Darah mendominasi. Menenggelamkan dan melenyapkan semuanya.
Sekelebat memori muncul di kepalanya, seolah sebuah mimpi buruk kembali terulang sebelum lelaki mungil itu terbangun dalam keadaan terengah-engah. Jantungnya berdentum-dentum cepat. Sementara keringat dingin turun dari pelipisnya.
Lelaki kecil itu disambut sebuah cahaya hangat yang menerobos masuk dari jendela kamarnya. Namun hal itu tak dapat membuatnya merasa hangat. Ia malah menggigil ketakutan karena mimpinya.
Seharusnya, hal tersebut merupakan hal yang normal dialami bagi siapapun. Mimpi buruk memang selalu dialami siapa saja. Termasuk Darel Adiputra, lelaki berumur 7 tahun dengan segala keluguannya, dan jangan lupakan juga tubuh gempalnya.
Hanya saja, Darel merasakan kejanggalan yang tak biasa dari mimpi yang dialaminya.
Hanya satu sosok yang ada di pikirannya saat ini. Sosok yang selalu dipercayainya. Sosok yang selalu membuat Darel tenang karena suaranya yang lembut.
"I-ibu!"
Marsha—ibu dari lelaki malang itu—muncul di pintu kamar dan segera berlari ke arahnya, menenangkannya.
"Shh, tenanglah," bisik Marsha pelan seraya merengkuh putra gembulnya dalam pelukan.
"Ibu … sepertinya Darel mengalami mimpi buruk," sahut Darel dengan suara bergetar. Namun, perlahan usapan lembut dari Marsha berhasil membuat lelaki itu merasa tenang dan damai.
"Hanya mimpi buruk," ujar Marsha dengan suaranya yang, oh luar biasa, lembut. "Tenang saja, semuanya pasti akan baik-baik saja."
*
Berjalan seorang diri dengan tas di punggungnya, Darel terus melangkahkan kaki, memangkas jarak untuk kembali ke rumahnya setelah hari menjengkelkan yang dihabiskannya di sekolah.
Aku hanya ingin bersama ibu, batin Darel. Sedari awal, ia benar-benar benci soal sekolah yang menyita waktu kebersamaannya bersama Marsha.
Apalagi, ada hal yang ditakutkan Darel saat di sekolah. Siapa lagi kalau bukan para penindas yang masih merupakan kakak kelasnya.
Namun, bukan hanya mereka. Orang-orang di sekitar sekolah yang tak punya malu pun kelihatannya sering mengolok-oloknya.
Sementara itu, para guru tak bertindak sebagaimana seharusnya. Darel memang tak dapat mengandalkan siapapun. Tak ada yang bisa dipercayainya selain Marsha, ibunya sendiri.
"Oi, gendut!" Salah seorang penjaga warung di depan sekolah memanggilnya dengan panggilan tak etis itu kala ia sedang menunggu murid-murid sekolah untuk membelanjakan dagangannya.
"Apa?" tanya Darel sopan, mengabaikan soal panggilan tadi.
"Enggak jajan dulu? Oh, iya. Anak gendut sepertimu harus diet biar langsing."
Perkataan itu disambut tawaan dari seorang pembeli yang tengah makan di warung tersebut. Darel menggeleng dengan gaya khasnya yang lugu. Seperti yang tertulis sebelumnya, memang bukan hanya murid yang menindasnya, bahkan juga orang dewasa tak berhati mengolok-olok soal kekurangannya. Padahal Darel sama sekali tak bisa berbuat apapun dengan hal itu.
YOU ARE READING
Unseen Miracle
Mystery / ThrillerKarya anak-anak Coretan Literatur Muda kelas Saturnus @SilverJayz @girlzua Genre HTM-Mengisahkan seorang anak beranak Darel berusia 7 tahun, yang tak bisa membedakan manusia dan arwah. Kisahnya tragis, anak lelaki bertubuh gembul yang selalu dijadi...
