"Saya sudah berusaha sabar menghadapi sikap kamu! Tapi kamu lama-lama tidak sadar diri ya?"
"Mas, jangan asal bicara. Justru saya yang terlalu sabar!"
"Kamu hanya bisa menyalahkan keuangan kepada saya. Tapi kamu sendiri tidak pernah mencari penghasilan lain selain menggantungkan semua kebutuhan kepada saya!"
Sayup-sayup suara mengerikan itu mulai terdengar nyata dan mengusik tidur seorang gadis di kamarnya. Salsa Almira ─ Nama gadis yang terbangun dengan wajah sendu. Alarm pagi-nya membuat ia muak dengan hari-hari yang akan ia jalani.
Salsa terduduk di atas kasurnya sambil memegangi kepalanya ─ geram mendengar kedua orang tuanya bertengkar. Ia menghela nafas berat, hingga sebulir air mata mengalir di pipinya.
***
Salsa menyesap teh hangat dengan tergesa-gesa, Entah mengapa sepagi ini suasana rumahnya begitu panas. Ia mencoba baik-baik saja ketika melihat ibunya terlihat seperti ingin menangis. Dalam situasi seperti ini Salsa hanya diam. Karena ia tahu jika dirinya berbicara, ia tak kan mampu menyembunyikan getaran suara yang akan membuatnya menangis di depan ibunya. Ia tak ingin terlihat lemah.
"Bu, Salsa berangkat ya," Gadis berseragam putih abu-abu itu menghampiri ibunya di dapur untuk berpamitan.
"Salsa sekolah yang pintar ya," Pesan Ririn─Ibu Salsa dengan nada yang membuat Salsa hampir terisak.
"Iya, bu."
"Jangan mikirin rumah. Kamu fokus belajar aja. Biar ibu sama ayah yang penuhi kebutuhan kamu."
"Iya. Assalamualaikum, bu."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan, jangan ngebut."
Suara Ririn terdengar bergetar. Salsa tahu, setelah ia berangkat sekolah nanti, Ririn akan menangis di kamar.
***
"Sal, pernah nggak sih kamu merasa jenuh sama hari hari kamu? Mau ngelakuin apapun itu rasanya malas banget. Kayak hidup tapi nggak punya tujuan."
Salsa tersenyum tipis. Bahkan yang di katakana Icha─sahabatnya, menggambarkan posisi-nya saat ini
"Pernah. Kenapa?"
"Aku pernah dengar beberapa orang memandang sebelah mata orang yang mengakhiri hidupnya. Kita harusnya nggak sepenuhnya menyalahkan mereka kan ya? karena memang kita nggak berada di posisi itu. Kita nggak tau seberapa menderitanya mereka, hingga memilih jalan itu. Pasti ada alasannya kan?"
Salsa menarik tangan Icha agar duduk di sampingnya setelah keluar dari kantin.
"Tapi bukan berarti kamu membenarkan keputusan untuk bunuh diri, Cha." Jawab Salsa sambil menyeruput es teh manisnya lalu menatap Icha dengan senyuman tipis, "Hidup itu pilihan. Tergantung kamu pilih jalan yang mana."
"Kamu benar, Sal. Tapi kadang seseorang yang sedang di uji, dan merasa kemampuannya tidak cukup kuat menghadapi ujian dari Tuhan, ia akan menyalahkan dirinya mengapa ia terlahir ke dunia."
Salsa menghela nafas Panjang. Ia tahu, apa yang sejak awal Icha bicarakan adalah suatu bentuk curahan hati yang sahabatnya itu rasakan. Icha terlalu lemah jika menanggung masalahnya sendirian. Sedangkan Salsa terlalu kuat menyembunyikan masalahnya dan memilih untuk memendamnya sendiri.
Tangan Salsa terulur merangkul bahu Icha. Menepuknya beberapa kali, seolah menyalurkan energi baru untuk menguatkan sahabatnya itu.
"Cha?"
"Hm?"
"Dengar ya."
"Apa?"
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
Bersambung...
Note singkat :
Hallo readers! Kali ini aku ingin membawakan sebuah cerita pendek yang udah lama bersarang di draft haha. Jadi Second Chance akan aku up secara bertahap hingga tamat. Jangan lupa vote dan comment nya ya hehe.
Salam manis
Hera.
YOU ARE READING
Second Chance
Short StoryMenceritakan tentang kehidupan seorang gadis yang mencoba tetap berdiri tegap walau berbagai senapan yang berisi permasalahan hidup menghujam tubuhnya. Hingga tibalah ia pada suatu waktu, dimana peristiwa tak terduga menimpanya. Peristiwa yang menj...
