Tanpa pamit (1)

15 8 0
                                        

pesta ulang tahun  yang ke 9 altar.

"bisa ga sih gausah di rayain! kekanak-an tau ga!" altar melipat kedua tangan  di  depan dada memasang muka masam.

rea mengelus puncak kepala satu-satunya anak kesayangan nya.

"lihat ni bar, sifat nya mirip  sekali dengan kamu dulu"  rea terkekeh, albar tersenyum sekilas mendengar nya dan melanjutkan mendekor ruangan yang tidak lama lagi akan di penuhi  oleh tamu undangan pesta ulang  tahun  altar.

anehnya albar adalah  orang yang  paling bersemangat dalam mengadakan acara  ini, berbeda dengan altar  yang duduk dipojokan dengan wajah cemberut.

selesai mendekor albar menghampiri altar.
"hari ini kan altar ulang tahun senyum dikit kenapa?"

"kenapa ga ayah aja yang ulang tahun,  kan ayah  yang paling semangat bikin acaranya"
albar membuang nafas pelan dan mengelus  puncak kepala anak nya.

"senyum atau nanti malam kamu tidur dengan papah dan mamah"

altar membuang muka.

'ngapain si harus senyum kalo kita ga suka' batinnya.

--

pesta baru dimulai jam 10 pagi.

"selamat ulang tahun kami ucapkan"  semua orang  yang datang bertepuk  tangan sambil menyanyi  lagu ulang tahun khusus untuk altar .

dari jauh albar melihat  altar tersenyum bahagia sambil memeluk pinggang rea dari samping.

'sudah ku bilang acaranya pasti akan berjalan dengan lancar' bisik albar

rea tersenyum dan membalas bisikan albar,"aku tau kamu menyuruhnya".

albar berdecih sambil membuang muka, rea mencubit perut albar dan pergi menghampiri altar meninggalkan albar yang sedang kesakitan memegangi perutnya.

'gada obat emang cubitan perempuan'

batinnya.

rea berdiri di samping altar sambil bertepuk tangan pelan menyesuaikan lagu nyanyian.

altar selesai dengan meniup lilin di kue  ulang tahunnya.

'horeeeee!'

para tamu bertepuk tangan dan bersorak meriah. albar datang menghampiri keduanya, saat  altar sedang memotong  kue. kue pertama  altar  berikan kepada rea.

"ayah mana?"  tanya albar  dengan jari telunjuk menunjuk dirinya sendiri.

"ayah potong saja sendiri"  tukas altar disusul dengan tawa para  tamu  undangan.

"yah masa  di suruh senyum doang ga ngasi kue tar"  altar  tetap tidak  peduli namun akhirnya  ia berikan potongan kue ke albar.

"baik silakan di nikmati  makanan  dan minumannya ya" ucap rea .

semua tamu langsung menikmati hidangan, di saat itu tiba-tiba datang anak kecil perempuan menggunakan drees pink selutu, pita merah muda yang senada dengan drees di kepalanya menambah kesan cantik  dan lucu datang menghampiri altar memberi kado ulangan  tahun dan ucapan selamat.

kali ini altar tersenyum tulus  dan menerima kado pemberian rachel  sahabatnya.

" apakah jarak 2 meter membuat kamu datang terlambat?" rumah altar memang tidak  jauh dari rumah rachel, yap mereka bertetangga.

sayang nya rachel tidak bisa bilang kenapa dia datang terlambat.

'apa pita  di kepalaku cukup membantu?' tanya rachel dalam  hati.

"kenapa kamu  bisa secantik ini hari ini? bukan kah kamu pernah bilang  tidak  akan mengenakan drees karena  bisa membuat badanmu gatal?" tanya altar .

altar berencana  meminjamkan rachel bajunya jika dia merasa gatal. tapi sepertinya itu takan terjadi karena rachel  terlihat nyaman mengenakannya, atau dia memaksakan diri agar terlihat feminim.. mungkin?

" ayo ikut aku!" altar menarik tangan rachel menuju halaman belakang rumahnya.

albar dan rea tengah berbincang dengan aldo  dan  vannya, orang tua rachel yang mengucapkan  ucapan  selamat kepada putra tetangga nya. albar sempat melihat sekilas kedua bocah  kecil tadi meninggalkan tempatnya menuju halaman belakang rumah, baginya itu sudah biasa.

----


"sini duduk"  altar mengarahkan rachel untuk duduk di ayunan yang terikat dengan pohon besar , diatasnya ada rumah pohon  kecil milik albar dulu  yang kini sudah menjadi milik  altar, lalu altar mengubah tanda  kepemilikan itu menjadi miliknya dan  rachel.

rachel duduk membelakangi altar. altar siap mendorong  ayunan  nya agar mengayun. di ayunan rachel bertanya.

"ko rachel yang naik ayunan sih! kan altar yang ulang  tahun"

"rachel tidak suka?" altar bertanya balik. rachel hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari altar.

keheningan  menyelimuti keduanya sampai akhirnya berakhir dengan altar menghentikan ayunan yang sedang mengayun.altar mengubah posisi rachel menjadi menghadap nya menjadikan ayunan seperti terpelintir .

"apa ada yang rachel  ingin katakan?" altar menyadari bahwa  raut wajah rachel seperti  orang yang sedang gelisah.

"katakan saja"  rachel masih saja diam menundukkan kepalanya.

"lihat aku rachel" altar menatap intens  wajah  rachel, rachel menaikkan wajah nya , mata nya bertemu dengan mata hijau toska milik altar.

"al.."

belum sempat selesai rachel mengatakannya.aldo dan vanya datang dari kejauhan  memanggil rachel, rachel menghampiri dan bertanya ada  apa, setelah berbincang sebentar dengan orang  tuanya  rachel menghampiri altar  dan berkata.

"altar rachel harus pulang nanti kita main lagi" altar hanya mengangguk dan melihat kepergian rachel bersama orang tuanya dari halaman belakang.

altar duduk diayunan tadi menunduk menantap sepatunya .

'apa yang sedang rachel sembunyikan darinya?'  altar menjawab dalam hati  menatap tempat tadi rachel pergi.

"yuk masuk kedalam, teman-teman kamu nunggu tuh" tanpa altar sadari rea datang dan sudah  berada disisinya.

altar  beranjak dari sana dengan  rea merangkul pundaknya.

"kamu tadi udah bilang  selamat tinggal ke rachel?" tanya rea hati-hati.

altar menghentikan langkahnya ,  diam sejenak mencerna kata-kata bundanya. langkah rea ikut terhenti dan  menunggu jawaban  altar.

"selamat tinggal?" altar bertanya balik.

"rachel katanya harus  pindah ke  luar kota, karena  ayahnya di pindah tugasnya ke luar kota" jawab rea.

dengan  cepat altar lari bermaksud mengejar rachel yang  sayangnya kini mobil rachel sudah jalan, dengan sekuat tenaga altar berusaha mengerjar mobil rachel tapi tetap saja kecepatan lari nya tidak menyusul mobil milik rachel.

altar berlari  sangat  cepat sampai tidak menyadari didepan  ada batu yang menyebabkan dirinya  menyusruk aspal  jalanan, dagu, lulut dan  telapak  tangan nya  berdarah. tapi bukan itu yang membuat air  matanya keluar melainkan kepergian rachel  tanpa pamit.


note penulis :
hallo, saya athala. ini adalah novel pertama saya. jika ada  kesalahan  atau ada saran dari  kalian semua insyaa allah saya terima untuk kebaikan penulisan  cerita selanjutnya . terimakasii:)

IGNORECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang