Part one , end.
.
.
.
Ruangan itu sunyi. Meski ada dua orang disana. Yang bisa terdengar adalah deru nafas marah. Mata bulat bambi itu masih kekeuh dengan apa yang ada di otaknya. Sedangkan lawannya tak begitu berbeda. Menatap marah dengan mata bulat yang jarang terlihat.
Jimin mengepalkan tangannya. Amarah yang tak pernah menguasai sekalipun, kini mulai menyapa. Panasnya merambat dari remasan tangan kanan, melewati pembuluh darah menuju ke jantung. Pompaan darah mendesir ganas , mengirim amarah dengan cepat ke otaknya. Sekali lagi dia hanya ingin meyakinkan sang lawan bahwa dia hanya ingin yang terbaik untuk mereka.
"Jungkook ! Aku tidak mengatur apa yang harus dan tidak harus kau lakukan ! Tapi kali ini tidak benar !"
Yang diajak berdebat pun tak kalah panas. Bambinya semakin menyala, bara itu terlihat menguasai akal sehatnya.
"Kau tidak perlu ! Aku sudah dewasa hyung ! Aku tahu aku melakukan hal yang benar. Kau- ...."
Ucapannya berhenti sesaat. Sedikit jantungnya berdenyut nyeri menyadari kalimat yang telah bergantung di lidahnya.
"..... - k... kau tidak ada urusannya dengan ini ! Ini bukan urusanmu, MENGERTI !"
deg....
Pertahanan Jimin melonggar. Kepalan tangannya membuka. Desiran darah itu turun kepunggung. Panas menggelayar disana. Terasa menyakitkan mendengar kalimat yang Jungkook katakan barusan. Ini bukan urusanmu, katanya.
"A-apa? Maksudmu ini bukan urusan diantara kita berdua? Jungkook, hyung hanya- .."
"Stop." Jungkook menyela. "Sekali lagi kutegaskan ini bukan urusan hyung. Aku akan mengurus masalah ini sendiri. Ada kata kita diantara aku dan Jimin hyung, tapi bukan berarti aku harus menuruti semua kata-katamu."
Jimin mundur selangkah. "Oh, begitukah?"
Jungkook menelan ludah. Perseteruan ini tak akan ada habisnya. Apalagi dia sadar kebiasaan buruknya saat otaknya dikuasai bara amarah. Dia tak bisa mengendalikan lidah sialannya.
"Kau bukan peduli padaku hyung, kau hanya punya ketakutan berlebihan. Ketakutan kehilanganku, seperti pecundang."
.
.
.
.
Seperti pecundang.
Kata itu menghantam kepalanya. Menyadarkan Jimin bahwa anak didepannya ini tak bisa lagi digapai saat ini. Amarah membumbung sekali lagi di dada Jimin.
"Baik. Aku tidak akan peduli padamu lagi. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Silahkan nikmati hidupmu sendiri, Jungkook."
Dan Jimin melangkah pergi meninggalkan ruangan dengan telinga berdenging. Dirinya terlalu marah.
.
.
.
Sunyi.
Lagi-lagi ruangan itu tak terdengar seperti berpenghuni. Hanya sosok muda dengan mata bambi yang mulai berkedip menyadari apa yang terjadi. Suara hujan terdengar sayup saat pintu dibuka. Jungkook merasa sesuatu menghantam dirinya begitu dia sadar. Dia sendirian. Dia berada diruangan ini sendirian.
YOU ARE READING
He's In The Rain - Jikook Special
Short Story"Rain fall, and me too. " Berdasarkan cerita Jimin dan Jungkook on BTS Festa 2020 jikookoneshoot bxb bts festa bts story boyslove
