Sikap Buruk

13 3 0
                                        

"Ibu!!!" teriak seorang anak laki-laki dari sudut ruang tamu.

"IBUUUUU... MANA SIH LAMA BANGET SARAPANNYA!!!" anak itu berteriak lagi.

"Iya, Gen... Sebentar, ibu sedang memasaknya." suara sang ibu begitu lemah karena memang dia bekerja semalaman membuat lontong untuk dijual.

Anak yang bernama Geni ini sedang memainkan ponselnya di ruang tamu. Dia masih belum melihat apapun di ruang tamu yang biasa dipakai juga untuk makan.

"Ibu mana sih, masak aja lama banget." Geni menggerutu tanpa rasa bersalah karena apa yang dia katakan.

Beberapa saat kemudian, ibunya berjalan menuju ruang tamu dan menyaksikan anaknya tengah sibuk dengan ponselnya.

Geni tersadar dan langsung mengeluarkan segala kekesalannya terhadap ibunya. "IBU, MAKANANNYA MANA??? GENI UDAH LAPER BU!!!"

"Iya nak, itu tinggal tunggu matang saja nak." San ibu berkata dengan lembut dan melanjutkannya lagi.

"Nak, kamu sudah Sholat belum?"

"Belum"

"Lho, sholat dulu sana. Mumpung waktunya belum terlewat. Sudah mendekati fajar ini nak"

"Ihhh, tanggung Bu. Sedikit lagi mau menang ini, bisa chicken dinner Bu."

"Nak, mainan itu tidak ada habisnya nak-" perkataan sang ibu terhenti setelah melihat tas Geni yang tergeletak di pojok kursi.

"Nak, Pr matematika kamu sudah dikerjakan belum?"

"Belum"

"Bukannya hari ini ada pelajaran matematika ya kamu?"

"Ibu bawel banget sih!!! Itukan Pr aku yah biarin lah urusan aku. Emangnya nanti diakhirat ditanya Pr MTK kamu sudah kelar belum?... Enggak kan bu??? Lagian juga bu Nisa ga masuk hari ini" Geni meluap-luap kekesalannya dan membentak sang ibu yang membuat ibunya terkejut namun tetap berkata lemah lembut.

"Nak, ibu kan ngasih tau. Kalau ga ibu kasih tau kamu susah sendiri. Tadi kamu bilang bukan matematika kan yang ditanya di akhirat, kalau kamu ga solat sekarang nanti ditanya di akhirat dan dipukul malaikat bagaimana?
Ibu tidak mau itu terjadi nak. Ibu mau mengajarkan kamu sebagai anak ibu." Suaranya yang begitu lemah lembut dan penuh kasih sayang tidak membuat luapan emosi Geni mereda.

"Ah sudahlah bu. Males aku ngadu bacot sama ibu." Geni beralih tidak perduli.

"Astaghfirullah, istighfar nak. Kata-kata apa yang kamu bilang barusan nak..." Suara lemah lembutnya kini telah terisi oleh tangisan kesedihan karena sang ibu tidak habis pikir dengan perkataan anaknya itu.

"Sudahlah bu, aku mau makan. Lalu aku mau sekolah langsung. Aku ke dapur dulu untuk sarapan.

Hati-hati dengan perlakuan serta sikap dirimu terhadap orang yang melahirkanmu
- 30

MatematikaDonde viven las historias. Descúbrelo ahora