Terkadang, manusia harus sampai pada titik pedih kehilangan untuk bisa mengerti arti sebuah kehadiran, perhatian, juga kasih sayang. Arti sebuah kehadiran itu akan sangat terasa saat maut telah merenggutnya, dan ketika semua itu terjadi, hanya penyesalanlah yang akan tercipta.
Hening, perih, pilu, luka, juga sakit batin yang teramat buas menggerogoti setiap relung jiwa. Tak ada yang dapat Genie lakukan selain menangis dan terus menangis. Bagai hujan di tengah kemarau, air mata tiada hentinya membanjiri paras cantik yang kini layu tersiram kehampaan.
Genie memejamkan matanya dalam-dalam. "Seandainya waktu bisa kuputar." Ia berujar lirih. Tangannya menepuk-nepuk dada yang kian terasa sesak. Berharap dengan begitu sakit yang ia rasakan akan sedikit berkurang.
"Mbak Genie!" panggil Siwi. "Mas Gale mengamuk, Mbak. Cepat ke sini, Mbak, Siwi takut!" Teriakan saudara sepupunya itu membuyarkan lamunan Genie. Akhirnya ia berjalan dengan gontai, sembari menghapus air mata yang mengalir deras dipipinya.
Dari kamarnya, Gale menjerit pilu. Hal itu membuat Genie segera berlari menghampiri. Ia mendapati Siwi dan Bi Nani yang bersembunyi dibalik pintu dengan wajah pucat ketakutan.
Kamar Gale kini sudah berantakan serupa kapal pecah. Gale melempar seluruh benda yang berada di sekitarnya. Televisi, kulkas, lemari, laptop, semuanya hancur. Gale berteriak bagai orang kesurupan.
"Gale, cukup ...." Genie berujar lirih. Saat ini hatinya juga sama berantakannya seperti kamar Gale, bahkan mungkin seribu kali lebih hancur. Genie mencoba menghampiri kakaknya yang terus menggila. Namun, badannya terpental saat mencoba memeluk Gale.
"Lebih baik gua mati aja, Gen." Gale jatuh terduduk, untuk pertama kalinya sejak ia tumbuh dewasa, Gale menangis. "Bodoh, dasar bodoh!" Kini ia memukul-mukul kepalanya sendiri.
Sekali lagi, Genie menghampiri kakaknya, tangannya yang lunglai memeluk Gale dengan lembut. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Genie, yang ada hanya Isak tangis, sebuah nyanyian kepiluan dalam keheningan.
***
"Gen, Mamah kangen, deh, liat danau. Kita ke sana, yuk! Mamah udah siapin cemilan, nih, buat kita bertiga," kata mamah penuh keceriaan. "Gale mana, ya?" tanyanya.
Sementara Genie hanya bergumam, asik memainkan ponselnya. Ia tidak begitu menanggapi ucapan mamahnya.
"Le ... Gale .... " Mamah berteriak memanggil anak sulungnya. "Kita jalan-jalan ke danau, yuk!" Kali ini mamah sangat bersemangat mengajak anak-anaknya untuk pergi ke danau.
Sebenarnya, danau itu tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Namun karena kesibukan masing-masing, mereka jarang sekali ke sana. Dulu, ketika Gale dan Genie masih kecil, danau adalah tempat favorit mereka untuk bermain. Pepohonan yang rindang, hamparan rumput yang hijau dan semilir angin yang menyejukkan membuat mereka betah berlama-lama di tempat itu.
"Le ...." Sekali lagi mamah memanggil Gale.
"Apa, sih, mah? Pagi-pagi udah berisik aja. Gale lagi telponan sama Rasti." Gale keluar dari kamar dengan kesal. Rasti adalah perempuan cantik yang sudah 4 tahun berpacaran dengan Gale.
"Mamah pengin ke danau sama kamu dan Genie. Kita main kayak dulu, Le," kata mamah dengan mata berbinar.
"Nggak bisa! Gale mau ketemuan sama Rasti," jawab Gale ketus.
"Genie juga nggak bisa, Mah. Ada acara di kampus." Genie menimpali.
"Kalian ini sibuk terus. Enggak ada waktu buat Mamah. Padahal, Mamah udah siapin semuanya. Masa ke danau sebentar aja nggak bisa."
YOU ARE READING
Jerit; Sebuah Upacara Menyambut Kehilangan
Short StoryTak ada yang dapat Genie lakukan selain menangis dan terus menangis. Bagai hujan di tengah kemarau, air mata tiada hentinya membanjiri paras cantik yang kini layu tersiram kehampaan. Genie memejamkan matanya dalam-dalam. "Seandainya waktu bisa kuput...
