The Heirs' Promise

313 144 53
                                        


"Kekuasaan tidak diwariskan. Kekuasaan diciptakan oleh mereka yang berani mengorbankan segalanya."

 ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄

Helix Tower
21.00

Hujan mengguyur ibu kota sejak senja. Langit yang kelabu seolah menyelimuti gedung-gedung pencakar langit yang berdiri angkuh di pusat bisnis negeri. Di lantai tertinggi Helix Tower, sebuah ruang rapat masih diterangi cahaya lampu kristal. Ruangan itu sunyi. Hanya ada dua pria yang duduk saling berhadapan dengan segelas kopi hitam yang mulai mendingin di atas meja. Di hadapan mereka terbentang peta dunia. Puluhan titik merah memenuhi berbagai negara.

Rumah sakit.

Laboratorium.

Perusahaan farmasi.

Perusahaan investasi.

Bandara logistik.

Pelabuhan.

Semuanya telah diberi tanda. Pria bermarga Utomo menutup map hitam di hadapannya. "Seluruh persiapan sudah selesai." ujarnya.

Pria bermarga Wiratama mengangkat sebelah alisnya. "Lebih cepat dari perkiraanku, kau mengenalku" Utomo tersenyum tipis.

"Orang biasa menunggu kesempatan dan orang berkuasa menciptakan kesempatan." Wiratama terkekeh pelan.

"Kalau begitu, sudah saatnya kita mulai." Utomo berdiri. Tatapannya menembus dinding kaca yang memperlihatkan gemerlap kota.

"Ayahku membangun rumah sakit terbesar di negeri ini. Tapi aku-"Ia berhenti sejenak.

"tidak ingin menjadi yang terbesar. Tapi, aku ingin menjadi satu-satunya." Lanjutnya, ruangan kembali hening.

Wiratama ikut berdiri. "Dan aku akan memastikan tidak ada satu perusahaan pun yang mampu berdiri tanpa investasiku." Ujarnya sembari menatap peta dunia.

"Kita tidak sedang membangun perusahaan tetapi kita sedang membangun sejarah." Lanjutnya, Utomo mengangguk.

"Rumah sakit."

"Farmasi."

"Teknologi."

"Investasi."

"Semuanya akan berada di bawah satu nama dan satu keluarga." Ujar Utomo mengambil sebuah dokumen berstempel emas. Ia mendorongnya ke tengah meja. Di halaman pertama hanya tertulis tiga kata. Perjanjian Penyatuan Keluarga. Wiratama membaca sekilas isi dokumen itu. Lalu, sudut bibirnya terangkat.

"Putriku dan putramu, begitu mereka menikah. Tidak akan ada seorang pun yang mampu menyaingi kita."Ujar Utomo.

Tangan wiratama meraih sebuah pena. Namun sebelum menandatangani dokumen itu, ia bertanya pelan. "Bagaimana kalau mereka menolak?".

Utomo tidak langsung menjawab. Ia hanya memutar gelas kopinya perlahan, lalu tersenyum. "Anak-anak selalu mengira hidup adalah pilihan, padahal-." Ia berhenti lalu menatap langit.

Utomo kembali menatap lurus ke arah Wiratama." Sejak mereka lahir, pilihan itu sudah dibuat oleh orang tuanya."

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Wiratama menganggukkan kepala. "Perasaan adalah kemewahan, sedangkan kekuasaan-." Ia mulai membubuhkan tanda tangannya.

"...adalah kewajiban." Sambung Utomo lalu ikut menandatangani dokumen tersebut.

Suara pena yang bergesekan dengan kertas terdengar begitu pelan. Namun malam itu, empat kehidupan berubah selamanya.

Utomo menutup map tersebut. "Aku harus pulang, besok putriku tampil di jamuan keluarga Han." Ujarnya, Wiratama mengangguk pelan.

"Dan putraku masih sibuk mengejar mimpi yang tidak akan pernah kubiarkan terjadi." Ucap Wiratama sambil memperbaiki jasnya.

Utomo terkekeh pelan, lalu menatap wiratama intens. Lalu berbicara lantang "Mimpi anak-anak boleh setinggi langit, Tapi, selama mereka masih berada di bawah nama keluarga. Mereka tetap akan kembali ke tempat yang kita tentukan."

Keduanya berjabat tangan. Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa kesepakatan yang mereka buat malam itu akan menjadi awal dari kehancuran kerajaan yang telah mereka bangun selama puluhan tahun.

 ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄
Kediaman Utomo
22.00

Mobil Rolls Royce Phantom berwarna hitam perlahan memasuki gerbang Kediaman Utomo. Mansion megah bergaya Eropa itu telah dipenuhi cahaya. Di balik kemewahannya, dentingan grand piano terdengar samar dari lantai dua. Utomo melangkah melewati para pelayan yang membungkukkan badan.

Ia tidak berhenti.

Tidak menyapa.

Tidak pula menoleh.

Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu besar. Suara sopran yang lembut terdengar dari balik ruangan.

"O mio babbino caro..."

Utomo membuka pintu perlahan. Matanya langsung tertuju pada seorang gadis yang berdiri anggun di samping grand piano.

Rambutnya tersanggul rapi.

Tangannya menggenggam partitur yang penuh dengan catatan.

Matanya terpejam, menikmati setiap nada yang keluar dari bibirnya.

Namun, di mata Utomo putrinya bukan sedang bernyanyi. Melainkan sedang dipersiapkan menjadi bidak paling berharga dalam permainan yang telah ia mulai malam itu.

"Berhenti."

Dentingan piano langsung terputus. Kayana membuka matanya perlahan. Begitu melihat ayahnya berdiri di ambang pintu, ia segera menundukkan kepala.

"Selamat malam, Ayah."

Tatapan Utomo tetap datar.

"Mulai dari awal."

Tanpa bertanya.

Tanpa membantah.

Kayana menarik napas dalam dan kembali bernyanyi. Tanpa pernah mengetahui bahwa beberapa menit yang lalu masa depannya telah dijual oleh orang yang paling ia percaya.


—To be continued—

 ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄
Jangan lupa Vote dan Komen, Terimakasih..

HELIX | Legacy of LiesStories to obsess over. Discover now