#1

94 3 2
                                        

"Kamu dapat kelompok berapa, Son?" tanya Ulfah yang sesekali masih memastikan kembali namanya yang berada pada daftar peserta MOPDB (Masa Orientasi Peserta Didik Baru).

Bola mata Sonia naik turun mengikuti rentetan nama yang memanjang di tempelan kertas. Mencari letak namanya berada.

"Sepertinya ini sesuai abjad Son, coba kau cek di kelompok terakhir," saran Ulfah kepada Sonia.

"Benar, Fah, aku berada di kelompok 9, kelompok terakhir." Sonia melihat nama lengkapnya 'Zianca Sonia Rianti' berada pada kelompok 'Edelweis' kelompok 9.

"Yah, kita nggak satu kelompok nih," ujar Ulfah dengan raut wajah masam.

"Sudahlah, tidak apa-apa. Nanti kau cari kenalan baru, biar tambah teman. Lagipula namamu 'Alviana Ulfah Pramesti' sudah pasti ketahuan dapat kelompok awal. Seharusnya ganti nama dulu jadi 'Zalviana' biar samaan, ya nggak?" Sonia menyikut tangan sahabatnya sejak duduk di bangku SD itu dengan dibumbui candaan. Dia selalu berhasil menggoda Ulfah yang sesekali bersikap menye-menye. Tidak pernah berubah. Tapi Sonia sangat nyaman bersahabat dengan Ulfah. Suasana yang tadinya garing jadi ramai. Menjadi tidak membosankan saat bersama Ulfah.

"Terlambat. Seharusnya 16 tahun yang lalu kau bilang seperti itu pada Mamah-Papahku, saran nama 'Zalviana' pasti ditampung," celetuk Ulfah.

"Ya kali, aku masih di dalam perut juga, gimana sih nih, Nyonyah Ulpah," Sonia memberi penekanan pada huruf 'f' yang digantinya dengan huruf 'p'. Sonia menggelengkan kepala beberapa kali, tertawa setiap perkataan yang dilontarkan sahabatnya itu.

"Ya sudah sekarang kita masuk ke ruangan masing-masing, daripada nanti kita telat," sambung Sonia yang menepuk pundak Ulfah. Memberi salam perpisahan untuk beberapa jam ke depan.

Sonia melangkahkan kaki menuju ruang kelas yang paling pojok, ruangan yang disediakan untuk kelompok 9. Setelah ia berhasil memastikan tempelan kertas bergambar bunga edelweis di jendela kaca, langkahnya semakin mantap untuk memasuki ruang kelas. Sesekali ia tersenyum dan mengangguk pada peserta lainnya yang mencoba saling ramah kepadanya. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, melihat kursi yang masih kosong. Seorang cewek berkacamata dengan kerudung instan memberinya instruksi agar duduk di dekatnya. Sonia menghampirinya dan duduk di samping cewek yang sedang memegang serial novel roman di tangannya. Mungkin kegiatan membaca novel menjadi kegiatan yang mengasyikan untuk menunggu bel masuk berbunyi.

"Hai, kenalkan namaku Ghina." Cewek humble yang bernama Ghina itu menjulurkan tangan kepada Sonia.

"Namaku, Sonia," Ia menjabat tangan Ghina dengan senyum yang ramah.

"Salam kenal." Keduanya saling tersenyum.

Setelah mengobrol tentang asal SMP, alamat rumah, hobi, dan hal yang seru untuk dibincangkan, Sonia sudah mulai nyaman mengobrol dan berinteraksi dengan Ghina. Dia gadis mungil yang humble, lincah, suka bercerita dan mau mendengar cerita. Itulah yang disukai Sonia. Teman yang baik akan selalu mau mendengar dan didengar. Ada saatnya bercerita, ada saatnya diam mendengarkan. Keduanya saling mengalir dalam berbincang, tak terasa beberapa menit lagi bel masuk akan berbunyi. Sesekali Sonia memperhatikan Ghina yang mulai tidak tenang. Beberapa kali Ghina melihat ponselnya. Seperti ada seseorang yang tidak berhasil untuk dihubunginya.

"Kenapa, Ghin?" tanya Sonia memberanikan diri.

"Rama, temenku belum datang juga, mana kurang lima menit masuk lagi," Ghina mulai panik.

"Sudah dihubungi?"

"Sudah. Apa dia telat ya, jangan sampai terjadi, belum genap betul menjadi anak SMA di sekolah ini, masak sudah dihukum."

Sonia mencoba menenangkan Ghina. Benar saja, sejurus kemudian bel masuk berbunyi. Semua peserta didik baru, merapatkan mulut, tidak membuat gaduh seperti sebelumnya. Seorang kakak kelas berjas OSIS masuk ke dalam ruangan kelas. Perempuan yang cantik dengan bulu mata yang lentik dan wajah yang kecil, kedua tangannya berada di dalam kehangatan saku jas OSIS-nya. Pantofel yang melekat pada kakinya membuatnya tampil rapi, memberi kesan feminim, dan anggun. Kakak manis itu merupakan pengurus OSIS yang akan menjadi penanggung jawab kelompok 'Edelweis'.

TENTANG HUJAN KEMARINHistórias para pegar e não largar. Descubra agora