[Reupload] - Episode. 1

157 10 2
                                        

Huh, apa yang paling menyebalkan saat kau tengah merasa mengantuk namun tidak bisa tidur karena suara berisik yang disebabkan oleh tetanggamu? Itulah yang tengah kurasakan saat ini. Untungnya ini adalah hari terakhirku tinggal di kontrakan murah yang setara dengan ketidaknyamanan didalamnya. Aku takjub pada diriku yang mampu bertahan selama 4 bulan terakhir. Ya, tadinya aku masih bisa menahannya serta (terpaksa) memaklumi setiap apa yang mereka kerjakan karena kami hanya dipisahkan oleh dinding triplek tipis yang mana ketika kau berbisik pun tetap akan kedengaran.

Aku benar-benar merasa sulit memejamkan mataku barang sejenak pun. Entah kerusuhan apa lagi yang sedang dilakukan si tetangga itu hingga suara bisingnya seakan persis berada disamping telingaku. Aku mengusap wajah frustrasi lantas beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Sebenarnya aku belum tidur sejak semalam. Bukan karena saat malam aku masih dapat mendengar keributan itu, hanya saja aku memang mengidap yang namanya insomnia. Makanya aku memanfaatkan kesulitan tidur itu dengan bekerja part time pada sebuah toserba yang buka selama 24 jam.

Tidak ada yang tahu aku bekerja pada malam hari, karena ironinya aku memang tidak memiliki seseorang untuk tahu bagaimana keseharianku. Aku tidak memiliki keluarga. Selama ini aku tinggal pada sebuah panti asuhan. Namun, karena seringnya mengalami kekurangan serta ketidak-adilan perlakuan di sana, aku pun memilih keluar dan mengontrak rumah dengan menggunakan hasil tabunganku sendiri ---perolehan pekerjaan paruh waktu yang selama ini kulakukan diam-diam. Saat kubilang aku akan keluar dari panti, tidak ada yang melarang atau menahanku. Seakan keberadaanku disitu tidak memiliki arti sama sekali. Tidak apa-apa. Lagipula aku tidak butuh dikasihani.

Selain tidak memiliki keluarga, aku juga tidak memiliki teman barang satu orang pun. Semenjak aku SD hingga sekarang, semua seperti menjauhiku. Entah apa yang salah dariku. Satu hari aku pernah mendengar mereka membicarakan tentangku, katanya; aku itu aneh. Aku sering terlihat berbicara sendiri. Aku juga bodoh karena nilaiku tidak pernah lebih dari angka 5.

Yah, jika memang itu alasan mereka. Aku tidak mesti harus berubah tiba-tiba hanya untuk berteman dengan mereka bukan? Aku bisa memperbaikinya tanpa harus dengan alasan agar aku bisa punya teman.

Hari ini adalah hari libur. Hari dimana seharusnya aku bisa tidur dengan tenang demi mengistirahatkan tubuhku. Tapi tidak bisa karena ---ah, pada suatu siang aku pernah menegur mereka, namun karena aku hanya seorang remaja kurus dan terlihat tidak memiliki masa depan yang bagus, mereka lantas menampar dan menendangku untuk tidak ikut mencampuri urusan mereka. Aku juga diludahi waktu itu. Mereka terlalu berkuasa. Lantas sampai sinilah batas kesabaranku. Aku memutuskan untuk pergi dari rumah itu meski sebenarnya masih ada sisa dari uang sewa yang kubayar semalam untuk dua bulan kedepan. Tidak bisa kuambil lagi karena memang begitu peraturannya. Namun aku sudah tidak tahan lagi.

Dengan menggunakan grab-car, aku pergi dari sana. Tidak ada barang atau perabotan yang kubawa dari rumah itu. Karena memang selama ini aku tidak pernah membeli barang perabotan selain pakaian dan selimut untukku tidur ---aku menghemat pengeluaranku. Dan, aku hanya membawa dua buah ransel berukuran sedang. Hanya itu.

Kali ini aku akan pindah pada sebuah rumah yang berada cukup dekat dengan toserba tempatku bekerja. Rumah itu tidak seperti kontrakan, namun layaknya seperti rumah pribadi dengan halaman yang luas serta pagar yang masih kokoh ---meski sudah berkarat. Mungkin rumah itu sedikit kebesaran untuk aku tempati sendirian. Tapi tidak mengapa. Toh, dari dulu aku memang selalu hidup sendiri.

