1. 🌻Pusat Perhatian🌻

108 14 8
                                        

🌼🌼🌼

Walaupun malu taruhannya, Dhira rela melakukan apapun demi menjadi pusat perhatian Awsten. Seperti yang  dilakukannya sekarang. Beban yang ia bawa sejak tadi kini sudah lepas dari tanggung jawabnya.

Gadis dengan rambut berponi itu lalu meletakkan kelima tas sekolah teman-teman Awsten dimeja paling ujung. Dan saat itulah Awsten melirik Dhira.

"Mana temen-temen gue?" tanya Awsten dengan wajah datar melihat tas teman-temannya dibawa oleh Dhira.

Dan kini pipi Dhira merona. Entah apa yang dipikirkan gadis itu. Menurutnya ia sudah berhasil menjadi pusat perhatian Awsten.

"Lo budek? Atau telinga lo kemasukan jin?"

"Eh, e ... enggak ...," ucapan Dhira terpotong karena Awsten tiba-tiba bangkit dari duduknya.

"Bacot lo, cupu!" ejek Awsten lalu pergi meninggalkan kelas.

Dhira menaikkan kacamatanya yang hampir jatuh karena sentakan yang dibuat oleh Awsten, lalu menyeka dua butir keringat dipelipisnya. Dhira menatap sekitar, ada beberapa murid yang menertawainya. Namun ia tidak perduli dan langsung beranjak dari kelas itu.

***

"Gilang," panggil Dhira menemukan orang yang dia cari sejak tadi.

Gilang bangkit dan menyusul Dhira yang tak jauh dari kursi kantin yang ia duduki. "Kenapa, Dhir?"

"Kamu liat Ririn, gak?" tanya Dhira langsung to the point. Dhira bahkan mengabaikan suara-suara siswa yang sedang mengantri tidak sabaran disetiap stan kantin.

"Oh ... dia lagi ke perpustakaan, Dhir. Gue disuruh duluan sama dia, jadi gue duluan deh sama Hendra. Lo udah makan?"

"Belum," sahut Dhira sambil menggeleng cepat.

"GIL, buruan abisin bakso lo. Keburu dingin oei!" teriakkan itu sontak membuat Gilang yang punya nama, sekaligus Dhira yang mendengar menoleh pada Hendra.

"Yuk, barengan," ajak Gilang sambil menampilkan senyum yang tampak menawan. Dhira menyukai senyum itu, senyum yang mampu membuat wanita patuh dalam sekejab. Hanya suka, tidak lebih.

"O ... oke."

Lalu mereka berdua menyusul meja yang ditempati oleh Hendra tadi.

"Biar gue aja yang pesankan," ucap Gilang membuat Dhira tidak enak.

"Eh, gak usah, Lang."

"Udah ... lo duduk aja di sini. Noh temenenin si bekicot sawah," Gilang sambil memanyunkan bibirnya ke arah Hendra yang sedang menikmati bakso.

"Bacot," balas Hendra tanpa berbalik menatap Gilang yang tengah berdiri di belakangnya. Dhira sempat terkekeh melihat intraksi mereka berdua.

"Sini Dhir. Duduk sama babang Hendra," goda Hendra sambil menepuk bangku kantin yang memang kosong disebelahnya.

"Jangan deh. Bahaya. Dia Fuckboy. Lo duduk di sini aja," cekal Gilang lagi, sambil menyeret pundak Dhira sampai ke seberang Hendra.

Dhira terkekeh melihat ekspresi Hendra yang tiba-tiba berubah menjadi masam. Dhira lalu duduk di bangku kosong yang berada di seberang Hendra, sesuai apa yang diperintahkan oleh Gilang.

Gilang lalu menuruti niatnya menuju stan kantin untuk memesankan Dhira dan dirinya bakso yang baru.

"Dhir, dengar-dengar nanti kelas kita katanya bakal ada murid baru. Bener gak menurut lo itu Dhir?" Hendra membuka obrolan.

Elimanate TasteStories to obsess over. Discover now