Halo!
Sebelum membaca cerita, alangkah baiknya berkenalan dulu dengan aku hehehe...
Perkenalkan, aku Almaharani. Kalian bisa panggil aku 'Rainy' or 'Ra'.
Mau tahu banyak tentang aku? Yuk! Kepoin Wattpad (onlyraraaa) dan Instagram (@hmaharani_11).
Selamat Membaca!
.
.
.
"Tinggalin aku sendiri!"
Anak lelaki dengan rambut hitam pekat itu berujar tak suka kepada wanita yang mengikuti langkah kakinya.
"Apa yang kamu bicarakan?!"
Anak laki-laki itu membalikan tubuhnya, air mata yang menggenang di pelupuk mata itu sudah cukup menjelaskan apa yang menimpa hatinya. Ia menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan kecewa dan marah.
"Tinggalin. Aku. Sendiri!"
Saat hendak melangkahkan kaki, wanita itu dengan sigap mencekal pergelangan tangan anak itu. "Jangan seperti ini, Theo," ujar wanita itu dengan suara yang melembut.
Theo, anak laki-laki itu mendorong bahu Mamanya itu lalu dengan cepat berlari menjauh tanpa menoleh ke belakang dan mengabaikan teriakan Mamanya.
"Theo!"
Tidak perduli, ia mulai membelokan langkah di gang sempit itu. Menghapus jejak air mata yang sudah berjatuhan menyusuri pipinya Theo-
Bruk !
"Awh!"
Theo menabrak seseorang, anak laki-laki itu segera menghampiri gadis berkepang satu yang tadi di tabraknya. Membantu gadis itu mengumpulkan peralatan melukisnya yang berceceran di jalan.
"Maaf, aku nggak sengaja."
Gadis itu menganggukan kepalanya pelan. "Nggak apa-apa," sahutnya lalu mengangkat kepala menatap Theo. Keningnya berkerut saat mendapati jejak air mata dan sembab pada wajah anak laki-laki itu. Ia segera mendekat.
"Kamu kenapa nangis? Ada yang nakalin kamu?" tanya gadis itu lembut.
Theo menggelengkan kepalanya. "Nggak, aku baik-baik aja."
Gadis itu menatap Theo dalam, menimang-nimang lalu mengulurkan tangannya. "Aku Rani. Kamu siapa namanya?"
Theo menatap tangan kecil yang terulur itu, menyambutnya lalu mengucapkan nama. "Aku Theo."
Setelahnya, mereka kembali memunguti peralatan melukis Rani di jalanan. Setelah menyerahkan alat-alat berupa kuas dan cat itu Theo hendak pergi namun Rani menahannya.
"Temenin aku melukis, ya? Atau ... kamu ada kepentingan?"
Theo menatap Rani, lalu menggelengkan kepalanya. Gadis itu tersenyum ceria, menarik tangan Theo menuju taman yang tak jauh dari gang mereka bertemu.
"Ran, bisa jalan sedikit cepat?" pinta Theo.
Tanpa menjawab, Rani langsung menarik Theo untuk berlari bersamanya. Jalanan yang sepi membuat keduanya leluasa berlarian tanpa takut ada kendaraan. Saat hampir sampai, Rani melepaskan tangan Theo dan berjalan duluan ke depan air mancur yang menjadi ikon taman.
Dalam pandangan Theo, Rani sedang mempersiapkan alat-alat itu seperti menegakan kaki penyangga untuk kanvas dan mengeluarkan cat-cat dari tempatnya. Theo memperhatikan itu semua, dan Rani terlihat sangat cantik.
Rasa kesal dan sedih yang tadi membumbung tinggi di dada entah meluap kemana, melihat gadis itu tersenyum sambil melambaikan tangan padanya, Theo mulai melangkahkan kakinya mendekat, meraih pergelangan tangan Rani saat gadis itu hendak melukis. Lalu berucap pelan namun terdengar tulus.
"Ran, ayo kita pacaran."
•...•
A/N :
Halo! Di Labyrinthine kali ini, Rani akan menemani kalian bersama Theo.
Jangan lupa berikan dukungan kalian melalui Vote dan Komentarnya, ya! Terima kasih!
KAMU SEDANG MEMBACA
Labyrinthine [Slow Update]
Teen Fiction[FOLLOW DULU YA :) BIAR SEMANGAT NULISNYA♡] *** Theo dan Rani. Keduanya jatuh cinta dengan cara paling sederhana. Hanya butuh waktu tiga detik untuk Theo memahami isi hatinya dan hanya butuh satu kali pertemuan untuk mewujudkan sebuah rasa dalam han...
![Labyrinthine [Slow Update]](https://img.wattpad.com/cover/230487629-64-k90320.jpg)