PROLOG

27 5 1
                                        

Ayah adalah cinta pertamaku. Dia adalah panutanku dan aku berharap bisa mendapatkan pendamping hidup sepertinya. Yang bisa mengayomi anak-anaknya dan sangat mencintai istrinya. Cinta mereka seolah sempurna tanpa celah. Tanpa syarat.

Sampai pada hari itu. Dimana Ayah mengubah semuanya. Hal yang tidak seharusnya aku tahu malah ku saksikan secara gamblang dan diam-diam.

"Aku sudah bilang, Lastri! Kenapa kamu masih tidak paham?" wajah Ayah terlihat sangar saat itu, aku bahkan takut melihatnya. Urat-urat lehernya menonjol pertanda bahwa Ayah berusaha untuk tidak berteriak.

"Tapi mengapa harus dia?! Apa kamu sudah gila? Dia sahabatku Roy!" Kulihat Ibuku bersimpuh di sudut dinding dengan linangan air mata. Aku yakin bajunya pasti sudah sangat basah, tapi sayang keadaan saat ini gelap.

"Apa?! Kau sendiri yang bilang bahwa kau tidak akan peduli padaku lagi, ingat! Kau hanya butuh uangku Lastri, berhentilah bersikap kekanakan."

Aku tidak percaya Ayahku bisa berkata seperti itu. Uang? uang untuk apa? Mereka saling mencintai, 'kan? Ataukah aku yang memang tidak tahu apa-apa?

Ibuku bangkit berdiri lalu mendekati Ayah. Dia menarik dasinya, aku yakin itu melilit erat lehernya. Ayah bahkan sudah membalas dengan mencengkram leher Ibu.
Aku bisa mendengar keduanya meringis kesakitan. Mereka saling bertatapan dengan lama.

"Aku sudah bilang, jika ingin membuat keributan jangan di dalam rumah," Ayah segera memperbaiki letak blazer miliknya dan melewati Ibu begitu saja.

Seolah tanpa kasihan Ayah berjalan menuju ruang kerjanya. Meninggalkan Ibu yang duduk bersandar di dinding sambil terisak.

Dadaku mendadak sesak, apakah setiap orang yang saling mencintai bisa bertengkar? Mereka bilang pertengkaran dalam pernikahan itu hal yang lumrah, tapi apa urusan Ayah dengan sahabatnya Ibu? Aku terlalu kecil untuk tahu hal itu, apa yang dapat dilakukan anak berusia sepuluh tahun ketika melihat orangtuanya bertengkar?

Sejak saat itu tanpa alasan apapun aku berpura-pura tidak tahu, dengan diam menganggap bahwa kami baik-baik saja.

Bahwa pertengkaran mereka malam itu hanyalah sebuah lelucon tengah malam bagi orang dewasa, lelucon seperti aku bermain polisi-penjahat dengan adikku.

Karena keesokan harinya mereka terlihat baik-baik saja. Terlihat harmonis dengan senyuman manis. Aku bahagia, tapi sayangnya itu tidak lama.

Pada suatu malam Ayah mendatangi kamarku. Aku sebenarnya tidak tidur malam itu, tetapi berpura-pura tidur.

Ayah berjalan mengendap-ngendap mencoba menahan sepatu pantofel miliknya agar tak mengeluarkan bunyi yang keras. Udaranya sebenarnya cukup dingin, 'tapi aku menahannya takut Ayah tahu kalau sedang bermain peran.

"Putri Ayah akan beranjak menjadi remaja... " aku merasakan Ayah memegang kakiku, lalu rasa hangat menyelimuti ku. Ayah memakaikan kaos kaki untukku dan mengambil selimut tebal untuk tubuhku.
"-Ayah tidak menduga kau akan tumbuh begitu cepat. Lekaslah menjadi dewasa Shania. Temukan lelaki yang benar-benar mencintaimu, bukan yang seperti ayah. Ayah menyesal," aku mendengar ayah terisak pelan. Dia seolah kehilangan napas dan terbatuk sembari menepuk-nepuk dadanya. Apakah sesakit itu?

"... Ayah harap kau bisa tumbuh dewasa dan menikah dengan seseorang yang kau cintai."

Setelahnya Ayah menghilang dari hidupku. Kata Ibuku, dia pergi untuk bekerja. Tapi pekerjaan apa yang membuatnya tidak pulang ke rumah?

Dan di usiaku yang beranjak 17 tahun, Ibuku membuka semuanya. Tentang rahasia mereka

"Kami menikah karena perjodohan," Ibu mencoba memberikan penjelasan padaku dengan tenang. "Tidak ada seorangpun yang bisa memahaminya..."

"Apa maksud Ibu?" Aku melihat sekujur tubuhnya gemetar.

"Tidak ada yang akan pernah paham isi kepala Ayahmu. Ketika dua bulan pernikahan dia menawarkan sebuah perjanjian kontrak pernikahan. Namun, aku menolaknya."

"Mengapa Ibu menolaknya jika tahu Ibu bisa terluka dalam jangka waktu yang lama?" Ibuku diam dan menatapku sangat dalam.

"Karena Ibu jatuh cinta pada ayahmu. Ibu pikir setelah kehadiranmu semua bisa berubah, tapi dia tetap sama. Dia menganggap apa yang kami lakukan itu salah," Ibu mengambil sebuah album foto yang berisi foto pernikahan mereka.
Dilihat sepintas semuanya sempurna, Ibuku sangat cantik dan Ayah sangat tampan. Hubungan mereka tentu saja sangat direstui dengan senyuman oleh kakek nenekku.

"Ayahmu memang tidak permah mencintaiku, tapi aku yang selama ini mencintainya. Hati Ayahmu tertinggal pada seorang wanita yang sampai saat ini ibu tak pernah tahu dia siapa."

Hatiku merana melihat Ibu terluka. Tinggal bersama dalam belasan tahun, apakah mustahil untuk cinta itu tumbuh? Mengapa Ibuku bisa bertahan begitu lama?

Apakah kehadiranku dan adikku tidak cukup untuk menjadi bukti cinta mereka?

"Apakah Ayah tahu bahwa Ibu mencintainya?," Ibu tidak menjawab dan aku langsung tahu jawabannya. Mau seribu kali aku bertanya jawabannya pasti akan tetap sama.

"Shania... "

"Ya?"

"Jika kau berada dalam pilihan dicintai atau mencintai, maka lebih baik kau tidak usah memilih,"

"Mengapa? Aku pikir dicintai itu baik."

"Tidak. Jika dicintai itu baik, Ayahmu akan bertahan disisiku hingga kini. Dan jika mencintai itu baik, kita tidak akan menderita seperti ini... " Bak buah simalakama, Ibu semakin membingungkanku.

"Nyatanya kata cinta itu terlalu sakral untuk cinta sepihak. Temukanlah orang kau cintai dan mencintaimu, mengerti?"

"Baik, Ibu." Aku tidak bisa menyangkalnya. Banyak orang-orang yang menikah karena cinta tapi berakhir dengan perceraian. Apalagi Ibuku? Tentu saja aku tidak ingin seperti Ibu.

Tapi apakah ada jaminan jika cinta bisa bertahan selamanya?

Unconditionally LoveWhere stories live. Discover now