1

26 4 2
                                        

Author pov.

Faresta Arvin Melviano. Anak lelaki yg cukup populer disekolahnya. Bukan anggota dari sebuah geng terkenal maupun anggota osis yg cukup teladan. Dia hanyalah siswa biasa seperti siswa lainnya. Arvin ini orangnya ramah, setiap orang yg lewat pasti disapa. Tak jarang ada beberapa siswi yg pipinya memerah akibat disapa oleh lelaki jangkung itu. Lagipula siapa yg tidak 'lemah' jika diberikan senyuman oleh lelaki tampan sepertinya? Ah, sepertinya tidak ada.

"Bun, Arvin berangkat dulu ya" Pamitnya.

"Iya, hati-hati. Titip salam ya buat Lala" Kata sang bunda sambil mengelus rambut anak semata wayangnya itu.

Tak berapa lama Arvin sampai dirumah Lala, sang pacar. Sudah hampir 2 tahun semenjak Arvin dan Lala memulai sebuah hubungan.

Tok tok tokk

"Lalaaaaa!!"

"Iya iyaaa bentar" sahut Lala dari dalam rumahnya.

Cklek

"Langsung berangkat aja ya Vin, aku belom ngerjain pr hehe"

"Dasar. Pamit dulu sana" Jawab Arvin sembari mengusak rambut Lala.

"Udah tadii. Ayo ih buruan"

"Iyaa bawel"

Setelah 15 menitan keduanya sampai.

Lala pov.

Gue langsung buru buru turun dari motornya Arvin.

"Vin aku duluan ya. Nanti kalo istirahat ke kelas aku aja, aku bawa bekel. Dadahh"

Ini jam pertama metematika minat dan gue belom ngerjain pr. Gara-gara maraton drakor nih aelah jadi ga ngerjain.

"WOI BAGI PR DONG!!" sampe kelas gue langsung teriak. Gatau malu emang, bodoamat.

"Nih buru! 5 menit lagi bel bego" Alhamdulillah, emang Putri mah terbaiq.

Gue langsung nyalin kan tuh. Anjir soalnya banyak bener woy.

Kriiiiggggg Kriinggggg

Bgst.

Astaghfirullah maav.

WOILAH ANJIR GUE BARU NYALIN 4 SOAL CUK MALAH BEL.

Siap siap dihukum inimah.

Author pov.

Tak berapa lama Bu Lina, guru matematika minat itu memasuki kelas 11 ipa 3. Yaitu kelasnya Lala.

"Selamat pagi anak anak. Langsung aja pr yg kemarin dikumpulkan ya"

Satu persatu anak mulai mengumpulkan pr nya. Kecuali dua anak dibangku belakang, yaitu Lala dan Putri.

"Put gimana nih, gue belom selesai"

"Ya salah lo kenapa ga dateng pagi"

"Anjir. Lo gausa ngumpulin dong Put, pliss"

"Ga! nanti gue dihukum. Udah ah gue mau ngumpulin dulu"

"Jahat lo Put" Lala panik. Jelas, Bu Lina itu termasuk guru killer disekolahnya.

"Ini semua anak masuk kan?"

"Iya bu" jawab Naufal, si ketua kelas.

"Kok cuma ada 33 buku? Satu anak ga ngumpulin. Siapa?" Tanya Bu Lina dengan tatapan tajamnya.

"S-saya bu hehe" Jawab Lala gugup sambil mengangkat tangannya.

"Keluar. Berdiri di lapangan sampai jam saya habis" ucapnya final.

Lala langsung keluar dari kelasnya menuju lapangan upacara. Hari ini cuaca cukup panas, dan Lala diharuskan berdiri selama 2 jam pelajaran. Cukup melelahkan.

Lala pov.

Anjir banget emang Bu Lina. Ini panas banget help, gue haus.
Udah terhitung 1 jam pelajaran gue berdiri, yg artinya masih 1 jam lagi gue harus ngejalanin hukuman laknat ini.

Tiba-tiba gue ngeliat dua orang yg lagi jalan kearah kantor kepala sekolah. Yg satu agak tua dan yg satu lagi kayanya seumuran sama gue.

Bentar bentar.

Gue familiar sama kedua orang itu. Gue kenal dia. Terutama anak yg seumuran sama gue itu.

Tapi gue ga salah liat kan?

Itu....beneran dia?

Tbc.

Ngebosenin ya? Maaf ga jago nulis soalnya:")

Vomment ya, makasih♡

DifferentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang