1 | Mika dan kehidupannya.

16 5 0
                                        

Seorang perempuan memegang sebuah ponsel sambil mencari nama kontak yang akan ia hubungi. Lalu ia tempelkan di dekat telinga ketika suara terhubung pun terdengar.

"Ayah ... " Panggilnya.

"Ada apa telpon gue pagi-pagi! Lo gak lihat jam ya?!" Kesal orang di sana yang merupakan ayahnya.

Gadis itu memejamkan matanya dan menghela nafas sabar. Ayahnya menjadi seperti itu saat kejadian di masa lalu.

"Maaf yah. Mika cuma mau ngasih tau, kalau uang bulanan Mika udah mau habis," ujar gadis itu, yang bernama lengkap Mika Syahira Faeza.

"Lo telpon gue cuma mau ngasih tau itu. Heh! Gue kerja cari duit, bukan buat lo hamburin-hamburin uang gue!" Seru Ayahnya, dengan nada tinggi.

Membuat mika menjauhkan ponsel dari telingannya.

"Mika gak hamburin uang-uang, ayah. Tapi bulan sekarang ayah gak kirimin uang bulanan buat Mika. Dan ini uang bulanan bulan lalu," jawab Mika.

Berharap ayahnya mengerti maksud dirinya, karena sebulan ini, ia mati-matian menghemat uang bulanannya.

Sampai ia tidak jajan di sekolah. Dan untung saja ia bekerja di cafe, jika tidak ia hanya bisa bergantung dari uang ayahnya.

"Pake aja yang ada. Gua ngantuk! Mau tidur."

Sebelum Mika menjawab. Ayahnya sudah mematikan sambungan teleponnya.

Lalu ia membuka tasnya dan mengambil dompetnya. Uangnya hanya sisa lima puluh ribu. Dan ia harus menghemat selama dua minggu ini.

Karena Mika hidup seorang diri. Ia tidak tinggal dengan ibu atau ayahnya. Keluarga Mika hancur saat ia berumur lima belas tahun. Dimana ibunya berselingkuh dari ayahnya.

Ibunya memilih lelaki lain dan pergi meninggalkannya dari pada hidup bersamannya. Dan pada saat itulah kehidupan Mika berubah.

Ayahnya yang menjadi kasar padanya. Dan memilih pergi dari rumah, karena ayahnya selalu sakit hati jika mengingat perlakuan ibunya. Namun ayahnya, masih mau memberikan uang bulanan untuknya.

Mika menghampus air mata dengan ibu jarinya. Tidak seharusnya ia mengingat hal itu.

Ia pun kembali memasukan dompetnya ke dalam tas.

"Mika ... Ayo berangkat!" Panggil sahabatnya sekaligus tetangganya.

Ia pun berjalan keluar rumah. Lalu melihat sahabatnya yang bernama Alma shafiqa. Yang sudah menangkring di atas sepedannya.

Dialah orang yang selalu menemani Mika. Mendengarkan curahan hati Mika. Alma dan keluarganya selalu ada saat ia membutuhkan.

Dan Mika sangat bersyukur. Karena ia mengenal orang-orang baik seperti mereka.

🎧🎧🎧

Sepeda milik Mika pun sudah sampai di parkiran sekolah SMA 1 Bangsa.

Mereka berdua berjalan masuk ke lorong sekolah menuju kelasnya Xll Ipa.

Dan hal yang Mika syukuri adalah ia satu kelas tiga tahun berturut-turut dengan Alma. Jika tidak sekelas, mungkin saja ia tidak mempunyai teman yang baik seperti Alma.

Apalagi dirinya yang tidak mudah bergaul dengan teman-teman yang lainnya.

Mereka masuk ke dalam kelas. Sudah lumayan banyak anak-anak murid yang datang ke sekolah. Saat Mika baru duduk, tiba-tiba saja ada teman lelaki satu kelasnya datang ke arah mereka sambil menatap Mika.

"Alma ... Dia anak baru?" Tanya Temannya itu. Kepada Alma.

"Anak baru? Maksud lo Mika? Dia temen kita Rafi. Masa udah mau tiga tahun, lo masih gak ngenalin temen sekelas sendiri si? Aneh lo," ujar Alma tidak habis pikir.

"Ah masa si. Gue gak pernah liat dia tuh di sekolah," sahut lelaki itu bernama Rafi.

"Dih siwer lo ya. Kebanyakan minum tramadol si lo," cetus Alma.

"Astagfirullah Alma. Gue gak pernah minum gituan. Seudzon bae lo," bantah Rafi.

"Abisnya lo temen gue yang terdodol banget si. Masa temen sekelas sendiri aja, sampe gak kenal gitu," tukas Alma. Sambil mendelik Rafi.

"Lo beneran temen sekelas gue? Dari tiga tahun ini?" Tanyanya, beruntun.

Mika yang sedari tadi diam pun mengangguk. Membuat Rafi semakin penasaran.

"Serius lo?" Tanya Rafi, memastikan. Dan Mika pun mengangguk kembali.

"Lo Rafi Muhammad kan? Yang suka keluar masuk ruang Bk?" Tanya Mika. Rafi terkejut, saat tahu ada orang memperhatikannya.

"Kok lo tahu. Tapi gue masuk keluar ruang Bk bukan karena gue bader," sahutnya. Lalu Alma bingung pun bertanya," Emang karena apa? Biasanya yang masuk Bk punya masalah sama sekolah," tanya Alma, kepo.

"Ya karena gue di suruh-suruh terus sama pak Bimbim buat bawain teh anget mulu," jawabnya dengan kesal. Dengan menyebutkan guru Bk nya yang bernama pak Bima.

"Fix. Lo emang bener-bener temen sekelas gue," timpalnya.

"Lah iya dodol. Mika dari dulu emang temen sekelas kita!" Sahut Alma.

"Dahlah. Mau cabut ae, ngomong sama mak lampir mah gitu. Ngegas mulu," ujar Rafi, lalu pergi keluar dari kelas.

"Idih ya ampun. Kenapa coba punya temen modelan gitu," dumel Alma. Lalu dia menoleh, menatap Mika yang sedang mengeluarkan buku mata pelajaran yang akan ia baca.

"Btw Mik. Lo kok tahu, kalau si Rafi suka keluar masuk terus dari ruang Bk. Lo ngintilin dia ya?" Tanya Alma, sambil menatap Mika curiga.

Dia menoleh dan menaiki sebelah alisnya."Segabut itu. Gue sampe ngikutin orang. Ya gak lah Al. Gue kan suka lewat situ mau ke perpus," sahut Mika. Menjelaskan semuannya.

Alma mengangguk mengerti."Lo si. Kurang bergaul sama yang lain, jadi ada yang nanya gitu kan. Sampe mereka sendiri gak tau, kalau lo temen sekelasnnya," tutur Alma.

Yang dikatakan Alma memang benar. Kalau Mika memang kurang bergaul. Bahkan pertanyaan yang Rafi lontarkan, bukan sekali dua kali yang ia dengar.

"Buat apa gue bergaul dan banyak temen. Kalau mereka sendiri itu cuma bakal jadi orang yang suka lihat kehidupan gue yang banyak masalah ini. Gue gak mau, orang tahu masalah kehidupan gue kaya gimana. Gue gak mau di kasihanin Al, lo berteman dengan gue karena tulus bukan karena kasihan," ujar Mika, panjang lebar.

Alma yang sedari tadi mendengarkan, tersenyum kagum dengan sosok Mika yang kuat, sabar, dan tegar.




RISALAH HATIStories to obsess over. Discover now