“But on a Wednesday, in a cafe, I watched it begin again.”
-Taylor Swift
Hujan sore ini telah menahanku selama lebih dari satu setengah jam di dalam sebuah kafe yang letaknya cukup jauh dari asrama tempatku tinggal.
Aku tak bisa memesan minuman lagi karena aku sudah menghabiskan lebih dari sepuluh menit untuk bolak-balik buang air kecil dan sialnya aku tak membawa cukup banyak uang untuk membeli cupcake atau semacamnya. Jadi yang bisa kulakukan sekarang hanyalah memandang keluar jendela dan mengamati air hujan yang meleleh turun begitu menghantam kaca besar di sampingku.
Sebenarnya ini cukup menyenangkan kalau saja aku tidak kelaparan.
“Emma?”
Perlu waktu beberapa saat bagiku untuk menyadari bahwa memang ada yang sedang memanggil namaku.
“Emma?” panggil orang itu lagi.
Aku mendongak dan segera menyesali pilihan bajuku hari ini. Maksudku, saat berangkat ke sini tadi aku memang hanya berencana untuk mencari Wi-Fi dan mengerjakan tugasku. Jadi t-shirt kebesaran dan celana jeans pendekku memang tak akan siap menghadapi pertemuan tak terduga dengan siapa pun, terutama teman-teman kampusku.
“Ternyata benar kau.” Cowok itu menghampiri mejaku. Untuk kalian yang tidak mengenalnya, dia bernama Ezra. “Aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini.” Ezra tersenyum dan mempersilahkan dirinya sendiri duduk di seberangku.
Jujur saja, meski kami mengambil jurusan yang sama, aku dan Ezra tak pernah benar-benar mengobrol. Alasannya sederhana: Aku cenderung tidak bisa bicara dengan normal di sekitar cowok tampan dan pintar seperti dia. Maksudku, bukannya aku pilih-pilih atau semacamnya. Itu terjadi begitu saja. Kalian pasti mengerti.
“Kau habis mengerjakan essay untuk filsafat ya?” tanyanya sambil melirik laptopku.
“Benar,” jawabku singkat.
Ezra tersenyum lagi. Dia lalu menggoyang-goyangkan jemarinya ke dalam rambut coklatnya yang setengah basah dan membuat rambut itu mencuat ke segala arah. Dibandingkan aku, Ezra terlihat lebih siap untuk ‘pertemuan tak terduga’ dengan hoodie berwarna hijau gelap yang ada di bawah jaket jeans-nya.
Dia menatapku dan tersenyum lagi. Dia suka tersenyum. Yah, jika aku punya senyuman seperti dia, aku pasti juga akan suka tersenyum. Dia adalah salah satu orang-orang beruntung itu yang memiliki mata bulan sabit saat tersenyum.
“Menurutmu kapan hujan ini akan berhenti?”
Sejenak aku terpikir untuk mengatakan sesuatu yang lucu, tapi aku segera menepis ide itu dengan cepat. Menurut pengalamanku, mencoba terdengar lucu di depan cowok tampan hanya akan menambah daftar kejadian memalukan dalam hidupmu yang akan kau sesali setiap kau sedang termenung di kamar mandi. Jadi, jangan coba-coba melucu jika kau hanya berniat untuk membuat seseorang tertarik. Itu tidak akan berakhir baik.
“Entahlah,” kataku pada akhirnya.
Keheningan mulai mengambil alih keadaan.
Lagu instrumental jazz akustik mengalun pelan di latar belakang. Air hujan terus meleleh di jendela besar, memburamkan pemadangan di luar kafe.
Ezra tersenyum untuk ke-sekian kalinya, tapi tak ada yang berbicara.
Ya Tuhan, ini benar-benar canggung.
Aku bersyukur karena beberapa saat kemudian seseorang di konter memanggil nama Ezra dan untuk itu dia harus pergi mengambil minumannya.
“Kau mau?” saat kembali, Ezra juga membawa sepiring wafel dan ayam goreng panas yang masih mengebulkan asap-asap halus ke meja kami.
“Tidak. Kau saja,” tolakku dengan halus.
“Benar, nih?”
Aku mengangguk dan mencoba tersenyum meski aku bisa merasakan perutku bergetar. Air liurku mulai terbit saat membayangkan betapa hangatnya wafel itu di dalam mulutku. Ya ampun, aku benar-benar lapar.
Ezra mengedikkan bahu dan mulai menyuap wafel ke dalam mulutnya.
Aku menatap keluar jendela lagi, mencoba mengalihkan perhatianku. Kalau saja aku membawa banyak uang hari ini, pasti aku tidak akan kelaparan. Yah, tapi hujan ini kan juga bukan rencanaku.
“Aduh!” Ezra memekik.
“Kenapa?”
“Aku sedang sariawan,” katanya sambil menepuk-nepuk pelan ujung bibirnya. “Sepertinya aku tidak akan bisa menghabiskan ini sendirian. Bisakah kau membantuku?”
Tanpa menunggu jawabanku, Ezra mulai memotong setengah wafel dan ayam gorengnya dan mendorongnya sedikit ke ujung piring. Dia lalu mengambilkan pisau dan garpu untukku.
“Kau tidak mau membantu orang yang sedang sakit?” tanyanya lagi ketika aku masih diam saja, kali ini dengan nada mendesak.
Aku memikirkannya sejenak. Yah... kalau dia memaksa, apa boleh buat.
Setelah ragu-ragu, aku mulai makan dan ternyata benar: Wafel ini memang sehangat yang kubayangkan. Aku mengerang puas begitu lidahku disentak oleh berbagai macam rempah dari ayam goreng. Ini benar-benar surga.
“Kau juga mau mengerjakan tugas?” tanyaku setelah menghabiskan semua potongan wafel itu dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Maksudku, itu tadi kan hanya setengah porsi.
“Tidak,” jawabnya. Dia berhenti mengunyah, terlihat mempertimbangkan sesuatu. “Sebenarnya aku habis dicampakkan.”
Meski tak terlalu mengenalnya, tapi aku bisa tahu bahwa dia sedang marah dari caranya memotong ayam goreng itu. Untung saja dia tidak sampai membelah piring kami.
Aku terdiam. Jadi sedikit menyesal telah bertanya.
“Pacarku—” Ezra menggeleng kesal, “-tidak, orang itu memutuskanku karena bosan pacaran.” Ezra mendengus sinis. “Aneh juga dia bilang begitu padahal sekarang sedang liburan dengan pacar barunya.”
Aku mengernyit. Kalau ada yang memperlakukanku seperti itu, mungkin aku sudah membakar rumahnya dan bukan memakan wafel seperti yang Ezra lakukan.
Aku mengamatinya, lalu menyadari bahwa dia mengunyah lebih cepat daripada sebelumnya saat menceritakan semua ini. Bukankah tadi dia bilang kalau dia sedang sariawan?
“Aku bisa membantumu membakar rumahnya,” aku menawarkan.
Ezra terkekeh pelan. Dia mendorong potongan ayam yang cukup besar ke pinggir piring lagi. “Menurutmu apa yang harus kulakukan untuk melupakannya?”
Masalahnya, departemen cinta bukanlah keahlianku. Lupakan soal melupakan, mempunyai orang yang bisa kulupakan saja aku belum pernah. “Hmm... bukankah kau hanya tidak perlu mengingatnya?”
Ezra tersedak. Dia menepuk-nepuk dadanya sambil terbatuk. Dia lalu terkikik setelah meneguk segelas air. “Aku tidak tahu kenapa itu bisa sangat lucu, tapi terima kasih—kau membuatku tertawa.”
Aku jadi kasihan padanya. Dia sudah membagi wafelnya denganku tapi aku hanya bisa memberinya nasehat yang bahkan sama sekali tidak lucu. “Kurasa, jika aku jadi kau, aku tidak akan pernah bisa melupakan orang yang memperlakukanku seperti itu. Maksudku, orang menyebalkan biasanya memang sulit dilupakan.”
Ezra tersenyum masam. Seolah menyetujui perkataanku.
