Aku tak mau dianggap sebagai seorang kutu buku, karena orang-orang selalu mengaitkan kutu buku dengan orang yang introvert berkacamata dan tidak keren. Hanya saja, koleksi buku yang ada di kamarku, kini membuatku jadi terkenal sebagai laki-laki yang suka gonta-ganti pacar—atau paling tidak membuat hati mereka luluh. Rata-rata gadis yang kukencani suka membahas karakter feminis dari buku-buku legendaris seperti: Jane Eyre dan March bersaudara, sampai yang paling ekstrim—mereka suka membahas karakter laki-laki yang dibuat terlalu keren, sampai tidak masuk akal—Christian Grey dan Edward Cullen contohnya. Kalau saja Christian Grey bukanlah pria sukses yang punya helikopter pribadi dan cuma kerja di McDonalds, Anastasia pasti menganggapnya hanya sebatas pria mesum yang punya fetish aneh—atau bahkan mereka tidak akan pernah bertemu sama sekali.
Hari ini adalah hari kelulusanku dan sekolah sedang mengadakan pesta dansa sekarang. Aku memakai tuxedo lengkap dengan dasi kupu-kupu warna merah yang konyol—beruntungnya ayahku memperbolehkanku meminjam mobil BMW-nya. Tadinya aku mau menjemput Joohyeon dan menanyainya tentang bagaimana caraku menyetir, sampai sebuah telepon membuatku absen dari pesta dansa dan melupakan rencana show off-ku kepada Joohyeon.
Seorang pemula pastilah susah untuk memarkirkan mobilnya—kira-kira begitulah aku sekarang, kemudian aku naik lift bersama dengan beberapa perawat dan berakhir di sebuah ruangan remang-remang—di lantai tujuh tepatnya. Di sana aku disambut oleh ke-dua orang tuanya—yang kemudian meninggalkan kami berduaan saja. Bukan karena kami sedang berduaan saja aku jadi tegang dan berkeringat dingin, melainkan karena suara dari defibrillator—alat stimulasi detak jantung, yang kuketahui namanya setelah sampai di rumah—. Aku merekam sosoknya dari atas sampai bawah untuk merilekskanku dari suara defibrillator yang mengintimidasi, wajahnya yang pucat dan tirus terkena biasan cahaya membuatnya terlihat seperti Alice Cullen dan berhasil melekukkan bibirku—tersenyum pahit, kutangkup pipinya lalu kuelus lembut dengan jempol.
"Kau terlihat seperti Alice Cullen," aku terkikik, "aku tidak tahu kenapa aku menyebutkan Alice Cullen. Aku tidak tahu—aku sedang tidak bisa berpikir," suaraku mulai bergetar, yang aku tahu sebuah pujian kecil dapat mencairkan suasana.
"Bodoh kau, bisa-bisanya pilih Alice Cullen, sudah jangan sedih," katanya sambil meninju pelan lenganku menyibak tanganku dari pipinya yang disertai setengah lekukkan bibir.
Aku jadi merasa bersalah karena sebelum menemuinya aku malah berpikir untuk bersenang-senang dengan Joohyeon. Aku merasa bodoh. Kemudian aku berdiri membelakanginya dan menunduk. Siapa bilang laki-laki tidak bisa menangis? Aku sedang menangis sekarang. Melihat kondisinya yang sudah seperti mayat hidup untukku adalah hal yang berat, aku memukul dadaku pelan dan memori saat pertama kali kami bertemu tereka ulang di kepalaku, membuat dadaku sesak dan tak bisa bernapas.
Saat itu aku kelas sebelas dan aku sedang bolos pelajaran kebugaran karena aku habis berkelahi dengan teman sekelasku. Aku melarikan diri ke perpustakaan, petugasnya sudah hapal denganku, dari sorot matanya aku tahu kalau dia menyukaiku—atau aku saja yang narsis, aku tidak peduli yang penting aku diperbolehkan bersembunyi di perpustakaan. Di rak paling belakang—yang buku-bukunya sudah agak berdebu aku mencari spot aman untuk tidur. Tiba-tiba aku melihat sosok—seperti hantu—sedang berdiri di sisi lain rak dari balik barisan buku yang tingginya tidak rata. Btw, ia tak tinggi, hanya setengah dari tinggi rak, aku memikirkannya sampai membuatku tertawa sendiri—yang membuatnya tersadar kalau aku sedang mengamatinya, dan mata kami bertemu—mata yang membuatku sepersekian detik merasa seperti berada di kebun lavender yang wangi dan damai sampai jantungku berdetak kencang seakan bersiap untuk berhenti berfungsi. Oh! Ternyata dia bukan hantu, dia adalah murid kelas lain yang juga bolos dari pelajaran kebugaran.
"Pstt," desisku memanggilnya setelah mengambil beberapa buku yang menghalangi kami—menghalangiku lebih tepatnya. Kemudian dia melakukan hal yang sama, tetapi diam saja melongo dan memberikan tatapan tanya.
