"Kenapa kau balapan liar di jalan raya?" Cha Eunwoo, petugas kepolisian ini menatap datar sang tersangka.
"Sayang sekali, kau tampan tapi otakmu kecil." Park Jihyo menjawab dengan tidak tahu dirinya.
"Sudah jelas kau balapan dengan teman teman mu tadi."
"Dengar ya polisi tampan! Kami tidak balapan, kami hanya taruhan. Yg sampai duluan, maka dia yg menang."
"Itu sama saja."
"Jelas sekali itu tidak sama!"
"Aku tidak menemukan perbedaannya."
"Tentu saja, kau kan polisi gadungan"
"Aku sarjanah hukum asal kau tau!"
"Sayangnya aku tidak tau."
"Terserah kau saja, sekarang diam!"
"Bagaimana aku bisa diam kalau kau terus mengajakku berbicara?!"
"Sekarang diam!"
"Ya kau juga diam!"
"Baiklah aku diam, dan kau(?!) jangan bicara!"
"Sedari tadi aku sudah diam."
"Itu kau berbicara!"
"Kau juga!"
"Bisakah kalian berhenti berteriak?" Kim Taehyung, merasa terganggu dengan drama kacangan yg ada di depannya sekarang.
"Diam!!" Jihyo dan Eunwoo berteriak garang.
Hening, mereka berdua sama sama mengatur nafas.
"Dasar polisi gadungan, tidak bisa membedakan balapan dan juga taruhan. Apa dia serius dengan sarjanah hukumnya? Aku rasa dekan sedang mengantuk saat meluluskannya. Dan, apakah kepala polisi di sini rabun saat membaca hasil tes nya? Kenapa dia bisa menempatkan orang seperti dia di sini? Dan kenapa juga hanya aku yg ada di sini? Kemana si hitam itu?" Jihyo menggerutu kesal.
"Bisa kau hentikan mantramu itu? Aku takut nanti terkena peletmu." cibir Eunwoo.
"Kau yakin tak mau terkena pelet ku?" goda Jihyo sambil mengedipkan matanya.
Eunwoo terperangah. "Kau benar benar gila." kagumnya.
Jihyo memanyunkan bibirnya. "Ku sumpahi kau jatuh cinta padaku!"
"Nanti, kalau aku sudah jadi duda."
"Cita citamu jadi duda?" tanya Jihyo dengan mata berbinar kagum.
Eunwoo menonyor kepala Jihyo pelan.
"Padahal kau akan menakjubkan kalau menjadi duda ber-anak satu" gumam Jihyo.
"Kau-"
"Apa?! Kau apa hah?!"
"Bisa kah kau t-"
"Permisi, saya kuasa hukum dari Park Jihyo."
"Dia ku bebaskan, cepa bawa dia pulang!"
Jihyo berdiri dengan semangat "Kenapa tidak dari tadi hah?!" Oke, dia bukan semangat, tapi ingin meledak(?)
"Aku kan juga perlu tebar pesona, walaupun pada wanita gila seperti kau."
"Kalau sampai kita bertemu lagi, aku bersumpah akan membekapmu menggunakan sapu tangan si hitam!!"
Jihyo menghentak-hentak kan kakinya saat berjalan keluar.
"Dia menarik ya?" Taehyung menyahut.
"Hanya orang gila yg suka pada perempuan sepertinya."
"Dan itu kau."
Eunwoo terdiam "Nanti ku pikirkan." jawabnya kemudian.
Jihyo pov
"Aku bersumpah akan menjambak rambut si hitam saat bertemu di kampus besok."
"Sialan!"
"Bisa bisanya hanya aku yg tertangkap oleh polisi tampan itu."
"Dasar kim hitam sialan!"
Sepanjang jalan, aku terus memaki sahabat gilaku itu. Kim Mingyu.
Kata Mama, aku dan si hitam sudah bersahabat sejak saat aku masih menjadi sperma. Mungkin itu sebabnya aku sering merasa kalau dia seperti pembantuku.
Hei! Siapa yg mau menjadikan si hitam saudaranya? Bahkan penghuni kebun binatang juga harus berfikir dua kali sebelum menyetujui nya.
Tak sadar, aku sudah berada di area komplek tempatku tinggal. Aku menoleh ke arah kanan, tepatnya rumah sahabat gila ku. Mingyu. Mobilnya sudah terparkir di depan gerbang sana.
Sialan! Akan ku balas kau besok!
Rumahku dan rumahnya bersebrangan. Jadi mudah untuk aku membalas perbuatan tak beradab nya itu.
Aku membelokkan stir ke arah rumah. Meng-klakson dua kali, agar satpam membukakan pagar. Kemudian masuk, dan memarkirkan mobil.
Satu, hanya satu mobil yg aku lihat di garasi. Itu milik Kakak kedua ku, Jimin.
Aku berjalan memasuki rumah. Sepi, sudah biasa. Aku hanya tinggal dengan kedua kakak ku. Park Chanyeol dan Park Jimin.
Park Chanyeol, dia si sulung. Tinggi, tampan, perhatian dan juga penyayang. Berbeda dengan kakak kedua ku, Park Jimin. Dia pendek, muka pas pasan, jail tapi penakut.
Orang tua kami tinggal di LA, kurang lebih 3 tahun yg lalu. 3 atau 4 bulan sekali kami akan berkunjung ke sana. Tak mungkin kalau mama dan papa yang ke sini. Kasian, mereka sudah tua.
"Ngelamun terus, ntar kesambet loh dek." itu Bang Nchim. Penganut aliran sesat milik Mingyu.
"Bang Chan belum pulang? Adek laper."
"Loh? Bukannya bang Chanyeol malam ini pulang larut?"
"Terus adek makan apa bang?"
"Beli aja sana, nasi goreng, mie ayam, bakso, atau apa gitu. Abang nitip ya."
Oke, mungkin memang sekali kali aku harus mengalah. Ralat! Ini sudah yg kesekiannkalinya aku mengalah.
Keluar dari rumah, aku terus memaki orang orang yg hari ini membuatku jengkel.
Mulai dari si Kim hitam sialan, polisi gadungan, sekarang abangku sendiri.
Asal kalian tau saja, aku sekarang berjalan kaki. Mungkin betisku akan membengkak, kalau berjalan sekitar satu jam lagi. Hanya saja, penjual nasi gorengnya hanya berjarak 3 rumah dari tempat tinggalku. Jadi betisku tak akan membengkak.
"Hai gadis manis(?)"
Itu aku; aku menyapa gadis berusia -kurang lebih- 4 tahun yg sedang menangis di tepi jalan.
"Kemana mama mu?" tanyaku sambil berjongkok di hadapannya.
Dia hanya menggeleng polos sambil terisak kecil. Menggemaskan. Aku ingin membawanya pulang.
Ide bagus, aku akan membawanya pulang saja.
Tapi nanti. Setelah aku membeli nasi goreng. Aku benar benar kelaparan saat ini. Aku takut kalau tiba tiba aku mati.
-----
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak
Seperti biasa, aku akan up sesuai mood :)
ESTÁS LEYENDO
The Story 🔞 [Book 6]
HumorIni bukan kisah cinta tentang remaja SMA yg terjebak di zonanya, menyebar keuwuuan saat sudah bergandengan, dan terdapat perusak hubungan setelahnya. Bukan! Ini hanya sebuah kisah yg hanya bikin kalian zina mata. Tak ada orang ketiga, keempat, ataup...
![The Story 🔞 [Book 6]](https://img.wattpad.com/cover/237631386-64-k944637.jpg)