gitu?" kata Mira tanpa menatap Ana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ana's Diary [REVISI]
Teen FictionREVISI Note: Cerita ini bakal banyak berubah, dari segi alur, dan isinya. Buat kalian yang mau baca, lebih baik tunggu revisi selesai biar gak bingung. Ini kisah Ana Kisahnya berjuang bertahan hidup bersama orang-tua yang tak pernah mengharapkan keh...
![Ana's Diary [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/244959573-64-k242428.jpg)