1

8 2 0
                                        

Aku seorang gadis miskin, memiliki  rumah sederhana dipinggir jalan kecil. Dari segi tampang bisa dikatakan biasa-biasa saja, tidak terlalu tinggi dan kini sebatang kara, memang hidup ini sangat lengkap sekali. penderitaan.

Tepat 2 bulan setelah kematian nenek, aku resmi menjadi seorang yang tidak punya siapa siapa, dar kecil sudah ditinggalkan ayah dan ibu karena sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa mereka. Mereka juga bukan orang kaya ataupun yang meninggalkan sebuah warisan untuk kehidupanku, jadi hanya membuat nenek menanggung semuanya sendiri. Padahal ia hanya seorang penjual ketupat pinggir jalan. Beliau tidak pernah memarahiku, mungkin karena aku bukan anak pencari masalah dan selalu menolongnya dalam berjualan. Pastinya beliau sangat sayang kepadaku, bahkan hingga ajal menjemputnya dia menangis karena tak tega meninggalkanku. Pupus sudah hidupku. Namun beliau ternyata menyimpan sebuah tabungan untuk  ku kuliah.

Tapi apalah guna berkuliah saat kau bahkan tidak bisa hidup jika tidak memiliki uang.

“Shan.”Ucapku memanggil, aku tak berani mendekat.
“Eh Mala, sini.”Ia berdiri dan mendekat, ia menarik tanganku.
“Kenalin temen gw satu SMA.”Sambil memperkenalkan aku kemereka.
“Ha-halo, saya kemala”Ucapku sedikit kikuk.
“ Gw Fikri, salam kenal.” Ucapnya sambil memegang tangan Ku.
“ Udah jangan gatel, lepasin, lama banget.”Shania segera melepaskan genggaman Fikri yang terus tersenyum menghadapku.
“Gw Naufal.”Menepuk punggung Ku lalu sibk memainkan Hpnya kembali.
“Gw Lutfi”Sambil menjabat tanganku.
Mungkin dia paling rapi disini. Rifki dan Naufal seperti badboy bagiku, memang seperti temannya Shania. Shania memang tidak terlihat seperti cewek yang anggun, dia memilih mejadi tomboy, katanya menjadi cewek tulen itu menebalkan. Padahal shania sanga cantik jika berambut panjang, aku pernah melihat potonya berambut panjang dirumahnya.
Mereka sibuk bersenda gurau, aku hanya bisa tertawa melihat lelucon naufal dan rifky. Rupanya mereka parang yang ramah. Namun lutfi lebih bnyak diam dan fokus dengan hpnya, bukan bukan karena aku menyukainya jadi memperhatikan dia terus menerus, aku memang seorang pengamat, aku tak punya banyak keberanian untuk berbicara dengan banyak orang jadi aku terbiasa mengamati orang orang disekitarku.

“La, lu jadi mau gw temenin ke terminal?” Tanya Shania kepadaku. Aku pun mengangguk iya.
“Loh ngapain keterminal Mala?”Tanya Rifki.
“Ahn-itu aku mau.”Ucapku tak berani menjawab.
“Ah kepo banget sih lu.”Sela shania sambil memukul kepala rifki, dia sangat paham dengan ku.

Shania langsung merangkul aku, dan kami berpamitan untuk pergi.

“Baru datang bos. Lama banget dah.”Ucap Shania kepada seorang lelaki yang mengahdang jalanku.
Aku segera mendongak keatas melihat wajahnya, karena merasa hawa hawa dia terus melirikku. Tepat, dia melihatku, tatapan datar, tapi aku bisa melihat mata sendu seperti kesepian. persis sepertinya, mata yang aku miliki, mata yang penuh dengan luka.

“ Kenalin bos ini mala, temen gw.”sambil mengangkatkan tanganku kepadanya. Aku haya bisa terseyum.
Dia tidak mengucapkan apapun, tapi dia mengenggam tangkanku. Cukup erat. Tangannya besar dan hangat.

Sepersekian menit, dia menarik ku, mengkuti arah langkah kakinya.
“Eh bos, jaga baik baik sahabat gw.”Ucap Shania membiarkanku pergi, yang lain hanya melambaikan tangan dengan senyuman sumringah.

Aku hanya terheran dan anehnya kenapa aku tidak melawan. Aku mengikuti langkahnya kearah sebuah motor yang berwarna merah. Motornya tipe sport, aku tak tahu namanya, yang pasti aku perlu usaha untuk menaikinya.

“Naiklah.”Ucapnya sembari memakaikanku helm.
“Ini terlalu tinggi.”Aku tak berani naik, ini kali pertamaku. Lalu dia memberikan tangannya dan membantuku naik.
Saat Ia memasang hoodienya, aku sedikit hilang keseimbangan, tanganku cepat di raihnya lalu arahkan kepunggunngnya. Sangat cekatan sekali, aku cukup terkesima.
“Nama kamu Arandra Kemala Putri, sosok perempuan yang indah dan menentramkan.”
Ucapnya membuka percakapan.
“ I-iya,”Ucapku seaadanya, aku terheran sebenarnya dia tau nama panjangku, apakah shania yang memberi tahu namaku ke lelaki ini.

Dia diam lagi, fokus mengendarai.
“Ehm, nama kamu siapa?”Ucapku malu-malu. Bodoh sekali, sudah dibawa kabur baru tanya nama. Memang aku tidak sayang nyawa.
“Kieran, Adam Kieran Alfian.”
“Apa artinya nama kieran?”
“Anak pertama yang bijaksana dan kuat.”
“Bagus sekali artinya, kata nenek nama adalah doa, beliau berharap dengan namaku itu bisa membuat rang orang disekeliling tentram saat bersamaku. Ya walaupun kebalikannya.” Ucap ku semangat, namun saat kalimat terakhir suaraku mengecil dan aku hanya bisa tersenyum kecut.

“Kenapa?. Kamu memang menentramkan. Kamu harus percaya diri.” Ucapnya menghiburku.

Aku hanya tersenyum mendengar kalimat itu. Mungkin terlihat omong kosong. Tapi untuk aku seorang diri, itu cukup menghibur.
Kami banyak mengobrol.
Memang, kita tak bisa menilai seseorang dari pandangan pertama. Sama seperti teman teman Shania, mereka memang orang yang diluar perkiraanku, termasuk Kieran.

Kieran anak yang lumayan suka mengobrol, dia hampir sepanjang perjalanan juga selalu tersenyum, berbeda dengan gayanya saat menarikku pergi.
“Kamu lapar gak? Kita berhenti makan dulu aja.” Ucapnya aku pun mengiyakan dengan senang, tidak butuh satu jam untuk membuat kami menajdi akrab.

Kami pun berhenti disebuah warung rumah makan. Pertama kalinya juga dalam idupku makan berdua dengan seorang pria. Biasanya aku hanya bersama shania, dan selalu dengan shania, adapun pasti teman teman dari shania.
“Kok melamun, ayo dimakan keburu dingin.”
“ eh iyya.”
Setelah makan aku dan kieran pun melanjutkan perjalanan.
Ya perjalanan yang aku sendiri juga tidak tahu apakah dia tahu aku ingin kemana.

Jalanan tampak mulai basah. Rintik hujan mulai berjatuhan. Para pengendara motor mulai berhenti dan meneduh hanya mobil yang berani berlalu lalang di tengah basahnya perjalanan oleh hujan.
“Kamu mau kita berhenti atau ujan-ujanan la?”tanyanya padaku.
“Aku ikut kamu ran.”Ucapku, ntah apa yang aku pikirkan, mungkin aku bisa sakit. Lalu siapa yang merawatku bila aku sakit. Aku tak punya siapa-siapa.

Tapi dia berhenti. Tapi ditengah hujan. Mungkin dia berubah pikiran. Apa yang aku harapkan.

“Nanti kalau kamu sakit aku tanggung jawab.”ucapnya sambil melepas hoodienya dan memakaikannya padaku.

-------
Selamat datang dan selamat membaca... ^^

Kata Kieran untuk MalaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora