"NIIILLLLEEE Bangguunnnnnn Niilllleeee!"
Ibu berlari memasuki kamarku.
"Gimana sih kamu ini. Hari ini kamu pertama kalinya masuk sekolah malah tidur pules nih anak. Makanya! Tonton terus aja tu kartun - kartun ga jelas tu!"
"Apasi pagi - pagi ganggu banget...., udah ngehina juga.."
"Dah terserah Bunda mau kepasar nanti kalo ketinggalan anter jemput minta totoro nganterin yak!"
"Duhhhhhhh, iya - iya ini Nile bangun kok..."
"Duh kacamata kesayangan gw mana lagi... perasaan tadi malem diatas meja.."
"Buuuukk..., liat kacamata Nile nggaa?"
"Duh kepasar juga... "
"Ya udah la nanti aja setelah mandi."
Gue akhirnya memutuskan mandi. Setelah mandi gue mengambil baju seragam baru yang tergantung di pintu kamar.
"Dasi check, topi check, kaos kaki check. Tas juga udah, rambut udah rapi klimis, siap berangkat."
Gue memutuskan bermalas - malas di atas kursi sambil bermain hape gue. Tanpa gue sadari waktu sudah lewat begitu lama, jemputan sudah diluar dan gue sudah melangkah kaki keluar.
"Kok ada yang beda ya apa ya?"
Gue memustukan untuk tidak mempedulikan apa yang dirasakan indra pengelihatan gue dan dengan antusias memasuki antar jemput. Gue duduk dikursi sebelah supir dan menutup pintu mobil.
"Perasaan gue ga seminus ini deh. Apa minusnya naik ya? Duh gue butuh ganti kacamata kayaknya nih."
Gue merasa ada sesuatu yang aneh. Biasanya gue bisa melihat jalan raya dengan jelas. Tapi kali ini sangat burem, gue mencoba mensipitkan mata dan melihat apakah ada yang salah. Gue merasa ada yang tidak pas di atas hidung gue dan disitu gue sadar.
"OOOOOIYYAAAA KACAMATA GUE!!!"
Gue teriak sekeras mungkin dan mengagetkan sang supir yang sudah tua. Untungnya si bapak tidak stroke setelah teriak, dan gue memutuskan untuk minta maaf.
"Ehe maaf pak."
Gue berpikir dalam hati
"DUUUhhhh kacamata gue ketinggalan....., masak suruh mak anterin? Gue udah bukan sd lagi juga..."
Akhirnya dengan pasrah gue serahkan semuanya pada yang berkuasa...
Gue memutuskan tidur agar melupakan apa yang sudah terjadi.
Saat gue bangun, pintu gerbang sekolah sma baru sudah diambang muka. Gue turun dari mobil sambil menyipitkan mata sepanjang jalan. Gue akhirnya memutuskan untuk berhenti menyipitkan mata karena mata gue semakin berair setelah berusaha untuk melihat jarak mata sampai kaki gue.
Gue akhirnya menemukan kelas yang ditujukan untuk murid baru.
Saat berjalan masuk gue bisa merasakan muka - muka asing menatap muka culun gue. Gue pun bertatap muka dengan kakak kelas yang menjaga disini. Ekspresi gue yang seperti anak kecil hilang dimall pasti membuat kakak kelas ini ikut kebingungan
"A.. da.. yang bisa dibantu dek..?"
Otak gue pun berhenti berkerja dan jantung gue berdebar... Gue berpikir dalam otak gue.
"Apa gue ngomong kalo gue salah kelas?... Tapi nanti masalahnya makin panjang... Tapi ini awkward banget...."
Gue akhirnya tau apa yang harus gue lakukan..
Sambil tertawa kecil gue berkata "Ehe.. engga mas.. "
Gue akhirnya memilih untuk keluar kelas dan menahan malu. Gue berpikir
jalan - jalan ke sekitar area sekolah dengan mengelihatan cuman dari muka sampai kaki. Sampai akhirnya gue ditemukan oleh senior lainnya yang akhirnya menempatkan gue dikelas yang tadi gue membuat awkward first impression.
Kedua senior akhirnya debat karena gue.
"Gimana sih lo anak lo nyasar muter - muter ke kelas lain!"
"Lha mana gue tau! Dia ga ngomong apa - apa!"
"Dah lo duduk aja sana "
Akhirnya gue dipaksa duduk, saat berjalan mencari kursi kosong gue melihat muka - muka yang ga seneng ngelihat gue. Saat gue melihat ada kursi kosong gue akhirnya melihat kursi kosong dengan cara menyipitkan mata gue sampai ngga kelihatan bola mata gue. Kursi itu bersebelahan dengan seorang cewek dan gue terpaksa duduk disitu.
"Permisi ini kosong kan?"
"Iya tuh duduk aja sono ngga papa"
Gue memiliki pengalaman sedikit tentang perempuan. Tapi untungnya gue udah main banyak banget game love simulator untuk tau caranya berinterkasi sama mereka. Sambil menyipitkan mata gue menatap perempuan itu untuk mengetahui wujudnya secara jelas. Pandangan gue hanya burem dan akhirnya memutuskan untuk berhenti karena mata gue sakit.
Saat menoleh kearah sebaliknya gue tiba - tiba di sentuh dari belakang.
"Ja.. di.. nama lo siapa?"
Gue sebenernya kaget ada yang mau kenalan sama gue yang culun banget dan keliatan introvert sekali.
"U..h.. nama gue Nile.."
"Nile? Oke nile nama gue Olive salkem"
Dia membuka tangannya dan sepertinya mengajak gue salaman. Karena gue ngga terlalu bisa melihat gue akhirnya terpaksa menyipitkan mata lagi agar bisa liat tanganya dimana. Akhirnya gue mencoba menjabat tangannnya.
"Uhh Nilee.. tangan gue di bagian kanan tangan lo.."
"Eh.. maaf gue ga keliatan.."
"Emangnya lo minus berapa sih??"
"Hhmmm ng.. ga tau sih.... terakhir gue cek mata minus tiga tapi itu 6 taun yang lalu."
"Pantes aja lo kayak orang mabuk...."
"Ehehe.."
Fakta tentang gue belum makan dari pagi tidak membantu kinerja otak gue saat pagi. Dimana pertanyaan kritis dan butuh logika tidak bisa gue jawab pada saat lapar.
"Btw lu dari mana?"
"UHhh.. gue sih dari rumah sih, kalo lu dari mana?"
Muka Olive terlihat kebingungan dan membuat gue juga kebingungan. Gue berfikir dalam hati.
"Apakah ada yang salah? Perasaan jawaban gue bener."
Muka Olive terlihat semakin kebingungan. Gue jadi panik apakah gue mengatakan sesuatu yang sakral. Akhirnya Olive terlihat seperti dia baru paham akan perkataan gue. Dia pun mengatakan
"Ya gue tau lu dari rumah.. , tapi maksud gue dari mana itu lu sd mana..."
Gue malu. Dengan keadan gini gue berani untuk menjawab pertanyaan tadi yang berakhir ke gue mempermalukan gue sendiri. Gue akhirnya menerima kenyataan dan menjawab
"Uhh... SMPN Raya 7."
"Ohhh gue tau tempat itu..., gue kalo mau kesini harus lewat situ."
"Ohhh.."
Sebelum perbincangan berakhir Olive menyela..
"Btw lu bangga ga sih bisa masuk sekolah favorit."
"Bangga sih.. soalnya gue biasanya nilainya biasa - biasa aja."
"Hmmm.."
"Kenapa kok lu keliatan ga seneng dengan jawaban gue?"
"Nggapapa.."
Kemudian kakak - kakak osis datang untuk menjelaskan peraturan sekolah dan dasar - dasar lainnya. Semua berjalan lancar dan hari - hari
YOU ARE READING
What's wrong about being just friends?
Teen FictionKetika dua orang menjalin hubungan apakah harus selalu cinta sebagai target akhir?
