Bismillah
Bangunan berwarna serba hijau berdiri tegak dengan eloknya ditengah keheningan kota yang begitu indah. Tidak besar, tidak pula kecil, baru beberapa hari bangunan ini terselesaikan, bahkan aroma catnya pun masih tercium baunya. Bangunan tersebut adalah rumah sederhana milik seorang ayah dengan satu putrinya yang baru saja memilih untuk pindah dari kota yang penuh lara.
Halaman depan rumah tersebut berisi banyak tumbuhan hijau dan bunga-bunga segar yang diberikan aura kecantikan oleh kuasa Tuhan. Semuanya tertata rapi dan sesekali bergerak lembut terkena embusan angin. Pemilik rumah sepertinya sengaja memberikan kehidupan pada makhluk selain manusia, menghormati segala ciptaan-Nya.
Didalamnya terdapat kamar berwarna senada dengan tatanan yang begitu rapi. Terdapat seorang gadis mengenakan baju gamis berwarna merah maroon yang sedang menatap bayang dirinya pada cermin. Kedua tangannya begitu lihai dalm memberi taburan bedak tipis pada wajahnya, setelah dirasa cukup pada riasan wajahnya gadis itu lalu membenarkan hijabnya, melebarkan bagian depan kerudungnya guna menutupi bagian dada dari pandangan orang-orang.
Ia berdiri menatap dalam pada sosok yang ada didalam cermin dihadapannya. Sesekali menghela napas panjang, tersadar bahwa kini dirinya berada di tempat baru dengan segala sesuatu yang begitu asing baginya. Menjalani hidup berdua dengan ayahnya, tanpa peran seorang ibu. Perasaan itu terasa begitu asing, perasaan itu bernama hampa.
Humaira Mishary Rasyid, seorang putri yang memiliki seorang ayah bernama Imran Rasyid, dan ibu bernama Habiba. Namun sang ibu sudah terlebih dahulu meninggal dunia satu tahun lalu, tidak hanya meninggalkan dunia, namun juga meninggalkan sosok gadis bernama Humaira. Dia hanya seorang gadis berparas teduh, berhati cantik dengan segala kesederhanaan yang menyelimuti dirinya.
Sementara disebelah kamar gadis itu terdapat pula ruangan yang juga sebagai kamar. Warnanya senada dengan warna rumah sederhana ini. Pemilik kamarnya adalah seorang pria paruh baya yang sedang duduk ditepi ranjang, mata teduhnya sedang menatap foto seorang wanita yang mengenakan baju dan hijab yang berwarna biru muda. Fotonya ia genggam erat dikedua tangannya, wanita didalam foto tersebut tersenyum begitu manis seperti memberi isyarat untuk tidak boleh bersedih pada sesiapapun yang menatapnya. Pria paruh baya tersebut kemudian tersenyum, senyum yang diberikan untuk kehidupannya saat ini.
Pria itu keluar kamarnya, saat baru saja menutup pintunya, matanya tertuju pada sepotong papan berwarna biru yang tertempel pada pintu kamarnya. Papan tersebut bertuliskan 'Abi Imran' dengan hiasan kecil dibagian sisinya.
Ia kembali tersenyum melihat benda tersebut, putrinya begitu rajin sampai-sampai kamar saja diberi nama. Ia lalu melihat pintu kamar anak gadisnya yang berada tepat di sebelahnya, disana juga terdapat papan yang berwarna biru dan bertuliskan 'Humaira'. Itu adalah tulisan tangan anaknya, ia menulisnya dengan spidol berwarna hitam.
"Rara, cepat nak" panggil sang pria pemilik rumah pada putrinya.
Gadis yang ada didalam kamar melebarkan matanya, terkejut mendengar panggilan ayahnya. Cepat-cepat ia meninggalkan cermin yang masih ditatapnya dan keluar kamar untuk memenuhi panggilan ayahnya.
Lalu terlihatlah gadis manis yang sedang menutup pintunya pelan-pelan sekali, ia tidak ingin ada suara gebrakan pintu yang membuat ayahnya tersinggung. Setelah pintu tertutup sempurna tanpa menimbulkan suara, ia membalikkan badannya dan menatap ayahnya.
"Assalamualaikum, Abi. Selamat pagi" ucapnya dengan tersenyum.
Seseorang yang dipanggil Abi oleh putrinya itu tersenyum, menjawab salam sang putri. Ia mengelus kepala putrinya yang terbalut hijab. Putrinya sudah bukan anak kecil lagi, tapi dimatanya putrinya akan selalu menjadi gadis kecil yang akan dicurahkan kasih sayang sepenuh jiwanya.
YOU ARE READING
HUMAIRA | Tasbih dan Salib
Spiritual"Bagaimana bisa menjalin rumah tangga, kalau rumah ibadah saja sudah berbeda?" Hanya sebatas imajinasi yang tak memiliki batas. Cerita ini hanya fiktif, hanya ide dari seorang wanita yang teramat dangkal ilmu agamanya. Jika ada yang baik semoga menj...
