[WIAI Reading List Periode #9 2025]
Rating: 17+
Warning || violence, drugs, harsh language and disturbing scenes sometimes
"Jangan jadi kuat, tetapi jadilah pemberani. Hidup yang hanya sekali ini, buatlah berguna, minimal untuk diri sendiri," kata m...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Mereka berisik lagi."
Kucing abu-abu gelap mengeong kencang seolah menanggapi ucapanmu. Dia berkeliling di sekitar pemuda yang tengah duduk menghadapmu, menggulung ekornya dan menggesek-gesek hidungnya tanda meminta perhatian.
Kau menghela napas panjang, kemudian kembali bercerita. "Sebenarnya tidak masalah, risiko kamar dekat induk semang. Tapi kalau tiap hari bahkan sampai tengah malam, aku terganggu! Sudahlah susah sinyal, berisik pula."
Rambut hewan buntal itu bergoyang-goyang kala dia menggaruk pipi dan lehernya—mungkin kutu berloncatan dari sana. Dia mengeong lagi, berkali-kali. Bahkan tak segan menggigit jari calon babunya (mungkin?). Tidak, mana sudi pemuda itu mengurus makhluk yang merepotkannya. Yang ada si pemuda terkekeh dengan suara jemawanya, lantas mengacak-acak wajah sok imut kucing itu asal-asalan.
Sementara kau terdiam membisu, memperhatikan adegan yang sangat langka di depanmu. Satu sisi buatmu tersipu, namun sisi lain rasa kesal menggebu-gebu. Karena, hei, lawan bicara lebih tertarik dengan seonggok kucing daripada dirimu?
Memilih abai dan bungkam, kau kembali mengayun pelan tempat dudukmu yang tadinya sempat terhenti. Decitan ayunan besi yang semakin lama semakin kencang berhasil menginterupsi sosok di depanmu.
Dia menoleh ke depan, memicingkan matanya. Sekian detik pemuda surai blonde ash itu memperhatikan dirimu yang asyik berayun sembari bersenandung. Día berdecak sekali, kemudian bangkit dari duduknya.
"Kesekian kalinya kau protes ini itu tentang kosanmu dan mau berapa kali kuberi saran, hah?" tanyanya sebal. Terlihat jelas alisnya yang mengerut lebih dalam dari biasanya.
Kau masih diam, namun ayunanmu memelan. Netra crimson cerah itu memaku gerakanmu, membuatmu mau tak mau mendalami pandangannya. Kalian beradu tatap cukup lama. Menikmati semilir angin sore yang menyapa, membiarkan suara gesekan ranting pohon dan cicit burung masuk telinga, serta mengabaikan erangan, rintihan dan pekikan makhluk-makhluk menjijikkan di sekitar kalian.
Apapun nuansanya, semua akan baik-baik saja jika itu bersama si pemuda.
"Biar kutebak, saranmu kali ini ingin mengajakku kawin lari, kan?" Satu pertanyaan kelewat nakal yang keluar dari mulutmu membuat percikan api menyala dari kepalan tangan si pemuda.
"Kau—sinting!" Tentu saja día akan mengumpat, selalu. Mulutnya sudah diciptakan begitu.
"Ayolah, Katsuki. Kapan? Sekarang?" Kau turun dari ayunan dan berlari kecil mengejar lelaki yang melenggang pergi usai melempar kaleng kosong minumannya ke tempat sampah. "Kau tidak kasihan denganku? Hidup sebatang kara di dunia hina ini. Atau aku yang memang hina sampai rasanya dunia terlalu egois karena memberikan amarahnya padaku seorang."
"Kau bukan pengemis, bodoh. Hentikan ungkapan-ungkapan rendah minta dipungut itu." Katsuki menyelak.
"Lantas?" Langkahmu dan miliknya serentak berhenti saat kau menahan lengan pemuda itu. "Kalau bukan pengemis, aku ini apa?" Kali ini dirimulah yang menelisik masuk ke dalam matanya. Menuntut penyataan, mencari ketulusan dan kesungguhan dari netranya.
Di luar dugaan, manik itu melembut perlahan. Bersamaan dengan tangannya merambat dan menggenggam tanganmu erat. Hanya sesaat semburat merah tipis terlihat kala pemuda itu mengutarakan, "kekasihkulah, apa lagi? Bawel."
Kecemasan hilang begitu saja, bagai ditepis angin dan terbakar menjadi abu. Rasa senang kembali tumbuh bersamaan dengan rasa geli dan malu yang bermekaran. Agaknya detak jantungmu juga lebih kencang daripada biasanya. Apa ini ... cinta?
Jalan raya, trotoar, lalu melangkah ke dalam bus. Semua latar berwarna cerah. Begitu cerah sampai tidak ada satu pun entitas gelap nan biadab yang berani mendekat. Dekap erat sosok pemuda di belakangmu jauh lebih memikat dari apapun.
Rambutnya, kulitnya, bau tubuhnya, bahkan kau juga merasakan panas dan kencang laju detak jantungnya dari depan. Begitu dekat kalian berdiri. Salahkan día yang sudah trauma kekasihnya dilecehkan jauh-jauh hari. Mana mau día kejadian yang sama terulang lagi.
Posesif, huh?
"Kalau bangku di depanmu kosong, kau bisa duduk. Sekarang begini saja dulu," pintanya rendah namun tegas, mutlak dan pantang dibantah. Kau hanya berdehem sebagai bentuk mengiyakan.
Siapa sangka mahasiswi jurusan sastra bahasa, sangat terbatas saat berbicara, enggan berkumpul ria dan pemilik trauma saat belia sepertimu bisa mendapatkan sosok alumni UA.
Bakugou Katsuki, pemuda tempramen namun cerdas dan berbakat. Namanya dikumandangkan sebagai mostly favorit hero seantero raya. Bahkan tak jarang menjadi buah bibir wanita-wanita yang mengidamkan sosoknya menjadi pasangan hidup—atau calon menantu. Tampan, kaya, cerdas, seksi, anak tunggal dan bertampang ala-ala badboy. Sungguh paparan aspek yang menggiurkan dan menantang hati sanubari wanita untuk berlomba mendapatkannya.
Namun dia memilih dirimu, untuk berdiri disampingnya.
Semua terjadi karena takdir. Kau berpapasan dengan siswa magang bimbingan Endeavor, terlibat kasus sebagai tersangka, kemudian waktu berjalan begitu saja. Kekacauan, rasa gundah, perhatian, cemas, kasih sayang, cemburu semua seolah menjadi paripurna. Menghubungan dirimu dengan dirinya untuk bertemu rasa dan menjalin asmara.
Tetapi satu hal yang membuatmu ragu, apakah Katsuki menerimamu karena kata hatinya atau karena día berhutang nyawa?
Sebab teringat dulu dirimulah yang menyelamatkannya.