"Dasar bodoh! Sudah kubilang jangan pernah melihat keluar jendela, kau hanya akan membawa sial bagi siapapun yang melihatmu!"
Suara keras milik wanita berambut hitam legam tersebut berhasil membuat sekujur tubuh mungil milik gadis berwajah cantik dengan kulit putih pucat dan bibir tipis itu gemetar. Entah dosa apa yang telah ia lakukan di kehidupan sebelumnya hingga terlahir sebagai sosok yang di anggap membawa sial. Jika saja semesta mengizinkan, ingin sekali dirinya terlahir kembali. Menjadi orang yang berbeda, tentu dengan nasib yang jauh lebih baik.
"Tapi ini pertama kalinya, Ibu." ucap gadis itu dengan suara lirih.
"Sudah kukatakan, terlarang bagimu untuk melihat orang lain atau terlihat oleh mereka!"
Gadis itu, ia bahkan tak diberi nama. Hanya tahu bahwa ia adalah sebutir jiwa yang memiliki wujud dan disebut manusia, serta yakin bahwa hidupnya tak akan pernah bahagia. Ia belum pernah bertemu siapapun selain sang Ibu yang tega mengurungnya tanpa alasan jelas di dalam gubuk dan dikenalkan sebagai rumah itu. Bila tak ada buku, kertas, tinta, dan pena, ia akan hidup seperti binatang yang hanya tau makan dan tidur saja.
Ia tinggal di bumi yang maha luas, tetapi dunianya terasa sangat sempit. Terlahir menjadi gadis malang, tak diizinkan untuk tahu siapa dirinya dan dimana sang Ayah berada. Gadis itu bahkan tak tahu persis berapa usianya kini. Setiap hari ia hanya bisa melihat dinding kayu yang mulai lapuk termakan oleh waktu. Tak pernah sekalipun ia berani untuk keluar dari tempat itu, sebab terlalu takut akan kekejaman dunia luar berdasarkan apa yang sang Ibu ceritakan kepadanya.
"Sudahlah, kalau memang kau tak ingin membuatku marah maka jangan pernah lakukan yang terlarang bagimu!" ucap wanita itu sebelum akhirnya berlalu, meninggalkan gadis yang mulai meneteskan air mata dan terduduk lemas di lantai sembari menatap kepergiannya.
Waktu terus berjalan dan hari mulai gelap, jika ia terus menangis maka dirinya hanya akan tenggelam di dalam kegelapan itu. Tubuhnya begitu lemah, namun ia tetap berusaha bangkit untuk berdiri sekedar ingin menyalakan lampu. Sesekali ia menengok ke arah jendela yang telah tertutup oleh kain berwarna cokelat, menghalangi dunia luar dari pandangannya.
Tangannya sedikit mengepal, ia berusaha menguatkan diri. Lagi pula apa yang dia harapkan, tak mungkin akan ada kesempatan baginya walau hanya ingin sekedar melihat dunia luar dari dalam rumahnya. Sejak pertama kali merasakan hidup pun, ia memang sudah berada di dalam tempat itu. Ia penasaran siapa yang akan berkenan jika diminta walau hanya sehari hidup seperti dirinya.
"Aku hanya harus bertahan, menghargai apa yang telah semesta berikan untukku." ucapnya sembari tersenyum pasrah.
Ia mulai melangkah ke arah lemari yang dipenuhi dengan berbagai macam buku. Mengambil barang berharganya itu kemudian duduk di bangku dan mulai membaca kata demi kata hingga kalimat demi kalimat.
*****************************
"Clarence, dari mana saja kau?"
Clarence sedikit terkejut, tak mengira bahwa lelaki itu akan ada di rumah secepat itu.
"Ah, kau menungguku rupanya" ucap Clarence sebelum mulai memeluk lelaki berambut cokelat terang itu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku" ucap lelaki itu dengan nada dingin tanpa membalas pelukan sang istri.
Clarence melepas pelukannya secara perlahan, ia mulai menggigit bibir bawahnya. Tak berani menatap mata tajam milik lelaki yang menyandang status sebagai suaminya itu. Ia mulai memikirkan alasan apa yang masuk akal untuk di beritahu kepada suaminya. Pasalnya, akhir-akhir ini lelaki itu terlihat mulai mencurigai gerak-geriknya.
YOU ARE READING
Pretty Unknown
FantasyKekurangan adalah hal yang cukup menakutkan bagi umat manusia. Keterbatasan yang di berikan melalui takdir sering kali ditolak mentah-mentah. Beberapa beruntung dalam hal kekuasaan, kekayaan, kecerdasan, dan keindahan fisik. Sisanya hanya mendapat k...
