BAGIAN 1 - PERGI DENGAN BANYAKPERTANYAAN

111 4 3
                                        

"HEI! Kalian ngapain?" Teriak seorang wanita paruh baya pada dua orang yang sedang berkelahi di kantin. Ia adalah bu Sondang, wali kelas dari Gio dan Anjar.

Terlihat Gio sedang memukul seorang siswa bernama Anjar. Meskipun sudah babak belur, namun Gio masih terus memukul wajah Anjar tanpa ampun. Tak lama kemudian, bu Sondang datang sambil menahan dengan badannya, Gio pun langsung menahan pukulannya.

"GIO! ANJAR! Kalian ngapain sih? Bangun kamu, Anjar!" Murka bu Sondang sambil menahan Gio yang masih terlihat emosi. "Ikut saya ke kantor! Kalian semua bubar!" Seru bu Sondang sambil menarik tangan Anjar dan Gio.

●●●●●●●

"Gio, Anjar. Coba kalian jelaskan apa motif dibalik perkelahian di kantin tadi?" Tanya pak Pardi, kepala sekolah SMA Mulya 1.

"Dia yang pukul saya duluan pak, saya tidak tahu apa salah saya." Balas Anjar sambil memegangi pipi kanannya yang terlihat sangat lebam.

"Gio, kenapa kamu pukul Anjar?" Tanya Pak Pardi kepada Gio. Gio hanya memandangi meja tanpa membalas pertanyaan pak Pardi. "Gio, Jawab!" Seru pak Pardi.

"Saya tidak suka dengan kelakuan dia yang melakukan pemerasan ke adik kelas, pak---" Jawab Gio dengan tatapan tajam ke pak Pardi dan bu Sondang. "---Kemarin sore, saya melihat dia melakukan pemerasan ke adik kelas bersama Sandi dan Rian. Kejadiannya di warteg seberang jalan." Lanjut Gio.

"Engga, pak. Saya tidak melakukan hal itu." Ucap Anjar dengan nada meninggi.

"Kamu ada buktinya, Gio?" Tanya bu Sondang.

"Saya memang tidak punya bukti yang kuat bu, pak, tapi saya melihatnya jelas dengan mata kepala saya sendiri." Ujar Gio memelankan intonasinya

"Kalau begitu, bukan berarti kamu bisa bertindak seenaknya! Sekolah ini punya aturan!" Tegas pak Ardi.

"Aturan apa? Karena Anjar cucu dari yayasan di sekolah ini jadi saya yang harus patuh dengan aturan? Kalau begitu, tidak usah dibuatkan sekolah. Buatkan saja sekolah pribadi!" Gio langsung berdiri dan beranjak pergi.

"GIO!" Sahut pak Ardi. Ia langsung menghampiri Gio yang sudah pergi meninggalkan ruangan. "Gio!" Panggil Ardi kepada Gio di lorong sekolah.

"Ada apa lagi pak?" Tanya Gio dengan tegas.

"Tolong pengertiannya Gio, saya hanya bekerja di sini." Tutur Ardi sambil memegang bahu Gio.

"Pengertian apa, pak? Bapak bekerja di sini, siapa yang menggaji bapak? Orang tua para siswa. Orang-orang yayasan bisa punya pendapatan dari mana? Dari langit? Bukan pak, dari orang tua para siswa yang menyekolahkan anaknya di sini---" Gio menghela nafas sebentar dan melanjutkan pembicaraan. "---Lalu, bapak kerja di sini bekerja untuk siapa? Untuk yayasan? Bukan pak. Bapak dibayar untuk 'memberikan' ilmu dan mengayomi para siswa di sini, termasuk saya dan orang yang diperas oleh cucu dari pemilik yayasan." Tegas Gio.

"Saya minta maaf." Ucap Ardi sambil menunduk.

"Bapak jangan menjadi tameng untuk anak itu, ia tak pantas untuk dibela." Ujar Gio. "Saya akan meninggalkan sekolah hari ini, pak. Saya akan mencari sekolah yang mungkin lebih pantas untuk anak-anak seperti saya. Jadi, saya mohon izin pamit." Lanjut Gio sambil mencium tangan pak Ardi dan meninggalkan sekolah itu.

Rabu, 4 Oktober 2018

"Ah, ini? Gausah.. Ini? Gausah juga.. Ini? Kayaknya udah agak kecil, gausah deh." Kacau Gio dalam hati yang tampaknya masih tidak menyangka bahwa ia akan segera meninggalkan kota Jakarta.

Meskipun waktu sudah menunjukkan jam 14.00, namun Gio masih harus merapikan barang barang yang akan dibawa. Dari semula ia merencanakan akan membawa 5 tas koper besar dan 2 box, kini ia hanya akan membawa 3 tas koper dan 1 box saja. Karena ia harus memilih mana yang perlu untuk dibawa dan mana yang tidak perlu untuk dibawa.

Generasi 17 - CERITAKUHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora