Prolog

10 0 0
                                        

“Takdir siapa yang tau?
Jika Tuhan berkata 'terjadilah', maka Aku bisa apa?”
-----------------------------------------------------------------------------------------------------Rhallye

     “Bangun Sayang..!”
     “Kau harus bertahan..!”
     “Ingat rencana kita, kita akan bersanding dipelaminan dihiasi warna putih biru seperti impianmu.”
     “Kau harus bertahan, kau tak boleh meninggalkanku sendirian, banyak rencana yang belum kita wujudkan.”

 Rhallye menagis terisak melihat sang kekasih yang telah menemaninya selama 8 tahun tergeletak dipertengahan jalan. Darahnya bercucuran dari hidung, tangan dan kakinya juga luka karena kerasnya aspal jalanan. Jaket biru pemberian Rhallye dihari ulang tahunnya kini telah bercampur percikan darah. Celananya juga sobek. Jejeran mata yang bekerumun hanya memandang dari dekat tanpa menyentuh sama sekali. Tak ada yang berani menolong. Semua terdiam. Sesekali, tanda tanya akan penyebab kecelakaan bermunculan. Disebelah Rhallye, Si penabrak tak lagi bernapas, nyawanya telah pergi meninggalkan dunia yang fana. Sekujur tubuhnya membeku kaku. Darah masih berserakan dari kepalanya. Rhallye benar-benar bingung, pikirannya melayang entah kemana. Langit yang saat itu terang benderang, tiba-tiba saja menjadi gelap kelabu.

     “Kalian, tolong cepat panggilkan ambulance, jangan hanya melihat saja!”
     “Tolong! Tolong!”

Air mata Rhallye menangis bercucuran sambil memeluk kekasihnya yang tak lagi sadarkan diri.
Sekejap, Rhallye teringat tentang lagu yang dinyanyikan Berco beberapa bulan yang lalu. Lagu itu penuh haru. Seolah mengisyaratkan bahwa Barco harus pergi meninggalkan Rhallye untuk selamanya.

“Mungkin kini tiba waktunya aku meninggalkanmu
Peluklah Aku sepuasnya
Sudah jangan menangis lagi hapus air matamu
Relakan sudah semuanya”
-Kangen Band-

Dihari itu, entah apa yang merasuki Barco. Barco yang sebelumnya tidak pernah meminta peluk sama Rhallye, tiba-tiba saja meminta peluk, namun Rhallye menolak. Rhallye berprinsip bahwa yang boleh memeluknya hanyalah keluargnya. Jika Barco mau memeluknya, berarti dia harus berani menemui orang tuanya terlebih dahulu dan meminta  izin untuk menikahinya. Hari itu, tingkah laku Barco benar-benar tak seperti biasanya.

     “Ketika waktunya tiba, Aku akan menjadi seseorang yang sangat disayang oleh siapapun, ditangisi oleh siapapun, dikenang oleh siapapun, dan diperhatikan oleh siapapun, termasuk kamu, Rhallye” sambil tertawa terbahak-bahak.

     “Pede sekali kau dengan ucapan Mu, Barcoo.” balas Rhallye dengan nada mengejek.
Sekejap Rhallye terdiam, Ia kembali menangis.
***

Selang 30 menit berlalu, bunyi sirine ambulance kian mendekat, 2 orang perawat segera turun dari mobil dan memberi bantuan pertama terhadap Barco. Pendarahan yang terjadi diatasi, infus dipasang, dan masker oksigen diberikan untuk membantu pernafasan Barco. Kini Barco berada diatas tandu dan segera memasuki ambulance. Sedangkan jenazah disebelahnya menunggu otopsi dari pihak kepolisian terlebih dahulu.
***

Didalam mobil yang belum pernah ditumpangi sebelumnya, Rhallye benar-benar merasa asing.  Didalamnya ada Dia, Barco, Supir dan 2 orang perawat. Kini, Tubuh mungil Rhallye bergetar hebat, kepalanya pusing, air mata mengalir tanpa bisa dibendung. Jarinya memegang erat jamari Barco sambil sesekali menciumnya seolah tak ingin melepasnya pergi. Hari itu berat sekali, semua terasa lama. Laju mobil yang 120 km/jam, tetap saja terasa seperti 20 km/jam.

“Aku mencintaimu, bertahan lah untukku, untukmu dan untuk cerita kita”.

Rhallye Dan BarcoWhere stories live. Discover now