Prolog

18 3 2
                                        


"Kenapa nilai ujianmu hanya 80?"

Pertanyaan tersebut pertama kali aku dapatkan ketika aku baru memasuki kelas 4 SD. Lalu karena tidak ingin mengecewakan orang tua, aku pun belajar sekeras mungkin.


"Kenapa kau tidak bisa mendapatkan peringkat 1? Padahal nilai rata-rata peringkat 1 tidak beda jauh darimu. Jangan puas dengan peringkat 2 mu itu, berjuanglah untuk mendapatkan peringkat 1 di semester depan."

Kata-kata itu aku jadikan bahan bakar semangat belajar, seperti kata Mama, aku tidak boleh puas dengan peringkat 2 ini. Masih ada tingkatan lebih tinggi yang bisa aku capai.


"Mama bangga terhadapmu, lihatlah kau sudah mendapatkan peringkat 1 sejak kelas 5 SD sampai sekarang. Bahkan kakakmu tidak bisa seperti ini."

Kerja kerasku akhirnya terbalaskan. Aku selalu mendapatkan peringkat 1 sampai saat ini. Tetapi selain rasa senang karena sudah membanggakan orang tua ku, aku merasa hampa. Keseharian ku hanya dilalui dengan belajar, belajar, dan terus belajar. Lalu sejak aku dipuji oleh Mama dan dibandingkan dengan kakakku, kakakku mulai bersikap dingin terhadapku.


Lalu pada saat aku sudah memasuki SMA, lagi-lagi aku dipilih untuk mengikuti olimpiade Kimia antar sekolah dalam satu kota yang diselenggarakan oleh instansi swasta. Kimia merupakan mata pelajaran favoritku, aku sangat menikmati waktu memecahkan persoalan kimia. Oleh karena itu, aku tidak menolak ketika dipilih sebagai perwakilan sekolah.

"Buat Mama bangga di-olimpiade itu ya."

Aku hanya diberikan waktu 3 hari untuk mempersiapkan diri dikarenakan dari pengumuman mengenai olimpiade dari sekolah telat, dalam beberapa hari tersebut aku hanya tidur 3 atau 4 jam demi belajar. Ketika pengumuman juara aku sudah putus asa. Tidak mungkin dengan persiapan 3 hari aku bisa menang. Namun seakan keajaiban terjadi, aku mendapatkan juara 1 dalam olimpiade itu.

"Mama tau mama bisa mengandalkanmu."


Dengan reputasi aku yang selalu mendapatkan peringkat 1 dari SD hingga saat ini di kelas andalan SMA, sering mengikuti olimpiade dari SD, hingga mendapatkan juara 1 di olimpiade Kimia dengan 3 hari persiapan membuatku menjadi bahan pembicaraan teman-teman.

'Lihatlah, betapa jeniusnya Clara.'

'Seandainya aku bisa menjadi Clara sehari saja,'

'Enak ya jadi anak emas para guru,'

'Gila, Clara tidak perlu belajar namun bisa mendapatkan prestasi seperti itu,'

Yang mereka tidak tahu adalah betapa kerasnya aku belajar hingga bisa mendapatkan prestasi seperti ini. Disaat mereka bermain, aku belajar. Disaat mereka tidur, aku belajar. Disaat mereka jalan-jalan, aku belajar. Lalu aku sering bertanya kepada diriku, 'apakah yang aku dapatkan setimpal dengan pengorbananku?'


Setelah itu, sudah waktunya OSK diselenggarakan. Pada awalnya, aku merupakan perwakilan untuk mata pelajaran Kimia. Tetapi SMA-ku tidak bisa menemukan perwakilan untuk mata pelajaran Fisika. Akhirnya aku dipindahkan menjadi perwakilan Fisika sementara mereka mendapatkan perwakilan lain untuk Kimia. Awalnya aku mencoba menolak. Tetapi guru mata pelajaran Fisika yang mengajar di kelasku memohon kepadaku untuk menerimanya. 'Tidak ada kandidat lain selain dirimu nak,' begitu katanya. Pengetahuanku terhadap Fisika tidaklah sedalam pengetahuanku terhadap Kimia, aku hanya mempelajari kulitnya. Guru Fisika tersebut menaruh harapan tinggi kepadaku dikarenakan selama ia mengajar dan melontarkan pertanyaan, tidak ada orang yang bisa menjawab selain aku. Tidak ada juga yang nilai ulangan dan ujiannya setinggi diriku. Namun aku bersikeras untuk menolak karena aku tahu aku hanya akan kalah jika mengikuti OSK Fisika.

