Setiap cerita tak selalu bersama di setiap akhir. Coba tanya pada Ari akhir seperti apa yang akan dia pilih. Melepas pergi atau menahan untuk hidup bersama di tengah ladang duri?
"Saya pembohong yang buruk, sekarang kamu tau dan kamu boleh pergi."
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
2. A. Jeno Surendra a.k.a Lee Jeno
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
3. Ali Musa Adnan a.k.a Iqbal Ramadhan
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
4. Monalisa a.k.a Lisa manoban
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
5. Nayna
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Ari tersungkur, kepalanya mendadak berdenyut. Ia menoleh silau cahaya membuat ia tak bisa melihat apa yang terjadi di depanya. Ari beranjak dari tempatnya tapi sesuatu yang basah mencekal kakinya kuat.
Ari menoleh sontak menjerit ketakutan "Lucas!"
Lucas yang sekarat merintih kesakitan, darah mengalir dari perutnya. Ari gelagapan menyobek kemeja yang ia kenakan lalu menekan luka Lucas untuk mengehentikan pendarahan.
"Ari pergi, lari" Saat sekarat begini kenapa Lucas masih cerewet saja. Ari menggeleng berkali-kali tangan bergetar hebat.
"Gue benci sama lo, tapi lo gak boleh mati disini. Nanti gue dihukum sendiri ga seru ga ada lo"
"Lari bodoh, lo mau mati" Lirih Lucas, lalu terbatuk mengeluarkan darah.
"Gue bawa lo ke rumah sakit" Ari segera menggendong Lucas, baru lima langkah ia berlari lagi-lagi kepalanya dipukul sesuatu membuatnya ambruk bersama Lucas di gendongannya.
"Akh" Rintihnya menoleh kepada sang pelaku sembari memegang bagian kepala yang terpukul.
"Ibu?"
Ari kaget, kenapa ibunya tiba-tiba ada disini. Ari menoleh ke sekeliling tidak mendapati Lucas disini. Kedua tangannyapun bersih dari darah Lucas.
"Ibu kecewa sama kamu" Ibunya menangis, yang benar saja ada apa ini. Suara ibunya berdengung terus menerus di telinganya lalu di susul suara seseorang lagi.
"Ari aku kecewa sama kamu"
"Nayna!" Nayna juga menangis.
Ada apa ini!
Ari mendekat padahal ibunya berdiri tepat didepanya. Tapi kenapa langkahnya terasa jauh sekali padahal ia sudah berlari.
"Ibu"
Ari jatuh tersandung kakinya sendiri. Ia mendongak Ibunya sudah tidak ada didepanya lagi. Ia juga berdiri bukan di rumah lagi melainkan dibalik jeruji.
"Ari tolong berhenti" bisik seseorang di telinganya.
"WOI!!!!"
Plak
Ari tersentak dari lamunanya, lalu menatap sekeliling, ada Mark, Lucas, Dejun, dan Hendry. Sedang menatapnya.
"Lucas lo ga papa?" Ucap Ari khawatir saat melihat Lucas.
"Ha? Justru gue yang harus tanya, ar lo gapapa?"
Pertanyaan Lucas seolah mewakili teman-temanya yang lain. Ari menggeleng lalu memaksakan tersenyum.