“Sejujurnya agak tak adil bahwa orang-orang seperti itu yang malah memakan banyak tempat di hatimu.”
“Yeah,” gumamnya pelan.
Aku mengamatinya. Dia sudah berhenti makan meski masih banyak wafel di sisi piringnya. Kurasa apa yang baru saja kukatakan tak berhasil membuatnya merasa lebih baik.
“Mungkin kau tak perlu melupakannya.” Ezra mendongak saat aku mengatakan ini. “Mungkin kau hanya perlu mencari kebahagiaan lain.”
“Kebahagiaan lain?” Ezra memiringkan kepalanya. “Memangnya semudah itu?”
“Aku tidak bilang itu mudah.” Aku berhenti untuk merangkai kata-kata. “Maksudku, hidup ini singkat. Daripada merenungi orang yang bahkan tidak menghargai hatimu, kenapa tidak gunakan waktu itu untuk membuat memori baru yang lebih indah?”
“Begitu ya?”
Aku mengangguk. “Maksudku, dunia ini akan terus seperti itu. Akan ada saja orang yang menghancurkanmu dan membuang-buang waktumu. Aku tebak sekarang mantan pacarmu juga sedang bersenang-senang dengan pacar barunya. Lalu kenapa jadi kau yang harus bersedih?”
Aku mengerjapkan mata begitu sadar apa yang baru saja kulakukan.
Ya Tuhan. Apa itu benar-benar baru keluar dari mulutku? Kenapa aku bisa sangat tidak peka, sih? Bagaimana aku bisa mengatakan kalau mantan pacarnya itu sedang bersenang-senang dengan orang lain? Mungkin aku harus menutup mulutku mulai sekarang.
“Jadi aku tidak boleh bersedih?” tanya Ezra, terlihat tidak terpengaruh.
“Bukan tidak boleh!” kataku cepat-cepat, tak ingin dia salah menangkap maksudku. “Tapi daripada bersedih, kau lebih berhak merasakan kebahagiaan.”
Ezra diam untuk waktu yang cukup lama. Dan setiap detik yang berlalu membuatku sadar bahwa apa yang kukatakan pasti terdengar payah baginya.
“Maaf kalau itu terdengar tidak masuk akal. Yah, kau tak perlu mengikuti saranku,” kataku seraya menggaruk belakang leherku yang tidak gatal. “Sebenarnya setelah dipikir-pikir akan lebih praktis kalau kita membakar rumahnya saja. Aku bisa membantumu kalau kau mau.”
Ezra tertawa lagi. Kali ini sebuah tawa sungguhan.
Lalu dia mengangkat wajahnya dan menatapku cukup lama. Aku menggeliat gelisah di kursiku ketika sadar bahwa sepertinya dia tidak berencana untuk menghentikannya dalam waktu dekat.
“Kau tahu apa yang kupikirkan?” katanya tiba-tiba. “Tadi aku kesini hanya untuk mencari makan, tapi ternyata aku akan pulang dengan hal lain. Sekarang aku tahu harus mulai mencari kebahagiaan itu dari mana."
Hujan mereda. Jendela besar di sampingku tak lagi buram oleh kucuran air. Kami bisa pulang sekarang.
“Kau mau pesan wafel lagi?” Ezra melepas jaket jeans-nya.
Ada sesuatu yang menggelitik di dalam perutku.
Kenapa ya? Apa mungkin aku masih lapar?
Aku berdeham. Jadi salah tingkah karena dia masih menatapku sampai sekarang. “Tapi aku tidak bawa uang.”
Ezra tersenyum, membuat dua bulan sabit muncul di kedua matanya lagi. “Kau bisa menggantinya dengan mentraktirku makan malam besok.”
YOU ARE READING
Love: Mini Bites
Short StoryCerita-cerita cinta yang bisa kamu nikmati hanya dalam satu kali gigitan. ====== Note: akan terus diperbarui dengan cerita-cerita lain. Jangan lupa komen, kritik, dan sarannya ya 😊😊 Enjoy these love stories in mini bites!!
