Henti bergumam harap, Langit sore hari itu membuat seorang gadis menatap kosong taman bermain di depannya
Seperti ada ruang kosong yang menyingkap kenangan lama, menuntut harap kenangan kembali, tapi sia-sia.
Gadis itu mencoba tersenyum manis ketika anak kecil berlarian di depan sana
Detik berikutnya sosok tinggi dengan baju urakan berdiri tepat di hadapan gadis itu dengan tampang tengil dan kunci motor mengantung disaku celana Jeans hitamnya
"Lu yang namanya Krystal? Anak fakultas Seni itu 'kan?"
Gadis berambut Curly itu hanya diam menatap pria yang kini tersenyum konyol kearahnya
"Gua Gevan, anak fakultas ekonomi. Boleh minta nomor telepon lu?"
Keduanya terdiam sesaat, sampai gadis berambut Curly tersebut bangkit berdiri dan mengucap
"Sinting"
Kemudian pergi meninggalkan Pria yang hanya mengusap tengkuknya dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.
YOU ARE READING
Langit Sore
Teen FictionWaktu akan terus berjalan, setiap kehidupan akan terus melangkah ke depan, serta beberapa hal perlu kita tinggalkan dibelakang Tapi bagaimana jika yang kita tinggalkan adalah yang terpenting dari penggalan kehidupan? Seorang gadis dengan mata tajam...
