Dear Dylan
Maaf, tidak izin pada mu dulu.
Aku tidak ingin lancang untuk menyebar kisah bahagia kita. Namun ku rasa, orang-orang diluar sana perlu tau kisah kita ini.
Kisah pilu nan bahagia yang pernah terjalin antara aku dan kamu.
Aku harap, saat kamu mengetahui ini, kamu tidak akan marah ya. Dan semoga kamu yang jauh disana juga tidak akan melupakan tentang Bulan mu dulu.
Kata orang, masa-masa SMA adalah masa-masa terindah dimana suatu saat nanti kita ingin mengulangnya kembali. Dan aku rasa, hal itu benar adanya.
Padahal aku tak percaya yang namanya mitos atau "kata orang", tetapi beda halnya untuk yang satu ini. Karena pada kenyataannya, masa SMA ku memang adalah masa terindah, dimana ada Dylan-ku saat itu.
Oh iya ... Satu perbedaan kentara antara aku dan kak Dylan.
Kalau kak Dylan seringkali berkata seperti ini, "gak boleh gitu, pamali. Kata orang..." Blablabla. Kira-kira semacam itulah. Sementara aku, tidak akan pernah mau mendengarkan dirinya untuk hal yang satu ini. Ya, alasannya karena aku memang tidak percaya akan hal itu.
Mengingat masa SMA, aku jadi kembali terbayang saat dimana aku dan kak Dylan berjalan kaki bersama-sama untuk menuju ke sekolah.
Rumahku memang dekat dengan SMA kami saat itu, akan tetapi tidak untuk kak Dylan.
Bedanya Dylan-ku dengan orang-orang adalah, ketika seorang pria biasanya akan menjemput kekasihnya untuk berangkat sekolah bersama dengan kendaraannya, kak Dylan justru lebih memilih memarkirkan motornya di rumah ku, sehingga kami bisa jalan kaki bersama-sama menuju sekolah.
Siswa-siswi di SMA kami, tidak akan kaget lagi jika melihat kedekatan sekaligus kemesraan ku dan kak Dylan. Hal itu tentulah karena desas-desus tentang hubungan aku dan kak Dylan memang sudah beredar luas, termasuk guru-guru di sekolah saat itu.
Jika ditanyakan, siapa yang tidak akan mengenal Bulan dan Dylan diangkatan tahun 2015? Sampai sekarang pun aku yakin, para alumni pasti akan sangat mengenal aku dan kak Dylan.
Bulan, Bulan dan Dylan.
Dylan, Dylan dan Bulan.
Pas sekali, bukan?
Aku memanggilnya kak Dylan, karena dia memang berada diatas ku. Saat pertemuan pertama kami dia berada di kelas 11 dan aku kelas 10.
Entah apa yang membuat kak Dylan begitu terobsesi akan diriku. Padahal dari yang ku dengar, dulunya dia bukan orang yang seperti itu. Bahkan berpacaran saja ia tak pernah.
Sangat aneh memang, orang setampan kak Dylan tidak pernah berpacaran. Dan pada akhirnya ia menetapkan pilihannya padaku, menjadikan ku sebagai first love nya.
Mungkin, kak Dylan memang bukan cinta pertamaku. Namun percayalah, dia kekasih pertama ku sekaligus cinta terakhirku. Sampai saat ini, ia masih menjadi cinta yang candu untukku.
Meski aku tak pernah tau, bagaimana kabarnya saat ini. Yang mampu kelakukan hanya mendoakan kebahagiannya, selalu.
🌺🌺🌺
Thanks kak Dylan, akhirnya potongan pertama kisah kita dapat publish dengan lancar.
Aku harap kak Dylan turut bahagia ya!
Bulan🧸
15 Desember 2020
YOU ARE READING
Dear Dylan
ChickLitDear Dylan ... Semua kisah kita dulu aku tuangkan kembali disini. Mohon maafkan nostalgia ku ini. Rasa rinduku amat besar, hingga sayang rasanya jika kisah kita tidak dibagi. Salam Sayang, Bulan mu dulu🧸