"Mama mendapatkan telepon dari guru Fisika-mu, kenapa kau menolaknya? Kau pasti bisa jika belajar. Terima saja ya?"

Lalu untuk pertama kalinya aku menolak permintaan Mama. Pada saat ini, aku sudah terlalu lelah untuk belajar lebih giat lagi. Aku hanya ingin bersantai hanya untuk sebentar saja.

"Aku tidak bisa, Ma. Fisika sangat susah, aku sama sekali tidak mengerti silabus olimpiadenya..."

"Clara, Mama tau kemampuanmu. Asal kau mau, kau pasti bisa."

"Tidak Ma, aku tau batas kemampuanku dimana. Dan aku beneran tidak sanggup mengikuti olimpiade Fisika ini."

"Kenapa kau begitu? Jika orang lain bisa, kau juga harus bisa. Orang lain makan nasi, begitu juga kau. Yang bisa Mama banggakan di kehidupan ini hanyalah prestasi mu, apakah kau ingin membuat Mama kecewa? Setidaknya cobalah untuk mengikutinya... "

"Ma, tolong jangan berikan aku tekanan seperti ini..."

"Tekanan? Sejak kapan Mama pernah memberikanmu tekanan? Selama ini Mama hanya terus mendukungmu untuk kebaikanmu sendiri. Kenapa kau menyakiti hati Mama seperti ini?"

Ada benarnya, selama ini Mama terus memberikanku dorongan untuk kebaikan aku sendiri. Tapi apakah ini artinya aku tidak merasa tertekan? Salah jika orang beranggapan aku tidak pernah tertekan. Yang dulunya aku lakukan dengan senang hati menjadi sebuah beban dan tekanan. Tekanan akan tidak ingin mengecewakan Mama. Tetapi apakah Mama mengerti? Sepertinya tidak. Akhirnya aku pun mengikuti olimpiade itu demi menghindari perkelahian dengan Mama. Dan seperti yang aku tebak, aku tidak mendapatkan juara dan tidak lulus ke babak selanjutnya.


Dengan tekanan yang terus menerus diberikan oleh Mama, aku jadi merasa belajar merupakan sebuah beban yang harus aku lalui. Aku menjadi tidak menikmati proses pembelajaran seperti dulu.


Sejak dulu, setiap kali aku tidak mendapatkan nilai yang bagus, aku hanya ingin dimengerti dan diberitahu bahwa hal itu tidak masalah. Aku hanya ingin Mama memberitahuku bahwa tidak apa-apa untuk beristirahat sesekali. Tetapi hal itu tidak pernah aku dapatkan. Yang aku dapatkan hanyalah dorongan untuk melakukan yang lebih bagus lagi selanjutnya. Memang hal tersebut tidaklah salah, tetapi bukankah manusia juga bisa lelah? Aku bukanlah robot. Aku hanyalah manusia biasa yang ingin membanggakan orang tua ku. Aku juga bisa lelah, jenuh, dan muak.


Tekanan tersebut selalu ku pikul hingga akhirnya aku memasuki jenjang perkuliahan.

"Ma, aku ingin mencoba untuk masuk ke UNPAD jurusan Kedokteran."

"Kedokteran? Mau berapa tahun kau kuliah dan akhirnya baru memiliki penghasilan? Masuk jurusan Teknik Informatika seperti kakakmu saja!"

Jurusan kuliah aku pun dipilih oleh Mama.


Aku, Clara Fredilyn, hanya berharap aku tidak akan terkekang seperti sebelumnya setelah memasuki dunia perkuliahan.


Apakah aku salah dengan merasa tertekan dan ingin bebas? 

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 29, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Kala SenjaWhere stories live. Discover now