Gadis remaja 13 tahun itu menatap wanita dihadapannya dengan tatapan berapi-api, kedua tangannya menggepal hingga kubu jarinya memutih. Emosinya memuncak dan tidak bisa lagi di kendalikan.
"SIALAN! ANDA WANITA MURAHAN!! BERANI-BERANINYA SELINGKUH DIBELAKANG AYAH SAYA!!" teriaknya.
Sedangkan wanita dihadapannya tersenyum meremehkan gadis itu.
"Terus? Emangnya kamu mau ngapain? Mau ngadu ke ayah kamu?" tanya wanita itu. "Mana percaya ayah kamu, inget ya! Ayah kamu itu cinta saya!" lanjutnya membuat gadis itu tertawa sinis.
"Oh iya? Inget ya saya itu anak kandungnya dan anda hanya istri pengganti mama saya!"
Wanita itu tertawa.
"Kau dan Abela, ibumu, terlalu polos dan lugu. Upsss.. Apa bisa aku menyebut gadis didepanku ini polos dan lugu? Sedangkan ucapannya saja tidak sopan."
Plak
Gadis itu dengan berani menampar pipi wanita dihadapannya. "Jangan memanggil nama mamaku dengan mulut kotormu sialan!"
"Sssh.." wanita itu meringis kecil, matanya menggelap. Sebelum tangannya terangkat untuk menampar balik gadis didepannya itu suara klakson mobil membuatnya berhenti.
"Papa pulang! Lihat saja aku akan mengadukanmu kepada papa!" ancam gadis itu, gadis remaja itu berniat lari untuk menemui ayahnya sebelum suara wanita itu menghentikannya.
"Kita lihat saja! Aku atau kau yang menang!"
Plak
Plak
Mendengar suara tamparan yang amat keras membuat gadis itu menoleh ke arah wanita itu. Mata bulat gadis itu melebar melihat wanita itu menampar pipinya sendiri berkali-kali, dan membenturkan kepalanya di lemari kaca hingga dahinya tergores dan mengeluarkan darah.
Gadis itu yang tidak mengerti rencana busuk wanita itu menghampirinya berniat untuk membantu, sebelum teriakan sang ayah terdengar menggema memenuhi seisi rumah.
"CLEORA!! JULIA!!"
Teriakan bariton yang berasal dari arah belakangnya membuat pergerakan gadis itu berhenti. Dengan senang, dan semangat gadis itu membalikkan tubuhnya, lalu berlari menuju ayahnya berniat untuk menghilangkan rasa rindunya dengan pelukan hangat dari sang ayah.
Namun teriakan sang ayah berhasil menghentikan gadis itu. "APA YANG KAMU LAKUKAN KEPADA JULIA??!"
"Pa-pa.." gadis itu memandang sang ayah terkejut, dan juga sedih. Ini pertama kalinya dia dibentak oleh sang ayah.
Ayah gadis itu berlari menghampiri wanita itu yang terduduk dengan wajah penuh air mata, meninggalkan dan tidak memperdulikan gadis itu yang masih mematung dengan tatapan kosong mengarah ke sang ayah.
"Julia kamu kenapa??" tanya sang ayah.
"Hiks.. A-aku.. Ga pa-pa mas.. Hiks" dengan terisak wanita itu menjawab.
"Bilang sama aku! Siapa yang ngelakuin ini semua??!" tanya sang ayah.
Sebelum menjawab wanita itu menatap gadis itu yang juga sedang menatapnya dengan sinis, dan menyunggingkan senyum kemenangan. "C-cleo.. Tap-tapi.. Hiks mungkin dia.. Tidak sengaja melakukannya."
Gadis itu yang mendengar namanya disebut sebagai pelaku kejahatan segera berteriak. "Tidak pa! Aku tidak melakukannya! Jangan percaya wanita licik itu!"
"DIAM KAMU CLEO!!"
"Mas.. Hiks jangan bentak dia.. Dia masih kecil.." ucap wanita itu bertujuan memprovakasi sang ayah.
"Tidak! Aku juga harus tegas sama dia! Aku gak mau kalau dia jadi melawan seperti ini."
"Papa! Aku gak pernah ngelakuin itu!!! Wanita itu berkata omong kosong Pa!" ucap gadis itu.
"CLEO! JANGAN JADI ANAK YANG SUKA BOHONG! SEKARANG MINTA MAAF!!" bentak sang ayah membuat gadis itu menangis.
"PAPA JAHAT!! PAPA GAK PERCAYA LAGI SAMA AKU! AKU BENCI PAPA!!" teriak gadis itu sebelum berlari menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
Setelah membanting pintu kamarnya gadis itu terduduk lemas dibelakang pintu, wajahnya sembab oleh air mata.
"Mama.. Hiks.. Wanita.. Hiks.. I-tu.. Licik ma.. Cleo.. Sakit.." ucapnya terus terisak.
"Hiks.. Cleo.. Ha-harus apa ma?.. Hiks.. Bantu Cleo.."
Hatinya hari ini patah karena sang ayah, dan mungkin jika dia terus berada disini setiap hari dia akan merasa sakit hati.
"Ma.. Apa.. Cleo.. Pergi.. Aja.. Hiks pergi kerumah nenek?"
Dengan gontai dia berdiri, dan berjalan menuju lemari untuk mengemasi pakaiannya. Keputusannya untuk pergi meninggalkan rumah ini sudah bulat, dan mungkin tidak bisa diganggu gugat.
Setelah barang-barang pentingnya sudah disimpan di dalam koper kecil hadiah sang mama, gadis itu segera keluar dari kamar tanpa memperbaiki penampilannya terlebih dahulu. Dia mengabaikannya!
Memdengar suara langkah kaki beradu dengan gesekan roda koper mengalihkan perhatian sang ayah yang tengah mengobati wanita itu di ruang tamu.
"Mau kemana kamu Cleo?!" tanya ayahnya.
"Pergi!" jawab gadis itu dengan nada ketus dan tanpa melihat sang ayah. Dia sangat kecewa kepada sang ayah yang lebih mempercayai wanita licik itu daripada dirinya yang merupakan anak kandungnya sendiri.
"Sekali kamu menginjakkan kaki kamu keluar dari rumah ini! Jangan harap kamu diterima kembali!!" ancam ayahnya.
Gadis itu berdecih. "Cleo juga gak mau balik ke rumah bagaikan neraka ini!" ucapnya sinis.
Sebelum dia menutup pintu utama, dia melihat sang ayah untuk terakkhir kalinya, dan melihat wanita licik itu yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Kali ini anda menang! Dasar wanita licik! Saya pastikan hidup anda tidak bahagia!" ucapnya.
.
.
Tbc
YOU ARE READING
AlLeoFa
Teen FictionBlurb: "Bukannya aku lelah, hanya saja aku ingin kamu bahagia selalu bersamanya." -Daniall Erlando- *** "Gue sayang dia, tapi gue sadar persahabatan selama 10 tahun gue lebih berharga." -Rafael Fernado- *** "Jujur gue bingung. Kenapa gue bisa dicint...