Setelah membuka pagar yang berkarat hampir seluruhnya sampai menimbulkan bunyi derekan, aku lalu menggerek satu ransel beroda dan menyampirkan satu ransel lagi dibahu menuju pintu utama. Kuakui rumahnya sedikit tidak terawat. Mungkin aku akan memperbaikinya lain kali. Sekarang, aku hanya butuh tidur. Mataku sudah sangat mengantuk sekali. Aku membuka pintunya dan tampaklah semua perabotannya yang masih terlihat cukup lengkap, seperti kata pelanggan yang menyarankan rumah ini padaku beberapa hari lalu. Ia bilang, rumah ini dulunya ditinggali oleh sebuah keluarga yang sangat harmonis. Namun suatu hari sang istri berselingkuh hingga mereka memutuskan berpisah dan membiarkan rumah itu kosong tanpa mengambil barang satu pun dari rumah. Hingga sekarang tidak ada lagi kabar dari keluarga itu. Namun yang jelas si pemilik rumah sudah menyatakan bahwa seluruh barang yang ditinggalkan telah menjadi hak milik untuk siapapun orang yang akan menempati rumah tersebut. Itulah yang dikatakan pelanggan itu kepadaku. Mungkin dia teman atau kerabat dari si pemilik rumah.

Aku lalu mengintip pada kain-kain hitam yang digunakan sebagai penutup barang-barang agar tidak berdebu itu. Diantaranya ada piano, patung unicorn dan ... pajangan lainnya yang tidak kutahu namanya apa.

Karena rumah ini tidak bertingkat ke atas melainkan ke bawah (rubanah). Aku urung untuk mengecek ada apa saja dibawah sana. Aku lalu beranjak ke kamar demi mengistirahatkan tubuhku yang sedari tadi meronta-ronta untuk dibaringkan. Akhirnya, seakan terlalu lama berjauhan dengan kasur, tubuhku seperti mendapatkan kembali kenyamanannya. Tak lama kemudian aku pun terlelap.

Dalam tidurku yang masih setengah sadar, aku mendengar adanya suara bisik-bisik di sekitarku. Sesaat pikiranku melayang bahwa, aku masih tinggal di kontrakan dan itu adalah suara yang dihasilkan dari tetangga. Namun, ketika aku hendak bergerak sedikit dan membuka mata. Aku mendapati tubuhku tidak dapat digerakkan dan sulit untuk membuka mata. Bisik-bisik itu tidak begitu jelas namun terdengar begitu nyaring.

Kemudian aku tidak tahu apa-apa lagi.

Alarm di ponselku berdering untuk membangunkanku demi bersiap bekerja dimalam hari. Kantukku masih tersisa. Aku masih butuh waktu untuk tidur. Tapi aku juga butuh uang untuk makan. Setelah beres bersiap, aku pun beranjak untuk keluar dari kamar. Sejenak aku teringat dengan suara bisik-bisik yang tadi sempat kudengar. Aku lalu beranjak ke sisi jendela dan mendapati jarak rumah tetangga cukup jauh sehingga tidak memungkinkan suara bisik-bisik bahkan obrolan mereka terdengar sampai kemari. Kemudian aku berpindah lagi pada jendela satunya. Bahkan di situ tidak ada rumah dan hanya sebuah tanah lapang yang mungkin digunakan anak-anak sini untuk bermain bola atau layangan. Aku lantas berpikir positif karena bisa saja suara bisik-bisik itu berasal dari pikiranku sendiri. Aku sangat lelah pada saat itu. Mungkin semuanya tercipta dari isi kepalaku saja.

Kemudian, aku mematikan lampu kamar dan pergi keluar. Mungkin besok sebelum berangkat ke sekolah aku harus mulai membiasakan diri untuk pergi ke pasar demi mengisi dapur yang kosong. Aku hanya mampir di dapur untuk meminum air dari kran menggunakan tanganku. Setelah itu aku berangkat dengan berjalan kaki karena tempatku bekerja hanya berjarak sekitar 400 meter dari rumah yang sekarang.

"Nak!" aku mendengar suara dari orang yang sangat familier. Dia adalah seorang ibu paruh baya pemilik dari toserba tempatku bekerja sekarang. Aku tidak memiliki hubungan yang akrab dengannya, namun bukan berarti kami berselisih. Ya, hanya sebatas bos dan karyawan. Tidak lebih. Dan, untuk pertama kalinya aku dipanggil bahkan ketika aku masih dalam perjalanan. Aku lalu mengentikan jalanku lantas menoleh pada beliau sembari memberikan senyuman palsu yang biasa aku lakukan demi menghargai pembeli.

"Ini. Makanlah sebelum bekerja." katanya tanpa memberikan aku kesempatan untuk membalas perkatannya, ia lantas berjalan cepat meninggalkanku setelah memberikan sebuah kotak bekal berukuran sedang ke tanganku. Tumben sekali.

Bersambung •••

Air Menangis || ORINE & 48 Version Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora