Prolog

317 30 13
                                        

Aku telah tau kita memang tak mungkin, tapi mengapa kita selalu bertemu?

Alunan lembut lagu terdengar di telingaku saat aku membuka pintu toko bunga dekat sekolah. Ah, aku suka sekali lagu ini. Lagu yang biasa kudengar ketika ingin bersantai. Bagiku, Lyodra memang hebat. Selalu berhasil membawakan lagu dengan penuh penghayatan, itulah alasanku mengaguminya.

Ah iya, aku lupa memperkenalkan diri pada kalian. Namaku Liliandra Zeenan, biasanya aku dipanggil Lily. Aku sangat senang membeli bunga di toko dekat sekolah, yang biasa kubeli adalah mawar putih. Aku membelinya untuk menghias makam ibuku. Ya ... Ibuku sudah meninggal sejak aku masih SMP, dan saat ini aku kelas XI SMA.

"Eh, Lily sudah datang. Beli yang biasa, Ly?" Ibu penjaga toko menyambutku saat aku masuk ke toko bunga. Aku pun tersenyum dan mengangguk.

"Iya, Bun. Yang biasa," jawabku singkat.

Aku setiap hari mampir ke toko ini dan ibu penjaga toko banyak mengobrol denganku. Kami cukup akrab, sehingga aku diminta untuk memanggilnya dengan sebutan Bunda. Aku pun tak keberatan. Lagi pula, setidaknya aku bisa tahu rasanya memanggil seseorang dengan sebutan Bunda.

"Ini, Ly. Hari ini gratis, karena kamu pelanggan setia di toko Bunda. Hahaha," ucap Bunda dengan tertawa kecil.

"Wah, makasih. Bunda baik banget," ucapku seraya mengambil seikat mawar putih.

Aku berpamitan dengan Bunda, lalu pergi ke makam dengan jalan kaki. Aku memang biasa jalan kaki, jaraknya juga tidak terlalu jauh. Aku harus menghemat pemakaian uang, jadi aku lebih baik jalan kaki saja. Saat pulang, barulah aku naik angkot sampai depan gang rumah.

Sesampainya di pintu makam, aku segera masuk dan melangkah ke makam ibuku. Makam itu terawat dengan baik, rumputnya dipotong rapi dan masih ada tangkai bunga yang kemarin kuletakkan di sini. Aku pun mengambil tangkai bunga yang tergeletak di tanah dan menggantinya dengan seikat bunga yang kubawa.

"Maaf ya, Bu. Lily datangnya sore-sore terus, kan Lily sekolah," ucapku pada angin yang berhembus.

Aku pun mulai mendoakan ibuku, kemudian berdiri dan melangkah pulang. Biasanya aku akan menceritakan hariku pada ibuku, tetapi hari ini sangat membosankan. Jadi aku tak ingin bercerita, karena memang tak ada yang bisa diceritakan.

Sesampainya di rumah, aku langsung mengunci pintu depan dan masuk ke kamarku. Tak ada yang menyambut kepulanganku, jadi ya sudah lebih baik aku di kamar. Aku tahu, kalian pasti terheran ya, di mana ayahku? Haha, aku tak tahu dia di mana. Sejak kecil, aku hanya tinggal dengan ibu dan kakakku. Namun, sekarang kakakku sedang bekerja, jadi tidak ada di rumah.

Aku pun memutuskan untuk tidur. Tak perlu khawatir soal kakakku, dia pasti bawa kunci.

***

Aku terbangun karena guntur yang berbunyi kencang. Sial, malam-malam begini hujan deras. Pasti akan dua kali lebih dingin dari biasanya. Aku menaikkan suhu AC di kamarku, sehingga tidak terlalu dingin. Baru saja aku ingin kembali tidur, terdengar ketukan di pintu kamarku.

Aku beranjak membuka pintu dan terlihat kakakku berdiri di depan kamarku. Wajahnya lesu dan pucat, aku pun segera membantunya masuk ke kamarku. Dia pun merebahkan tubuhnya di ranjangku dan aku memeriksa suhu tubuhnya. Astaga, tubuh Kak Lavender dingin sekali.

"Kak, badan Kak Lavender dingin banget. Lily ambil kompresan dulu ya, Kak," ucapku.

Aku pun segera berjalan keluar kamar dan mengambil sebuah handuk kecil beserta baskom berisi air hangat. Aku membawanya ke kamar. Saat aku sampai di pintu kamar, aku melihat tubuh Kak Lavender menggigil. Aku segera berlari, kemudian menaruh baskom di atas nakas.

Aku segera memeras handuk kecil kemudian menempelkannya di kening Kak Lavender. Tak lupa aku mematikan AC dan menghidupkan penghangat ruangan. Di kamar Kak Lavender tidak ada penghangat ruangan, karena AC di kamarnya tidak terlalu dingin saat dinyalakan.

Perlahan, Kak Lavender tidak menggigil lagi. Lalu aku membiarkan Kak Lavender tidur di ranjangku, sedangkan aku tidur di sofa kamarku. Tadinya aku ingin tidur di kamar Kak Lavender, tetapi aku tidak ingin jauh dari Kak Lavender. Jadi, aku memutuskan untuk tidur di sofa.

***

Aku terbangun karena sinar matahari menyeruak masuk ke kamarku. Saat aku benar-benar terbangun, aku baru sadar bahwa aku memakai selimut. Seingatku, semalam aku tidak pakai selimut saat tidur di sofa. Tapi, ya sudah, tidak terlalu penting. Mungkin aku hanya lupa atau Kak Lavender yang memakaikan selimut itu.

Aku melihat ke arah ranjang, tidak ada Kak Lavender. Bahkan, ranjangku terlihat sangat rapi. Mungkin Kak Lavender sudah terbangun dan merasa enakan. Aku pun mematikan penghangat ruangan, lalu berjalan ke kamar mandi.

Hari ini hari Sabtu, sekolah libur. Jadi aku tidak perlu terburu-buru untuk sekolah. Aku memakai kaus santai lengan pendek abu-abu dan rok merah sebetis. Kemudian aku keluar dari kamarku menuju ke dapur.

Saat di dapur, aku melihat Kak Lavender di sana sedang memasak. Sudah kuduga, Kak Lavender pasti sudah merasa enakan setelah bangun tidur tadi.

"Pagi, Kak. Udah enakan?" Aku menegur Kak Lavender. Kak Lavender menoleh, kemudian tersenyum dan mengangguk.

"Iya, Ly. Makasih ya, semalem kamu izinin Kakak tidur di kamarmu. Kamar Kakak dingin banget," ucap Kak Lavender.

Aku pun menyiapkan peralatan makan dan minum, kemudian duduk di meja makan. Tak lama, Kak Lavender selesai masak. Ah, ternyata Kak Lavender memasak nasi goreng dan telur. Kak Lavender pun ikut duduk di meja makan.

"Maaf ya, Ly. Kakak cuma bisa masak ini, bahan makanan kita habis. Ini juga Kakak masak nasi yang semalem," ujar Kak Lavender.

"Gapapa, kak. Lily suka kok nasi goreng Kak Lavender, kan nasi gorengnya enak, Kak," sahutku.

Ah, bagiku makan apa saja tidak jadi masalah, asalkan bersama keluarga. Kak Lavender adalah satu-satunya keluarga yang aku punya, jadi aku tidak menuntut banyak darinya. Bahkan aku bisa masuk sekolah negeri yang gratis, karena aku tidak mau membebani Kak Lavender. Toh, pendidikan di sekolah negeri juga lumayan bagus.

"Ly, nanti kamu mau ke makam lagi?" tanya Kak Lavender.

Aku pun menoleh dan mengangguk. Tentu saja aku akan ke makam Ibu, lagi.

"Iya, kak. Emangnya kenapa?" Aku menjawab pertanyaan Kak Lavender. Kak Lavender terdiam sebentar, sebelum akhirnya berkata, "Kakak ikut, ya."

Aku tertegun, tidak biasanya Kak Lavender ingin ikut ke makam Ibu. Tapi baiklah, toh Kak Lavender juga berhak untuk datang ke makam. Kan, Kak Lavender juga anak Ibu. Aku pun mengangguk setuju dengan Kak Lavender.

"Tapi nanti beli bunga dulu ya kak di toko Bunda," ucapku.

Kak Lavender mengernyitkan dahinya pertanda bingung.

"Bunda? Bunda siapa?" tanya Kak Lavender.

Aku segera menepuk keningku, aku lupa Kak Lavender tidak kenal Bunda.

"Jadi aku biasa beli bunga di toko deket sekolah, Kak. Ibu penjaga tokonya minta aku panggilnya Bunda, karena aku rajin dateng dan bantuin. Jadi aku panggilnya Bunda," jawabku.

Kak Lavender pun hanya terdiam dan melanjutkan makannya. Setelah kami selesai makan, kami pun bersiap-siap untuk pergi ke toko Bunda.

-----

Hai guys, maaf banget yaa cerita terakhirku yang 'Isabela & Juno' itu aku unpublish duluu

Aku bawa cerita baru nihh

Jadi cerita 'Terlanjur Mencinta' ini novel Song Series atau Songlit dari lagu Mengapa Kita #TerlanjurMencinta dari Lyodra. Jadi kalo kalian bacanya sambil denger lagu itu, bakal dapet sih feelnya huehehehe

Jangan lupa vote & comment guys!❣

Telanjur Mencinta [✅]Where stories live. Discover now