Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Bintang Utara, sekolah menengah atas paling bergengsi pada salah satu kota di indonesia.
Telah mempertemukan dua jiwa yang mendamba pada salah satunya.
Saat itu senja tengah melukiskan warna jingganya pada sang langit. Di sudut bangunan dengan papan nama bertuliskan UKS pada atas pintunya. Seorang pria dengan tas yang tersampir di bahunya berdiri tengah menatap ke satu objek yang sedang bergerak di depan matanya.
Senyumnya mengembang kala si objek tersebut semakin dekat menuju ke arahnya.
Objek tersebut tak lain adalah seorang gadis cantik dengan senyum menawan yang berlari hendak menemui kawannya.
"Risa!" pekiknya keras walaupun hanya berjarak sedikit dengan gadis yang di panggilnya.
Dalam hati, si pria ingin tertawa saat itu juga. Cantik, menggemaskan pula. Batinnya bergumam.
"Pacar kamu udah nungguin, aku yang disuruh-suruh jadinya! Kalo bukan kakak sendiri, males deh nurutin kemauan dia."
Rupanya, si gadis sedang merajuk.
"Kakak lo emang ribet tau gak, Rin."
Si gadis mendengus, "Ribet juga kamu tetep suka 'kan?"
Rautnya nampak menjengkelkan, tapi bagi si pria, dia benar-benar sangat menggemaskan.
"Eh, itu siapa?" Mata si gadis kala itu tak sengaja melihat pada figur tampan yang kebetulan berdiri di samping Risa, kawannya.
Tentu saja dia tidak bertanya langsung pada sang empunya, melainkan berbisik lembut pada telinga sang kawan yang sekaligus pacar kakak laki-lakinya.
"Hadyan, kenapa? Jangan bilang lo cinta pada pandangan pertama deh?"
Seketika si gadis langsung menutup mulut kawannya. Benar-benar membuat malu saja kawannya yang satu itu.
Kemudian, suara deheman terdengar kala keduanya melakukan perang pandangan.
Siapa lagi kalau bukan si pria yang jadi bahan perbincangan mereka.
"Kenalin, gue Hadyan." Dia mengulurkan tangan kanannya pada gadis cantik tersebut.
Ragu. Awalnya begitu, namun setelah hening cukup lama saat si pria bernama Hadyan hendak menarik kembali uluran tak terbalasnya. Dia menjabatnya dengan segera.
"Aku Arina. Arina Kalila,"
·𖥸·
Memperkenalkan :
⚘. Arina Kalila
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Kalau hamparan bunga tidak ada, maka bukan taman namanya. Seperti biru pekat pada lautan, sorot jingga pada sepeninggal sang mentari pada sore hari. Dia Arina, gadis dengan seribu satu rasa bagi setiap kaum adam yang mengaguminya.
⚘. HadyanBiantara
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Selalu menghampiri kekosongan, harapnya akan dapat terisi oleh keramaian. Empat alunan melodi yang mengisi daftar putarnya, hanya itu. Katanya, kalau larut jangan terlalu. Suka berkata-kata namun tak pernah sampai pada sang pujanya.