Bukan. Ini bukan hilang. Tetapi hanya akan digantikan dengan menunggu kapan waktunya datang.
Karna sejatinya kehilangan yang baik adalah sebaik-baiknya kehendak dari Tuhan.
***
"Ineffable"
Terlalu Indah. Tak Terkatakan. Tak Terlukiskan.
Naraya Alet...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kamu; adalah orang yang pernah menjadi bagian dalam hidupku. Pernah menjadi bagian dalam kisahku, dan pernah memiliki peran dalam perjalananku. Terimakasih kamu! Yang sekarang menjadi pemeran utama dalam cerita dan tulisan-tulisanku."
***
Gadis dengan balutan promnight dress berwarna grey yang telihat pas di tubuhnya sedang berjalan melewati lorong demi lorong kelas, yang terdapat di lantai 2 dengan ditemani sebuah heels berukuran 10 cm model Ankle Strap.
Tepat setelah berada di depan pintu sebuah ruangan, ia berhenti untuk sejenak memfokuskan pandangannya pada sebuah papan penunjuk yang tertempel di atas pintunya, X IPA 1.
Sunyi, sepi, serta keheningan yang tercipta menemaninya. Tidak ada suara. Sampai ia memutuskan untuk membuka pintu ruangan itu yang kebetulan tidak terkunci. Hanya ketukan dari heelsnya yang terdengar menggema di seisi ruangan. Diperhatikannya sudut demi sudut, sisi demi sisi dari ruangan itu, yang menyisakan banyak memori serta kenangan di dalamnya.
Ingatannya kembali pada sebuah masa di mana ia mengenal seseorang yang berhasil mengisi seluruh hatinya tanpa celah sedikitpun. Sosok yang menyebalkan dan sangat ia benci pada awalnya, tetapi berubah menjadi cinta pada akhirnya.
Flashback on
"Jangan tinggalin gue ya.. Kita bareng-bareng sampe lulus. Sampe nanti saatnya gue bilang "Al... Will u marry me?"
"Paansi lo... Mikirnya kejauhan.."
"Bukan kejauhan... Tapi ngebuat planning. Hidup itu harus punya planning Al. Walaupun kita ga tau kedepannya bakal gimana, yang penting kita udah berusaha dan berdoa.. Setidaknya dengan berdoa, kita masih berharap kita punya harapan.."
"Lo ngomong apasih? Pusing nih gue.."
"Naraya Aletta Qirani pacar gue yang mikirnya suka rada telat, nanti seiring berjalannya waktu pasti lo ngerti sama omongan gue tadi.. Oke?"
"Maksud lo gue telmi? Telat mikir? Gitu? Iya?"
"Engga... Lo pinter, cepet banget nangkep omongan orang, cepet banget ngertinya. Gila... Bangga banget gue sama lo."
"Diem lo!"
"Jangan ketus-ketus.. Nanti gue makin sayang."
Flashback Off
Ia mengingat bagaimana setiap detik yang ia lewati dulu, bersama dengan seseorang yang pernah, masih dan akan selalu menjadi bagian dari hidupnya.
Di sini, di tempat yang menjadi bagian dari saksi bagaimana setiap harinya ia berjumpa dengan sosok yang masih mengisi relung hatinya hingga saat ini.
Di semenjak perasaannya datang, semenjak itu juga ia memutuskan untuk mengunci pintu hatinya yang tidak akan ia berikan kepada siapapun sampai Tuhan berkehendak lain.
Flashback on...
***
Gadis berkemeja krem yang dipadukan dengan rok coklat serta sepatu pantofel hitam itu berjalan menyusuri lorong sekolah untuk menuju kelasnya. Dengan tergopoh ia melangkah menyusuri mading demi mading yang terletak di lorong itu. Pikirannya kacau, bagaimana tidak, ia lupa bahwa hari ini akan ada quiz matematika. Tetapi ia lupa untuk belajar akibat maraton menonton film semalam suntuk.
Gadis dengan perawakan rata dengan tinggi 160cm dan berat badan 48kg membuat gadis itu masuk dalam kategori pendek tidak tinggi pun tidak. Pas-pasan begitu teman-temannya menyebut.
Ia bukan tipikal cewek most wanted sekolah dengan banyak penggemar seperti dalam cerita-cerita novel. Jauh dari kata most wanted, ia hanyalah cewek biasa dengan kacamata yang bertengger di hidung mungilnya. Bukan bukan, dia bukan juga cewek nerd yang diasingkan dan tidak memiliki teman. Dia hanyalah perempuan ceria dengan segala keunikannya.
"Mampus gue, kenapa bisa lupa sih kalo hari ini ada quiz." ia terus saja merutuki dirinya sembari memukul-mukul dahi karna menyesal. Bagaimana dengan bodohnya ia tidak mempelajari sedikitpun rumus-rumus menyebalkan itu padahal akan diadakan quiz matematika.
Sesaat sebelum sampai di depan kelas, tiba-tiba saja ada yang meneriaki namanya dengan kencang sekencang toak tahu bulat yang biasa ia dengar di sekitar komplek rumahnya. "Aletta!! tunggu gueee."
Dengan terkejut ia langsung menoleh ke sumber suara peneriakan itu. "Apasih Rel? Ngagetin aja deh, suara lo udah kaya toak tahu bulat tau nggak."
"Duuuh Naraya Aletta Qirani temen gue yang paling aneh sedunia, lo kenapa sih pagi-pagi udah sensi aja?" tanya Aurel dengan tangannya yang sudah beraksi mencubit pipi Aletta gemas.
"Sakiiit Faiza Aurelia Kinandita temen gue yang paling heboh seheboh pasar ikan!" balas Aletta sambil menoyor dahi temannya yang heboh itu.
Belum sempat Aurel mengeluarkan suara hebohnya, suara wanita paruh baya dengan kacamata hitam bertengger di kepala itu mengintrupsi "Aletta! Aurel! kenapa malah ribut di luar? Ayo masuk, quiz akan segera saya mulai."
Debaran jantung Aletta semakin berpacu, keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya. Ia semakin takut menghadapi ganasnya soal matematika yang akan diberikan oleh bu Wahyuni. Jika ia belajar saja belum tentu bisa mengerjakan, apalagi sama sekali tidak menyentuh buku untuk mempelajari rumus, bisa-bisa Aletta mati muda karena menghadapi soal-soal matematika yang 180 derajat berbeda dari yang biasanya ia dapatkan pada saat penjelasan materi.
"Mati gue." ujar Aletta dalam hati.
"Kenapa lo? Gugup gitu." tanya Aurel santai.
"Gue ga belajar gara-gara zombie sialan itu."
Memang sudah bukan fakta baru lagi jika seorang Naraya Aletta Qirani cewek aneh yang menyukai film-film zombie. Jika biasanya cewek-cewek kebanyakan menyukai film romantis atau drama korea, Aletta malah menyukai film bergenre horor itu. Alasannya karna zombie lebih menegangkan daripada sekedar menye-menye menonton film percintaan atau drama korea yang sedang di gandrungi remaja-remaja masa kini.
"Yaelah lo tenang aja, nih.." ujar Aurel sembari memberikan beberapa potongan kertas kecil berisi catatan rumus itu.
"Astaga Owel thank you banget lo bener-bener dewi fortuna gue pagi ini.." kata Aletta riang sambil memeluk Aurel yang telah menjadi penyelamatnya pagi ini mengahadapi kejamnya quiz matematika.
***
Hai semua! Semoga suka dengan cerita Ineffable yaa:)
Untuk mendukung aku dengan ceritaku, jangan lupa untuk vote dan komentar yaa readers yang baik🤗
Karna vote dan komentar kalian sangat-sangat membantu aku^.^